Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Tuesday, September 6, 2022

Menjadi Anak SD dan Orang Tua Anak SD

Tanpa terasa, anak sulung saya sudah memasuki jenjang sekolah dasar. Hampir 2 bulan yang lalu saya hadir di sekolah baru si Abang untuk pertemuan guru dengan orang tua murid. Ketika itu, seorang Suster memimpin doa pembuka (sekolah anak saya adalah sekolah Katolik). Salah satu kalimat dalam doa beliau kurang lebih seperti ini: "Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."

For me, those words are STRONG. Beberapa minggu ini, kalimat dalam doa tersebut selalu terngiang di otak saya. Memasuki jenjang sekolah dasar, saya merasakan betul bahwa pelajaran yang akan dihadapi oleh si Abang akan semakin berat dengan tingkat kerumitan dan jumlah mata pelajaran yang meningkat. Belum lagi, pandemi juga masih berlanjut sehingga pembelajaran jarak jauh bisa saja dijalankan kembali apabila memang jumlah kasus meningkat lagi. Situasi itu membuat saya menjadi anxious. "Apakah anak saya akan bisa menjalaninya?"

Maka mulailah saya mencari-cari tempat les, mengatur sesi belajar di malam hari, karena hanya di malam hari saya bisa mendampingi si Abang belajar. Kadang belajar bersamanya terasa menyenangkan karena kami bisa menikmati waktu berkualitas bersama, tapi di waktu lain belajar bersama terasa sangat berat hingga saya tidak kuasa menahan emosi dan nada tinggi. Kadang ketika nada bicara saya sudah mulai meninggi ketika mengajar, air mata mulai menggenang di kedua mata anak saya. Di titik itulah saya tersadar.

Apa yang sedang saya lakukan?

Apakah saya sudah membuatnya trauma?

Apakah saya memaksakan standar diri saya ke anak kami?

Saya pun terpukul ketika mengingat tatapan si Abang ke saya, ketika saya merasa gemas karena dia belum memahami materi yang saya ajarkan atau ketika tulisan tangannya tidak rapi. Tatapan dengan rasa bersalah. Rasa bersalah yang seharusnya tidak ada. Rasa bersalah yang saya ciptakan dalam dirinya, ketika dia tidak memenuhi ekspektasi saya dalam hal akademis. Padahal kami pun bukan orang tua yang sempurna. Saya dan suami sama-sama bekerja, tidak jarang pulang malam dan tidak jarang keluar kota bahkan keluar negri berbulan-bulan. Tap tak pernah ia bernada tinggi pada kami, tak pernah ia merasa gemas karena orang tuanya tidak ada di sana ketika ia membutuhkan kami.

"Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."

Doa Suster yang saya dengar beberapa waktu lalu, pun akhirnya menjadi bagian dalam doa saya sehari-hari. Anak saya bukan robot ataupun mobil-mobilan yang dapat dikendalikan untuk dapat beradu dengan anak lain. Dia memiliki perasaan, minat, dan juga cara berpikirnya sendiri. Saya sebagai orang tua tidak hanya bertanggung jawab terhadap nilai akademisnya, namun juga memelihara keimanannya dan kesehatan mentalnya.

Saat ini pun saya masih belajar merubah pola pikir saya. Anak kami bukanlah versi kecil dari kami. Ia mempunyai perjalanan hidupnya sendiri. Saya hanya bertugas mendampingi dan mengasihinya sehingga ia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan berdasarkan standar saya. Les dan belajar bersama bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, namun harusnya hal tersebut saya lakukan tanpa emosi dan paksaan.

Bagi orang tua yang sudah memiliki pemahaman ini, saya turut berbahagia. You guys are in the right way. Bagi orang tua yang memiliki kegalauan yang sama, mari kita sama-sama belajar dan berdoa. Berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi anak kita seutuhnya. Semoga Tuhan memberkati anak-anak kita. 

Tuesday, May 16, 2017

Nixon Dibaptis

Satu hal yang saya nanti-nantikan ketika suami saya pulang dari penugasan adalah membawa Nixon untuk dibaptis. Setelah usianya mencapai 11 bulan 3 hari, akhirnya Nixon kami pun menerima Sakramen Baptisan Kudus. Setelah berdiskusi dengan mertua dan orang tua, akhirnya kami memutuskan untuk membawa Nixon dibaptis di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.
 
Sekitar sebulan sebelum hari H, kami menemui pendeta untuk meminta diadakannya Sakramen Baptisan Kudus untuk anak kami. Akhirnya diputuskanlah bahwa Sakramen Baptisan Kudus akan diadakan pada tanggal 14 Mei 2017. Dua hari sebelum tanggal tersebut, saya dan suami mengikuti kelas konseling/ marguru bersama pendeta. Pesan yang dapat saya ambil saat konseling tersebut:
1. Sakramen Baptisan adalah satu dari dua Sakramen yang diakui oleh gereja, yaitu Sakramen Baptisan Kudus dan Sakramen Perjamuan Kudus.
2. Air yang digunakan pada saat Sakramen Baptisan Kudus melambangkan bahwa anak yang dibaptis telah menjadi satu dengan Kristus melalui kematian-Nya.
3. Anak dibaptis berdasarkan iman orang tuanya. Selanjutnya orang tua bertanggung jawab mendidik anaknya hingga saatnya dia mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamatnya (Sidi).
4. Kami harus hapal Pengakuan Iman Rasuli dalam Bahasa Batak! WOOOGHH!
 
Sebenarnya saya cukup hapal dengan Hata Haporseaon, namun mengingat situasinya nanti hanya kami berdua di depan altar yang harus mengucapkannya di depan seluruh jemaat, perut rada mules bok! Pada hari H, kami dapat mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli tersebut dalam Bahasa Batak dengan cukup lancar (tanpa teks loh!). Malahan sepertinya pendeta yang lebih khawatir kami grogi, jadi beliau banyak membisikkan clue-clue. Hahaha...
 
Puji Tuhan Sakramen Baptisan Kudus Nixon berjalan lancar, walaupun saat itu suami saya sedang demam dan Nixon juga sedang pilek + tumbuh gigi kelima dan keenam. Dia memang agak cranky tapi menurut saya cukup kooperatif dengan kondisinya yang sedang enggak prima.
 
Seusai acara Sakramen Baptisan Kudus di gereja, seperti keluarga Batak lainnya, kami pun mengadakan acara syukuran di sebuah restoran di Kelapa Gading. Acara syukuran tersebut dibarengi dengan acara adat "Pasahaton Ulos Parompa" oleh Ompung Bao (orang tua saya) dan Tulangnya Nixon (ito saya). Ulos Parompa sendiri adalah sebuah kain yang digunakan untuk menggendong bayi, namun saat ini Ulos Parompa adalah simbol kasih sayang Ompung Bao terhadap cucunya (saya juga enggak mau sih gendong Nixon pake ulos, kaku cyin!)
 
Jadi, urutan acara Syukuran Baptisan Nixon kemarin adalah sebagai berikut (dengan sahut menyahut antar protokol in between):
1. Kami beserta Dongan Tubu menyambut Hula-Hula dan Tulang (Tulang saya dan Tulang suami).
2. Ibu saya mangumpa/ memberi saya dan suami saya makan nasi dan ikan mas (again...)
3. Hula-Hula menyampaikan ikan mas kepada keluarga kami + ayah saya menuangkan beras (Sipir Ni Tondi) di atas kepala kami
4. Kami (Dongan Tubu) menyampaikan Tudu-Tudu Sipanganon kepada Hula-Hula
5. Makan siang bersama
6. Pasahaton Ulos Parompa
7. Pasahaton Piso-Piso
8. Pasahaton Hata Poda (aka mandok hataaa...)
9. Mangampu Hula-Hula dohot Tulang (alias ucapan terima kasih)
 
Acara syukuran berlangsung dari pukul 12.00 hingga 16.00. Walaupun acaranya relatif lebih pendek daripada acara adat Batak lainnya, tapi entah kenapa badan saya remuk redam. Suami makin demam, Nixon juga makin pilek *wannacry*. Mungkin faktor usia *hiks*, mungkin juga karena saya jaga malam semalam sebelumnya. Tapi saya bangga loh bisa menggunakan kebaya dari pagi hingga sore sambil tetap menyusui Nixon di sela-sela acara.Enggak gampang!
 
Yang pasti, kami bersyukur telah menyerahkan Nixon pada Tuhan melalui Baptisan Kudus. Tugas berat menanti di hadapan kami, yaitu mendidik Nixon menjadi anak yang takut akan Tuhan, sekaligus membimbingnya untuk mengenal Tuhan kami yang penuh kasih. Semoga anak kami mengalami indahnya kasih Tuhan dalam hidupnya, sama seperti yang kami alami. Selamat ya, Nak!
 
 
 
 
Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading

Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi
Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th

Monday, April 24, 2017

Mama's First Night Shift After Giving Birth to Nixon

Finally, I got my night shift again. It felt terrible, not because I wouldn't sleep all night long, it's because I couldn't spend it with my baby. Nixon is still breastfed 2-3 times at night and he has to sleep really close to me, sometimes he pushes me to the end of the bed until I almost hit the floor. Well, I guess it's the risk I have to take for my profession. I do believe my son has the greatest Caretaker, stronger than me, more loving than me, and never misses one second watching over him and even me and the whole world :)

Good night world, keep up your good health.

Thursday, December 31, 2015

Christmas 2015

Setelah drama tanggal 24 Desember berakhir dan saya sudah mengisi ulang tenaga di malam harinya, tibalah Hari Natal yang ditunggu-tunggu! Hohoho... Natal pertama saya sebagai istri, menantu, dan kakak ipar! *yeay*

Saya bersama keluarga Hutajulu mengikuti ibadah Natal di HKBP Cimahi jam 11 pagi. Nanggung banget yah pas sebentar lagi jam makan siang. Huhuhu... Untuk antisipasi kelaparan di tengah ibadah, saya sudah membawa beberapa kue kering dan susu kotak.

Kostum Natal tahun ini tidak ada yang istimewa. Semenjak menikah memang suami memberi mandat bahwa kostum kami harus senada setiap ke gereja, sama seperti kedua mertua saya. Oh, okay kayaknya batik gampang disesuaikan, angan saya.
Pinkish in-Laws + Reddish Us + Yellow Bro in Law
Sempet-sempetnya foto sama Pendeta!

Ternyata seminggu sebelum Natal, suami mendapat hadiah Natal kemeja merah dari mama saya (jangan tanya saya dapat atau nggak. Hiks!). Akhirnya saya pun membawa gaun merah lama saya untuk menyesuaikan warna kemeja suami.

Sepulang dari ibadah, kami makan siang bersama di rumah mertua, mengobrol, lalu tidur siang. Sorenya suami mengajak saya berkunjung ke rumah komandannya di Gumil. Kebetulan komandan suami juga seorang Nasrani, maka berangkatlah kami ke rumah beliau untuk ber-Natal bersama.

Saya agak heboh sebelum berangkat ke rumah komandan suami, khawatir kesan pertama saya jelek di mata komandan (apalagi bu komandan. Glek!). Rok saya kependekkan nggak? Serius enggak apa-apa digerai rambutnya? Dan seterusnya saya meracau di jalan menuju rumah komandan suami. Ehh... Puji Tuhan ternyata komandan suami beserta istri sangat santai. Mereka sangat menyenangkan dan suka bercanda. Sebelum kami, sudah ada beberapa senior abang yang juga datang untuk mengucapkan selamat Natal. Akhirnya kami makan-minum dan mengobrol sampai jam 9 malam. Kami pun pamit pulang karena besok pagi harus berangkat pagi-pagi sekali ke Jakarta. My best friend is getting married! Wohoo...
Ber-Natal bersama rekan kerja suami :)

To make it short, it's not bad at all to celebrate Christmas with the in-laws. Justru Natal kali ini terasa berbeda karena saya bisa mengenal keluarga dan rekan-rekan kerja suami lebih jauh. Hehehe. After all, Christmas is not about the festivities, right? It is about caring and sharing with the closest persons in your life.

Merry Christmas all! God bless you!