Showing posts with label adat batak. Show all posts
Showing posts with label adat batak. Show all posts

Tuesday, May 16, 2017

Nixon Dibaptis

Satu hal yang saya nanti-nantikan ketika suami saya pulang dari penugasan adalah membawa Nixon untuk dibaptis. Setelah usianya mencapai 11 bulan 3 hari, akhirnya Nixon kami pun menerima Sakramen Baptisan Kudus. Setelah berdiskusi dengan mertua dan orang tua, akhirnya kami memutuskan untuk membawa Nixon dibaptis di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.
 
Sekitar sebulan sebelum hari H, kami menemui pendeta untuk meminta diadakannya Sakramen Baptisan Kudus untuk anak kami. Akhirnya diputuskanlah bahwa Sakramen Baptisan Kudus akan diadakan pada tanggal 14 Mei 2017. Dua hari sebelum tanggal tersebut, saya dan suami mengikuti kelas konseling/ marguru bersama pendeta. Pesan yang dapat saya ambil saat konseling tersebut:
1. Sakramen Baptisan adalah satu dari dua Sakramen yang diakui oleh gereja, yaitu Sakramen Baptisan Kudus dan Sakramen Perjamuan Kudus.
2. Air yang digunakan pada saat Sakramen Baptisan Kudus melambangkan bahwa anak yang dibaptis telah menjadi satu dengan Kristus melalui kematian-Nya.
3. Anak dibaptis berdasarkan iman orang tuanya. Selanjutnya orang tua bertanggung jawab mendidik anaknya hingga saatnya dia mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamatnya (Sidi).
4. Kami harus hapal Pengakuan Iman Rasuli dalam Bahasa Batak! WOOOGHH!
 
Sebenarnya saya cukup hapal dengan Hata Haporseaon, namun mengingat situasinya nanti hanya kami berdua di depan altar yang harus mengucapkannya di depan seluruh jemaat, perut rada mules bok! Pada hari H, kami dapat mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli tersebut dalam Bahasa Batak dengan cukup lancar (tanpa teks loh!). Malahan sepertinya pendeta yang lebih khawatir kami grogi, jadi beliau banyak membisikkan clue-clue. Hahaha...
 
Puji Tuhan Sakramen Baptisan Kudus Nixon berjalan lancar, walaupun saat itu suami saya sedang demam dan Nixon juga sedang pilek + tumbuh gigi kelima dan keenam. Dia memang agak cranky tapi menurut saya cukup kooperatif dengan kondisinya yang sedang enggak prima.
 
Seusai acara Sakramen Baptisan Kudus di gereja, seperti keluarga Batak lainnya, kami pun mengadakan acara syukuran di sebuah restoran di Kelapa Gading. Acara syukuran tersebut dibarengi dengan acara adat "Pasahaton Ulos Parompa" oleh Ompung Bao (orang tua saya) dan Tulangnya Nixon (ito saya). Ulos Parompa sendiri adalah sebuah kain yang digunakan untuk menggendong bayi, namun saat ini Ulos Parompa adalah simbol kasih sayang Ompung Bao terhadap cucunya (saya juga enggak mau sih gendong Nixon pake ulos, kaku cyin!)
 
Jadi, urutan acara Syukuran Baptisan Nixon kemarin adalah sebagai berikut (dengan sahut menyahut antar protokol in between):
1. Kami beserta Dongan Tubu menyambut Hula-Hula dan Tulang (Tulang saya dan Tulang suami).
2. Ibu saya mangumpa/ memberi saya dan suami saya makan nasi dan ikan mas (again...)
3. Hula-Hula menyampaikan ikan mas kepada keluarga kami + ayah saya menuangkan beras (Sipir Ni Tondi) di atas kepala kami
4. Kami (Dongan Tubu) menyampaikan Tudu-Tudu Sipanganon kepada Hula-Hula
5. Makan siang bersama
6. Pasahaton Ulos Parompa
7. Pasahaton Piso-Piso
8. Pasahaton Hata Poda (aka mandok hataaa...)
9. Mangampu Hula-Hula dohot Tulang (alias ucapan terima kasih)
 
Acara syukuran berlangsung dari pukul 12.00 hingga 16.00. Walaupun acaranya relatif lebih pendek daripada acara adat Batak lainnya, tapi entah kenapa badan saya remuk redam. Suami makin demam, Nixon juga makin pilek *wannacry*. Mungkin faktor usia *hiks*, mungkin juga karena saya jaga malam semalam sebelumnya. Tapi saya bangga loh bisa menggunakan kebaya dari pagi hingga sore sambil tetap menyusui Nixon di sela-sela acara.Enggak gampang!
 
Yang pasti, kami bersyukur telah menyerahkan Nixon pada Tuhan melalui Baptisan Kudus. Tugas berat menanti di hadapan kami, yaitu mendidik Nixon menjadi anak yang takut akan Tuhan, sekaligus membimbingnya untuk mengenal Tuhan kami yang penuh kasih. Semoga anak kami mengalami indahnya kasih Tuhan dalam hidupnya, sama seperti yang kami alami. Selamat ya, Nak!
 
 
 
 
Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading

Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi
Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th

Wednesday, December 23, 2015

Hari Lajang Terakhir dan Kak Sofia

Yayaya... Hampir empat bulan sudah berlalu dari pernikahan saya dan saya baru menulis ceritanya hari ini! Hahahaha procrastinator sejati!
Satu hari sebelum pernikahan saya, saya putuskan untuk mengambil cuti untuk menenangkan diri di rumah. Saya menonton TV, masker muka, scrubbing, suntik vitamin B kompleks dan memasang cat kuku. Untuk pilihan warna cat kuku, saya memilih warna merah dengan aksen french manicure warna emas. Sederhana. Saya pun memilih menggunakan kuku sendiri karena takut kuku saya tiba-tiba lepas saat menyalami orang banyak.
Findry sang tukang kuku (@paintitnails) tiba di rumah jam 7 malam, di mana saya dan mama udah cranky berat karena kami mau tidur cantik (akhirnya enggak tidur juga, sih...) Kuku mama langsung dikerjain dalam waktu 1 jam, sementara kuku saya dikerjakan dalam 1,5 jam. Alhasil kami baru masuk kamar masing-masing jam 9.30 malam. Sang pandongani, aka Lia, sahabat saya sejak sekolah minggu, sudah stand by di rumah sejak jam 6 sore. Ya, saya sudah mewanti-wanti dari jauh hari, Lia harus tidur sama saya semalam sebelum hari pernikahan.
Di kamar, bukannya langsung tidur, saya malah ngobrol kesana kemari dengan Lia. Sambil menyusun pakaian untuk dibawa sepulang pesta (iya, saya enggka pulang ke rumah lagi setelah pesta...hiks) dan untuk bulan madu. Ohlala...segala macam lingerie kami bahas...hahaha... lalu setelah itu kami tidur. NAAAH! Selesai packing instead of tidur saya malah memasangkan cat kuku untuk Lia. Iya, baru dengar kan, pengantin yang memasangkan cat kuku untuk Pandongani?
Alhasil segala kerecokan kami diakhiri pukul 00.30 pagi, kami berdua tidur lelap sampai... Jam 3 pagi saya dibangunkan oleh mbak di rumah! Sambil mengetuk pintu dia berseru, "Non, periasnya sudah sampai." Huaooo...tiba juga harinya, 28 Agustus 2015!!!
Harapan saya dulu bisa bangun dengan cantik, berdoa, lalu melenggang manis ke kamar mandi sebelum disulap jadi barbie. Realitas: bangun-bangun perut mules, langsung mandi ala kadarnya, dan lari-lari ke kamar mama, karena di sanalah saya akan dirias oleh Kak Sofia. Kak Sofia ternyata tiba lebih cepat dari perjanjian, yang dibilang akan datang jam 3.30. Akhirnya jam 3.15 saya mulai disulap oleh Kak Sofia. Mama dan mertua saya pun ternyata sudah berangkat ke Salon Okta di pulomas untuk dirias. Mama memang dari awal tidak mau didandani oleh Kak Sofia karena dia belum pernah mencoba, tapi percayalah setelah melihat hasil riasan saya diapun mengakui kemampuan Kak Sofia.
Setelah dirias dan disanggul selama 1,5 jam Kak Sofia mengatakan harus ganti pasien dulu. Triknya adalah dia harus mendandani orang lain dulu sebelum merias saya lagi. "Supaya tahu di mana yang kurang," katanya. Alhasil saya rehat sejenak sambil mengisi perut dengan teh manis. Setelah mematut diri di kaca, jantung saya baru mulai berdegup cepat. SAYA AKAN MENIKAH!
Make up Kak Sofia untuk hari pernikahan saya berbeda jauh dengan make up saat Martumpol. Kalau orang-orang bilang make up Martumpol terlalu soft, maka kali ini kak Sofia lebih berani untuk "mengelir" muka saya. Riasan mata, blush on, dan warna lipstik yang dipakai lebih bold. Tatanan rambut untuk pemberkatan sesuai dengan permintaan saya, yaitu dengan belahan menyamping untuk menyesuaikan bentuk wajah saya yang memanjang. Bunga mawar di rambut juga sesuai permintaan, yaitu mawar putih. Saya suka sekali dengan hasil make up pada saat pemberkatan.
Setelah Ibadah Pemberkatan selesai pukul 11.00 kami langsung bergegas menuju Gedung Mulia & Raja untuk acara Pesta Unjuk. Saya takut terlambat untuk datang, karena hari itu dan adalah hari Jumat dan jalanan Jakarta di hari Jumat seringkali tidak manusiawi. Untungnya ada seorang bapak PM yang mengiringi mobil pengantin dengan motor besar yang berbunyi tetotetot (voorijder kalo kata orang bule). Hehehe..
Setibanya di gedung, tepatnya pukul 11.30, ternyata Kak Sofia sudah menanti saya di ruang pengantin. Syukurlah, saya tidak harus menunggu untuk di touch up. Saya langsung duduk di depan kaca dandan dan Kak Sofia tidak menunggu lebih lama lagi untuk mendandani saya.
Untuk hair do dan make up saat Pesta Unjuk, saya sudah mengingatkan Kak Sofia sebelumnya bahwa saya ingin poni saya ditarik ke belakang semua karena saya akan menggunakan sortali. Bunga mawar di rambut pun diganti menjadi warna merah, dan ditambahkan dengan sepasang roncean melati, satu panjang sampai dada, satunya pendek sebahu. Saya pun meminta Kak Sofia untuk mengganti warna lipstik saya menjadi warna merah supaya lebih cerah. Awalnya sih saya kurang pede dengan warna merah ini karena takut bibir saya terlalu dominan dibanding seluruh wajah, tapi dengan kelihaian Kak Sofia... Jreng! Entah kenapa bentuk bibir saya jadi bagus dan warnanya pun bagus! Hihihi... Senang dan puas!
Akhirnya jam 12.00 kami pun dipanggil oleh panitia untuk memasukki gedung. Saya berterima kasih banyak sama Kak Sofia karena berkat riasannya, saya makin percaya diri untuk melangkah masuk ke gedung.
Untuk ketahanan make up, Kak Sofia enggak perlu diragukan lagi. Dia udah pakem banget sama pesta batak yang pastinya seharian (sigh...). Jadi riasan saya tetep on sampai malam hari (pesta selesai jam 20.00) bahkan sampai acara manjalo parumaen di hotel (jam 22.00). Paling banter hidung saya saja yang agak mengkilat karena minyak, tapi itu pun sangat dimaklumi karena tipe wajah saya yang berminyak.
To make it short, menurut saya inilah kelebihan Kak Sofia sebagai seorang make up artist:
1. Profesional. Seminggu sebelum hari H, Kak Sofia mengajak saya untuk ketemu dan membahas rencana make up saya untuk hari H. She really wrote all the details on her notebook! Dia datang tepat waktu ke rumah dan ke gedung, bahkan lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Hasil make up pun sesuai dengan permintaan saya.
2. Harga bersaing. Ini sih sebenarnya alasan kuat saya untuk mempercayakan riasan hari H kepada kak Sofia. Dengan harga yang sangat terjangkau, semua pengantin bisa disulap jadi manglingi. Bagi saya pribadi, make up yang bagus tidak harus selangit harganya, dan Kak Sofia proved it!
3. Kepribadiannya menyenangkan! Walaupun suka lama bales whatsapp dan kalau bales sepitik-sepitik, tapi ternyata Kak Sofia sangat ramah dalam kehidupan nyata. Hehehe... Dia mengajak saya ngobrol terus selama dirias untuk mengurangi rasa grogi, dan juga memberi pujian supaya saya percaya diri. Pokoknya keibuan deh. Hehehe...
Me with the make up artist...cucok kan?

Wednesday, October 7, 2015

Acara Adat Batak III: Partumpolon dan Martonggo/ Maria Raja

Ola! Mrs. Hutajulu's here! 😂

Yayaya.. akhirnya saya menikah!
How does it feel? Orang tua pasti akan bilang, bulan pertama pasti terasa indah kan? Hehehe.. Ya, bener sih. Tapi rasanya "baru" lebih tepat menggambarkannya. Saya merasa "baru".

Well, let's keep it as secret now, karena bukan itu topik postingan saya kali ini. Saya mau berbagi tentang pengalaman saya menjalani proses "Partumpolon/ Ikat Janji Pernikahan" dan Martonggo Raja. Nia, kenapa baru sekarang posting soal Martumpol? Basi kali! Hehehe.. Mungkin ada yang berpikir seperti itu ya? Yah, saya baru punya kesempatan sekarang dan saya ingin mengabadikan momentum ini untuk orang-orang yang akan membacanya kelak; para calon pengantin, peminat budaya Batak, dan calon-calon anak saya... 😊

Sebenarnya, tidak semua orang menjalani proses ini. Awalnya, tradisi ini dilaksanakan oleh jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai upaya untuk meneliti kesiapan hati calon pengantin dan menyelidiki adanya hal-hal yang mungkin menghalangi proses pernikahan. Memang telah terjadi pergeseran dari makna Partumpolon itu sendiri. Dahulu, Partumpolon diadakan secara sederhana, hanya dihadiri oleh calon pengantin, orang tua calon pengantin, penatua, dan pendeta. Namun, saat ini Partumpolon diadakan sebagai acara akbar dan melibatkan banyak orang.

Hal yang sama terjadi pada Acara Partumpolon saya. Acara sakral itu berlangsung pada tanggal 8 Agustus 2015 di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading. Begitu banyak orang yang hadir, hingga memenuhi lantai 1 dan lantai 2 gereja. Aku mengambil tema nuansa "mint green". Mulai dari kebaya saya, cat kuku saya, kemeja abang, hingga sampul buku acara, semua bernuansakan warna "mint green".

Jujur saja, saya merasa lebih tegang saat Acara Partumpolon. Entah kenapa, jantung saya berdegup kencang saat prosesi masuk gereja hendak dimulai. Rasanya kaki saya lemas dan perut saya terkocok saat saya melangkah masuk ke dalam gereja bersama abang. Mungkin karena pandangan para teman dan keluarga yang memandangi kami berdua, mungkin juga karena saya harus menggunakan sendal tinggi yang tidak pernah saya pakai. Hahaha...

Singkat kata, karena kebaikan Tuhan, Acara Partumpolon berjalan lancar. Sempat terjadi mati lampu di awal acara selama kurang lebih 3 menit, tapi puji Tuhan semua teratasi dengan baik. Pada inti Acara Partumpolon, saya dan abang menyatakan kesungguhan hati kami untuk membangun pernikahan Kristen, kami juga menyatakan bahwa kami tidak terlibat hubungan perkawinan dengan siapapun, dan menyatakan kasih kami satu sama lain dalam bentuk tukar cincin.  Saya ingat cincin abang mendadak terlalu kecil sehingga dia membantu saya untuk memasangkan cincin bertuliskan "NIA" itu di jarinya. Hihihi...

Seusai Partumpolon, acara dilanjutkan dengan makan sore bersama kemudian Martonggo Raja. Martonggo Raja adalah istilah untuk pihak yang marhobas di Pesta Unjuk/ Ulaon Na Gok karena semenjak Marhori-Hori Dinding sudah disepakati bahwa Pesta Untuk ini menganut Alap Jual (pesta diadakan oleh keluarga pengantin perempuan). Sementara itu, pihak pengantin laki-laki (yang tidak mengadakan pesta) mengadakan acara Maria Raja. Untuk efektivitas, acara Martonggo Raja dan Maria Raja dilaksanakan di Ruang Serbaguna Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.

Inti dari acara Martonggo Raja dan Maria Raja adalah koordinasi akhir dalam keluarga. Dalam acara itu Raja Parhata menjelaskan runtutan acara Pesta Unjuk agar keluarga mengetahui di mana mengambil peran. Memang pesta pernikahan Batak adalah benar-benar acara keluarga. Semua saudara pasti terlibat ambil bagian dalam Pesta Unjuk. Saya sendiri tidak banyak terlibat dalam perbincangan ini, karena lebih banyak berfoto bersama abang dengan fotografer Mas Micko dari Mitra Photo.

Pengalaman saya, rasa stress, tegang, dan sensitif lebih banyak berkurang setelah Acara Partumpolon. Saya lebih tenang menghadapi pernikahan, dan merasa yakin bahwa abang adalah pria terbaik untuk menjadi partner saya mengarungi biduk rumah tangga. Untuk para calon pengantin yang masih mempersiapkan diri menghadapi Partumpolon, jangan lupa untuk berdoa ya. Berdoalah yang sungguh-sungguh, minta Tuhan campur tangan dalam acaramu. Selain itu jaga kesehatan dengan makan seimbang, istirahat cukup, dan minum air putih yang banyak. Untuk hari H, bawa barang seperlunya saja, seperti uang persembahan, tissue, lipstik, dan emergency things seperti lem kuku (bagi yang menggunakan kuku palsu), plester, dan obat sakit kepala.

Vendors:
Dekor: Toko Bunga Cikini, Cikini
Cincin: Toko Mahkota, Cikini
Kotak cincin: Iris Seserahan, Malang (@irisseserahan)
Buku acara: Family Printing, Rawamangun
Fotografer: Mas Micko (@mitraphoto)