Thoughts and Things
by Nia A. Sihombing, MD
Thursday, February 5, 2026
Life Chapter: Ambon Manise
Tuesday, September 6, 2022
Menjadi Anak SD dan Orang Tua Anak SD
Tanpa terasa, anak sulung saya sudah memasuki jenjang sekolah dasar. Hampir 2 bulan yang lalu saya hadir di sekolah baru si Abang untuk pertemuan guru dengan orang tua murid. Ketika itu, seorang Suster memimpin doa pembuka (sekolah anak saya adalah sekolah Katolik). Salah satu kalimat dalam doa beliau kurang lebih seperti ini: "Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."
For me, those words are STRONG. Beberapa minggu ini, kalimat dalam doa tersebut selalu terngiang di otak saya. Memasuki jenjang sekolah dasar, saya merasakan betul bahwa pelajaran yang akan dihadapi oleh si Abang akan semakin berat dengan tingkat kerumitan dan jumlah mata pelajaran yang meningkat. Belum lagi, pandemi juga masih berlanjut sehingga pembelajaran jarak jauh bisa saja dijalankan kembali apabila memang jumlah kasus meningkat lagi. Situasi itu membuat saya menjadi anxious. "Apakah anak saya akan bisa menjalaninya?"
Maka mulailah saya mencari-cari tempat les, mengatur sesi belajar di malam hari, karena hanya di malam hari saya bisa mendampingi si Abang belajar. Kadang belajar bersamanya terasa menyenangkan karena kami bisa menikmati waktu berkualitas bersama, tapi di waktu lain belajar bersama terasa sangat berat hingga saya tidak kuasa menahan emosi dan nada tinggi. Kadang ketika nada bicara saya sudah mulai meninggi ketika mengajar, air mata mulai menggenang di kedua mata anak saya. Di titik itulah saya tersadar.
Apa yang sedang saya lakukan?
Apakah saya sudah membuatnya trauma?
Apakah saya memaksakan standar diri saya ke anak kami?
Saya pun terpukul ketika mengingat tatapan si Abang ke saya, ketika saya merasa gemas karena dia belum memahami materi yang saya ajarkan atau ketika tulisan tangannya tidak rapi. Tatapan dengan rasa bersalah. Rasa bersalah yang seharusnya tidak ada. Rasa bersalah yang saya ciptakan dalam dirinya, ketika dia tidak memenuhi ekspektasi saya dalam hal akademis. Padahal kami pun bukan orang tua yang sempurna. Saya dan suami sama-sama bekerja, tidak jarang pulang malam dan tidak jarang keluar kota bahkan keluar negri berbulan-bulan. Tap tak pernah ia bernada tinggi pada kami, tak pernah ia merasa gemas karena orang tuanya tidak ada di sana ketika ia membutuhkan kami.
"Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."
Doa Suster yang saya dengar beberapa waktu lalu, pun akhirnya menjadi bagian dalam doa saya sehari-hari. Anak saya bukan robot ataupun mobil-mobilan yang dapat dikendalikan untuk dapat beradu dengan anak lain. Dia memiliki perasaan, minat, dan juga cara berpikirnya sendiri. Saya sebagai orang tua tidak hanya bertanggung jawab terhadap nilai akademisnya, namun juga memelihara keimanannya dan kesehatan mentalnya.
Saat ini pun saya masih belajar merubah pola pikir saya. Anak kami bukanlah versi kecil dari kami. Ia mempunyai perjalanan hidupnya sendiri. Saya hanya bertugas mendampingi dan mengasihinya sehingga ia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan berdasarkan standar saya. Les dan belajar bersama bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, namun harusnya hal tersebut saya lakukan tanpa emosi dan paksaan.
Bagi orang tua yang sudah memiliki pemahaman ini, saya turut berbahagia. You guys are in the right way. Bagi orang tua yang memiliki kegalauan yang sama, mari kita sama-sama belajar dan berdoa. Berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi anak kita seutuhnya. Semoga Tuhan memberkati anak-anak kita.
Monday, August 16, 2021
Kisah Pendek Tentang Mama
Mamaku lahir 67 tahun yang lalu di Pansur Batu, Tarutung, Sumatera Utara. Mama adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Katanya, dahulu Mama punya Ito (saudara laki-laki) yang meninggal muda. Ayahnya adalah seorang pengusaha minyak kayu putih yang sukses, sementara Mamanya adalah petani yang handal. Dari caranya bercerita tentang Opung Doli (kakek), saya bisa melihat jelas kekaguman Mama akan Ayah tercintanya.
Opung Doli adalah seorang anak laki-laki sulung di keluarganya. Di dalam adat Batak kala itu, anak sulung adalah breadwinner, bukan hanya untuk keluarga intinya, tapi untuk keluarga besarnya. Anak laki-laki sulung juga diharapkan dapat menjadi pemimpin untuk keluarga besar. Dari apa yang kudengar dalam cerita-cerita Mama, aku bisa menarik kesimpulan bahwa Opung Doli berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai anak laki-laki sulung. Opung Doli berhasil dalam pekerjaannya, menafkahi keluarganya, dan membuka lowongan pekerjaan bagi saudara-saudaranya. Sebagai Ayah, Opung Doli adalah sosok yang sangat lembut, penyayang, tidak pernah marah, namun tetap tegas dalam mendidik anak-anaknya. Menariknya, Opung Doli juga pandai memasak. Mamaku bercerita, kalau Opung Doli sudah memasak, wanginya akan memenuhi seisi rumah, dan anak-anaknya akan berbaris menunggu masakan Opung Doli keluar dari dapur. Sebagai pemimpin keluarga besar, Opung Doli juga memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Beliau taat beribadah dan sangat dermawan kepada gereja. Opung Doli pernah mengalami kerugian dalam usahanya, yang disebabkan oleh saudaranya sendiri, namun Opung Doli tidak pernah berhenti berbuat kasih pada saudaranya itu. Saya sangat menyukai ekspresi Mama ketika bercerita tentang Opung Doli, wajahnya pasti berseri-seri dengan mata berbinar penuh kerinduan.
Tanpa Mama sadari, walaupun beliau bukan anak laki-laki apalagi anak sulung, banyak sekali kesamaan yang saya lihat pada dirinya dengan Opung Doli. Mama adalah seorang pengusaha yang luar biasa. Mama tidak bersekolah tinggi. Beliau lulus D1 dari IKIP Jakarta. No fancy title. Tapi dengan masa studi yang sependek itu (relatively, compared to me who spent 5 years to get my MD title and still going through my 3rd year of residency), Mama berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Bahkan sampai usianya saat ini, Mama masih bisa membuka lowongan pekerjaan dan menjadi saluran berkat bagi saudara-saudaranya. Perusahaan Mama memang bukan perusahaan multinasional dengan omset trilyunan, tapi sangat cukup bagi keluarga kami. Dalam pekerjaan, Mama adalah sosok yang disiplin, bahkan galak, namun itu tidak membuatnya menjadi bos yang menakutkan. Pegawai Mama sangat menyayanginya, karena di luar pekerjaan, Mama tidak segan menunjukkan sisi keibuannya. Beliau adalah lady boss sejati!
![]() |
| Mama dan Kedua Kakaknya |
![]() |
| Mama dan Beberapa Sahabatnya |
![]() |
| My Gorgeous Mom |
Oh, I can go on and on and on when telling her stories. Just like the way my Mom admires her Father, I adore her as much. I am so proud of her and always will be. And someday, when my children asked me about their Opung Boru, I will gladly re-read this post.
I love you, Mom.
Tuesday, April 14, 2020
Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah, Ibadah di Rumah, Versiku
Monday, February 24, 2020
Appreciation Post
Saturday, March 23, 2019
The Firstborn
Monday, June 26, 2017
My First Year of Breastfeeding
1. Tabungan
Pertama kali saya memompa ASI adalah 5 hari pasca melahirkan. Payudara saya bengkak dan nyeri. Sahabat sayalah yang mengajarkan cara memompa ASI yang benar. Sejak saat itu mulailah saya menabung ASIP. Selama cuti melahirkan, saya mengumpulkan cukup banyak ASIP tabungan. Ketika saya menyusui Nixon dengan payudara kanan, maka saya juga memompa payudara kiri, begitu pula sebaliknya. Sehari sebelum saya bekerja, ada sekitar 30 botol ASIP dan 60-an kantong ASIP di dalam freezer.
Mitos: Punya tabungan ASIP se-freezer adalah kunci untuk kesuksesan ASI eksklusif.
Fakta: Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan dan membuka buku pelajaran saya dulu, ASI itu unik, karena komposisinya yang berubah setiap saat, sesuai dengan kebutuhan bayi. Misal pada bulan-bulan awal, ASI lebih banyak mengandung protein untuk meningkatkan berat badan bayi, maka pada bulan berikutnya jumlah lemak yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan perkembangan otak. Jadi, sebaiknya jarak antara usia ASIP dan usia bayi enggak terlalu jauh, agar nutrisi yang diberikan pada bayi sesuai dengan kebutuhan di usianya.
Berbekal dari hasil riset, tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk memberi ASIP segar untuk Nixon setiap hari. Jadi, Nixon hampir enggak pernah minum ASIP yang sudah dibekukan (kecuali ketika saya sakit). Nixon minum ASIP yang saya bawa dari kantor sehari/ 2 hari sebelumnya dan hanya disimpan di chiller kulkas. Jadi kemana perginya 30 botol ASIP + 60 kantong ASIP? Some went to the babies who really need it, some went to waste.
2. While Me and My Baby Were Separated
Me:
Saya kembali bekerja tepat setelah cuti melahirkan saya habis, yaitu ketika Nixon berusia 2 bulan 3 minggu. Pertama kali saya memompa ASI di kantor, saya memerlukan waktu 50 menit hingga 1 jam untuk 1 sesi memompa. Berarti hampir 3 jam dari 9 jam waktu kerja saya dihabiskan untuk memompa *salim sama bos* Ternyata waktu saya banyak habis untuk merakit pompa dan mempersiapkannya (cuci, steril, dsb). Setelah membaca info dari Mom Eliz (Instagram: elizabeth.zenifer), akhirnya 1 sesi memompa dapat selesai dalam 30 menit. Triknya, saya enggak melepas lagi rakitan pompa kecuali corongnya. Corong pompa cukup saya simpan dalam plastik ziplock dan masukkan ke dalam kulkas hingga sesi memompa berikutnya. Ringkes banget!
Nah karena jam kerja saya berubah-ubah setiap harinya (saya kerja shift), maka waktu memompa pun berubah-ubah. Biasanya saya memompa 3 kali selama bekerja, yaitu sebelum mulai kerja, saat istirahat makan siang, dan sebelum pulang. Dengan cara ini saya dapat membawa pulang kira-kira sekitar 450-550 ml ASIP setiap hari.
My Baby:
Sebulan sebelum saya bekerja, Nixon sudah saya latih untuk minum ASIP menggunakan botol. Cukup drama sih, karena Nixon enggak langsung mau pakai botol. Setelah sekitar 10 kali mencoba, akhirnya Nixon mahir minum dengan botol. Ketika saya mulai kerja, kapasitas minum Nixon sudah 120 ml. Selama saya tinggal kerja, karena Nixon belum mulai makan MPASI, Nixon bisa minum sebanyak 5 kali. Artinya, selama saya tinggal kerja (kurang lebih 12 jam termasuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat kerja), Nixon menghabiskan sekitar 600 ml ASIP.
Secara perhitungan, ASIP yang saya bawa dari kantor masih defisit. Makanya saya menambah 1 lagi sesi memompa di rumah. Ini saya lakukan hingga Nixon berusia 6 bulan, karena setelah 6 bulan, Nixon sudah mulai MPASI dan kebutuhan ASI-nya "sedikit" berkurang. Oya, karena saya pemalas dalam hal pompa memompa, saya mengusahakan sekali untuk tidak memompa lebih dari 4 kali sehari. Jadi, saya pulang kerja tepat waktu (TENG-GO!) dan go straight home. Enggak ada lagi acara haha-hihi setelah kerja, mampir sana sini, well bisa dibilang kehidupan sosial agak dikorbankan *hiks*. Soalnya, makin lama saya terpisah dengan anak saya, maka makin banyak ASIP yang dia minum dan makin banyak hutang ASI saya, ujung-ujungnya saya harus makin sering pumping deh. Jadi ya, selama setahun ini, saya enggak mau terpisah dari anak saya kecuali ketika kerja atau acara penting (misalnya pertemuan Persit di kantor suami).
3. Things I Can't Go Without
My Breastpump
Saya punya 2 jenis pompa, manual dan elektrik. Pompa manual saya bermerk Pigeon, lungsuran dari kakak sepupu saya. Selama saya cuti melahirkan, inilah pompa yang saya gunakan, karena pompanya ringkes sekali. Pompa listrik saya bermerk Medela Swing, pemberian dari teman saya. Ini pompa yang saya pakai ketika mulai bekerja hingga saat ini.
Cooler Bag + Ice Pack
Sahabatnya pompa ya tas pendingin, untuk membawa perlengkapan memompa dan membawa ASIP. Saya menggunakan tas pendingin Okiedog dengan 2 buah ice pack. Menurut saya semua merk tas pendingin sama saja kok, enggak ada yang lebih superior. Yang penting kompartemennya cukup besar untuk memuat pompa + ice pack + botol ASIP.
Tumbler + Snack
Namanya ibu menyusui, pasti sering haus dan lapar. Oleh karena itu, saya tidak pernah lupa membawa botol minum dan cemilan. Selama di tempat kerja biasanya saya menghabiskan sekitar 2,5 L air putih, belum termasuk minum selama di rumah dan minuman rekreasi seperti susu, teh, dsb. Cemilan yang biasa saya bawa roti-rotian, buah-buahan, es kacang, regal, atau malkist.
Nursing Apron
Sebenarnya apron enggak esensial banget sih, tapi karena dulu waktu hamil saya terlalu terobsesi sama apron lucu, jadilah saya punya 2 apron. Awal-awal memompa di kantor, saya masih rajin pakai apron. Lama-kelamaan, apron pun terhempas...hahaha...segalanya demi efektivitas waktu!
Supplements
Ini juga sama seperti apron, enggak esensial. Saya minum Suplemen jika saya merasa makanan saya hari itu kurang bergizi (contoh: nasi goreng). Saya minum Blackmores for Pregnancy and Breastfeeding, suplemen yang sudah saya minum sejak hamil. Suplemen ini fungsinya bukan untuk meningkatkan jumlah ASI ya (remember, supply by demand). Suplemen ini memastikan bahwa kebutuh mikronutrien saya dan Nixon terpenuhi. Kalau kita makannya udah sehat dan variatif, ya enggak perlu suplemen ya.




