Sudah lama sekali gue hiatus dari blog ini. Hahaha...
Harap maklum ya gaes ya, karena menulis blog itu menurut gue perlu effort yang lebih besar dibandingkan mengedit foto atau video. Gue harus mikirin topik apa yang mau gue tulis.
Nah berhubung udah lewat 4 tahun sejak terakhir kali gue nulis blog, emang udah terlalu banyak kejadian yang terlewati tanpa adanya jejak di blog ini. Secara ringkas, dalam 4 tahun ini gue akhirnya menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) gue, melahirkan anak laki-laki gue yang kedua, pindah ke Ambon bersama keluarga kecil gue, mendapat pekerjaan gue yang pertama sebagai dokter spesialis mata, dan pindah lagi ke Jakarta di akhir Desember 2025.
Bagi gue, Tuhan itu adalah PERANCANG YANG SEMPURNA. Tapi, gue merasa gue enggak mengimani itu 100% sebelum gue tiba di Ambon.
Why?
Selama 34 tahun gue hidup, gue selalu beribadah di gereja konvensional yang berlandaskan adat Batak. Dari ajaran dan kotbah yang gue dengar dan gue proses dengan pemikiran gue yang sempit ini selama 34 tahun, gue mengambil kesimpulan bahwa:
Tuhan mengasihi gue kalau gue melakukan hal yang baik di mata Tuhan.
Tuhan makin mengasihi gue kalau gue melakukan lebih banyak hal yang baik di mata Tuhan.
Dua kesimpulan itu yang gue pegang selama 34 tahun gue beribadah di gereja 4 huruf. Dua kesimpulan itu yang memotivasi gue untuk melakukan pelayanan di seksi remaja, seksi pemuda, seksi sekolah minggu, seksi segala rupa. Yang pasti gue seneng banget melayani di gereja. Gue bangga dengan pelayanan yang gue lakukan selama ini untuk gereja yang gue sayangi.
Sampai akhirnya gue harus ikut suami gue pindah ke Ambon.
Yang gue inget kala itu, gue sama sekali enggak khawatir soal rumah tinggal, soal sekolah, ataupun tempat hiburan di Ambon. Yang bikin gue khawatir adalah enggak ada si gereja 4 huruf di Ambon. WHAT?? Kok bisa. Padahal gue kira di tiap provinsi di Indonesia ada si gereja 4 huruf, wong di luar negeri aja ada. Ternyata gue salah gaes. Enggak ada gereja itu di Ambon. Sebagai pengikut garis keras (wkwk), gue cukup getir mengetahui fakta harus lepas dari gereja 4 huruf selama waktu yang tidak dapat ditentukan.
Lalu mulailah gue meriset gereja apa aja yang ada di Ambon. Suami yang udah berangkat duluan ke Ambon, juga ternyata udah melakukan riset kecil-kecilan. Dia cobain tuh aneka gereja di Ambon, dan ternyata hatinya berlabuh di sebuah Gereja Betel di bilangan Halong Atas.
Yup, Gereja Betel. Dalam pikiran gue kala itu, oke gimana gue menghadapi ibadah dengan puji-pujian sambil tepuk tangan dan menangis. Argh, STRES!
Awal-awal mengikut ibadah di gereja itu, gue enggak menikmati sama sekali. Gue risih menyanyikan pujian sambil angkat tangan, tepuk tangan, bahkan menangis. Tapi ternyata di gereja inilah gue mendapatkan insight yang sangat berharga, yang membuat gue mampu menghadapi badai dalam kehidupan gue.
Di gereja ini gue belajar bahwa:
Tuhan mengasihi gue either gue melakukan hal yang baik ataupun enggak baik di mata-Nya.
Kasih Tuhan itu sifatnya bukan transaksional. Gue menerima rezeki bukan karena gue baik, gue mengalami penderitaan bukan karena gue enggak baik sehingga dihukum oleh Tuhan. Tapi semua yang gue alami adalah bagian dari RENCANA BESAR TUHAN dan rencana besar Tuhan itu adalah rancangan DAMAI SEJAHTERA (Yer 29:11-14). Yang perlu gue lakukan adalah menyerahkan diri gue untuk dibentuk.
Seperti yang Bapak Pendeta kutip dari penulis buku "The Purpose Driven Life", Pastor Rick Warren: "The first purpose of your life is to be loved by God."
Dia enggak lebih sayang sama orang beriman dan kurang sayang sama orang yang begajulan. Dia enggak bisa memungkiri hakikat-Nya bahwa Ia adalah KASIH YANG SEMPURNA.
Pahit dan manisnya kehidupan adalah cara Tuhan mengasihi kita. Sekarang bagaimana kita meresponi kasih-Nya? Memang pikiran manusia yang sempit enggak akan bisa mendalami rancangan Tuhan, tapi iman kita bisa meresponi dengan cara yang positif. Trust and obey.
Sekarang, sudah 1 bulan lebih gue kembali ke Jakarta. Jujur aja, di Ambon kehidupan kami sangat nyaman dan cukup. Puji Tuhan. Nah, meninggalkan zona nyaman dan kestabilan ekonomi itu berat loh sob! Dan sekarang pun ternyata gue belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi gue. Khawatir? manusiawi sih, karena dapur tetap harus ngebul kan ya. Apalagi dengan expense yang harus dikeluarkan untuk perpindahan ini. Tapi gue yakin Tuhan punya maksud lain. Dia enggak mungkin mencurangi gue. Dia sayang gue.
Gue yakin 10 tahun dari sekarang, gue akan tersenyum membaca blog ini. Tersenyum karena rencana Tuhan baik dan indah.
Gue juga berharap blog ini membawa insight baru untuk para pembacanya yang sedang merasa putus asa. Buat yang sedang bertanya-tanya, kenapa hal ini terjadi sama gue Tuhan? Jawabannya satu. Karena Tuhan sayang lo. Titik. Tuhan punya rancangan DAMAI SEJAHTERA. Walapun sekarang lo merasa hidup lo diobrak-abrik, amburadul, dan berantakan, tapi berita bagusnya cuma ada satu scene ending buat anak Tuhan: DAMAI SEJAHTERA. Amin!
Thank you for the lesson, Ambon Manise!
NB: terima kasih untuk Ps. Chris Manusama dan Ps. Yotty Manusama dari GBI Rock Ambon.
No comments:
Post a Comment