Showing posts with label pernikahan. Show all posts
Showing posts with label pernikahan. Show all posts

Monday, April 4, 2016

Menjadi Istri Prajurit

Mungkin banyak orang bilang menjadi istri prajurit itu keren, tapi saya yakin enggak akan ada yang bilang menjadi istri prajurit itu gampang. Ketika saya memutuskan untuk menikah dengan seorang prajurit, ketika itu juga saya menyatakan ikhlas untuk menanggung semua risikonya.

Saya harus ikhlas ketika suami saya harus pergi bertugas ke luar kota (atau keluar negeri) selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Saya harus ikhlas ketika banyak momen penting dalam keluarga yang harus saya jalani sendiri; ulang tahun, ulang tahun pernikahan, bahkan... kelahiran anak.

Saya harus ikhlas ketika saya harus melakukan segala sesuatu sendiri; bekerja, mengurus rumah, bersosialisasi dengan keluarga besar, dan berorganisasi.

Saya harus ikhlas ketika saya harus menggantikan peran suami saya dalam keluarga; sebagai bapak, sebagai abang, sebagai anak, dan sebagai sahabat.

Menjadi istri prajurit adalah tantangan yang besar dan membutuhkan kerja keras. Dulu, tidak pernah terpikir oleh saya akan menjalani kehidupan sebagai istri prajurit yang menurut saya kaku dan penuh aturan. Tapi siapa sangka, saat ini saya justru menjadi bagian dari keluarga militer.

Walaupun berat, saya bersyukur dipertemukan dengan suami saya. Tuhan memang memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan inginkan. Saya bersyukur untuk pembelajaran yang saya dapatkan melalui kehidupan saya sebagai istri prajurit. Saya bersyukur untuk suami yang menerima kekurangan saya dan bahkan selalu mendorong saya untuk terus belajar. Dia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi istri prajurit yang terbaik, namun penerimaannya itulah yang justru memotivasi saya untuk menjadi lebih baik lagi. Suami saya adalah anugerah Tuhan untuk saya! :)

Untuk para istri prajurit, para perempuan terpilih, semoga kita bisa terus mendampingi dan mendukung suami masing-masing dalam pengabdiannya. Semangat!

Wednesday, December 23, 2015

Hari Lajang Terakhir dan Kak Sofia

Yayaya... Hampir empat bulan sudah berlalu dari pernikahan saya dan saya baru menulis ceritanya hari ini! Hahahaha procrastinator sejati!
Satu hari sebelum pernikahan saya, saya putuskan untuk mengambil cuti untuk menenangkan diri di rumah. Saya menonton TV, masker muka, scrubbing, suntik vitamin B kompleks dan memasang cat kuku. Untuk pilihan warna cat kuku, saya memilih warna merah dengan aksen french manicure warna emas. Sederhana. Saya pun memilih menggunakan kuku sendiri karena takut kuku saya tiba-tiba lepas saat menyalami orang banyak.
Findry sang tukang kuku (@paintitnails) tiba di rumah jam 7 malam, di mana saya dan mama udah cranky berat karena kami mau tidur cantik (akhirnya enggak tidur juga, sih...) Kuku mama langsung dikerjain dalam waktu 1 jam, sementara kuku saya dikerjakan dalam 1,5 jam. Alhasil kami baru masuk kamar masing-masing jam 9.30 malam. Sang pandongani, aka Lia, sahabat saya sejak sekolah minggu, sudah stand by di rumah sejak jam 6 sore. Ya, saya sudah mewanti-wanti dari jauh hari, Lia harus tidur sama saya semalam sebelum hari pernikahan.
Di kamar, bukannya langsung tidur, saya malah ngobrol kesana kemari dengan Lia. Sambil menyusun pakaian untuk dibawa sepulang pesta (iya, saya enggka pulang ke rumah lagi setelah pesta...hiks) dan untuk bulan madu. Ohlala...segala macam lingerie kami bahas...hahaha... lalu setelah itu kami tidur. NAAAH! Selesai packing instead of tidur saya malah memasangkan cat kuku untuk Lia. Iya, baru dengar kan, pengantin yang memasangkan cat kuku untuk Pandongani?
Alhasil segala kerecokan kami diakhiri pukul 00.30 pagi, kami berdua tidur lelap sampai... Jam 3 pagi saya dibangunkan oleh mbak di rumah! Sambil mengetuk pintu dia berseru, "Non, periasnya sudah sampai." Huaooo...tiba juga harinya, 28 Agustus 2015!!!
Harapan saya dulu bisa bangun dengan cantik, berdoa, lalu melenggang manis ke kamar mandi sebelum disulap jadi barbie. Realitas: bangun-bangun perut mules, langsung mandi ala kadarnya, dan lari-lari ke kamar mama, karena di sanalah saya akan dirias oleh Kak Sofia. Kak Sofia ternyata tiba lebih cepat dari perjanjian, yang dibilang akan datang jam 3.30. Akhirnya jam 3.15 saya mulai disulap oleh Kak Sofia. Mama dan mertua saya pun ternyata sudah berangkat ke Salon Okta di pulomas untuk dirias. Mama memang dari awal tidak mau didandani oleh Kak Sofia karena dia belum pernah mencoba, tapi percayalah setelah melihat hasil riasan saya diapun mengakui kemampuan Kak Sofia.
Setelah dirias dan disanggul selama 1,5 jam Kak Sofia mengatakan harus ganti pasien dulu. Triknya adalah dia harus mendandani orang lain dulu sebelum merias saya lagi. "Supaya tahu di mana yang kurang," katanya. Alhasil saya rehat sejenak sambil mengisi perut dengan teh manis. Setelah mematut diri di kaca, jantung saya baru mulai berdegup cepat. SAYA AKAN MENIKAH!
Make up Kak Sofia untuk hari pernikahan saya berbeda jauh dengan make up saat Martumpol. Kalau orang-orang bilang make up Martumpol terlalu soft, maka kali ini kak Sofia lebih berani untuk "mengelir" muka saya. Riasan mata, blush on, dan warna lipstik yang dipakai lebih bold. Tatanan rambut untuk pemberkatan sesuai dengan permintaan saya, yaitu dengan belahan menyamping untuk menyesuaikan bentuk wajah saya yang memanjang. Bunga mawar di rambut juga sesuai permintaan, yaitu mawar putih. Saya suka sekali dengan hasil make up pada saat pemberkatan.
Setelah Ibadah Pemberkatan selesai pukul 11.00 kami langsung bergegas menuju Gedung Mulia & Raja untuk acara Pesta Unjuk. Saya takut terlambat untuk datang, karena hari itu dan adalah hari Jumat dan jalanan Jakarta di hari Jumat seringkali tidak manusiawi. Untungnya ada seorang bapak PM yang mengiringi mobil pengantin dengan motor besar yang berbunyi tetotetot (voorijder kalo kata orang bule). Hehehe..
Setibanya di gedung, tepatnya pukul 11.30, ternyata Kak Sofia sudah menanti saya di ruang pengantin. Syukurlah, saya tidak harus menunggu untuk di touch up. Saya langsung duduk di depan kaca dandan dan Kak Sofia tidak menunggu lebih lama lagi untuk mendandani saya.
Untuk hair do dan make up saat Pesta Unjuk, saya sudah mengingatkan Kak Sofia sebelumnya bahwa saya ingin poni saya ditarik ke belakang semua karena saya akan menggunakan sortali. Bunga mawar di rambut pun diganti menjadi warna merah, dan ditambahkan dengan sepasang roncean melati, satu panjang sampai dada, satunya pendek sebahu. Saya pun meminta Kak Sofia untuk mengganti warna lipstik saya menjadi warna merah supaya lebih cerah. Awalnya sih saya kurang pede dengan warna merah ini karena takut bibir saya terlalu dominan dibanding seluruh wajah, tapi dengan kelihaian Kak Sofia... Jreng! Entah kenapa bentuk bibir saya jadi bagus dan warnanya pun bagus! Hihihi... Senang dan puas!
Akhirnya jam 12.00 kami pun dipanggil oleh panitia untuk memasukki gedung. Saya berterima kasih banyak sama Kak Sofia karena berkat riasannya, saya makin percaya diri untuk melangkah masuk ke gedung.
Untuk ketahanan make up, Kak Sofia enggak perlu diragukan lagi. Dia udah pakem banget sama pesta batak yang pastinya seharian (sigh...). Jadi riasan saya tetep on sampai malam hari (pesta selesai jam 20.00) bahkan sampai acara manjalo parumaen di hotel (jam 22.00). Paling banter hidung saya saja yang agak mengkilat karena minyak, tapi itu pun sangat dimaklumi karena tipe wajah saya yang berminyak.
To make it short, menurut saya inilah kelebihan Kak Sofia sebagai seorang make up artist:
1. Profesional. Seminggu sebelum hari H, Kak Sofia mengajak saya untuk ketemu dan membahas rencana make up saya untuk hari H. She really wrote all the details on her notebook! Dia datang tepat waktu ke rumah dan ke gedung, bahkan lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Hasil make up pun sesuai dengan permintaan saya.
2. Harga bersaing. Ini sih sebenarnya alasan kuat saya untuk mempercayakan riasan hari H kepada kak Sofia. Dengan harga yang sangat terjangkau, semua pengantin bisa disulap jadi manglingi. Bagi saya pribadi, make up yang bagus tidak harus selangit harganya, dan Kak Sofia proved it!
3. Kepribadiannya menyenangkan! Walaupun suka lama bales whatsapp dan kalau bales sepitik-sepitik, tapi ternyata Kak Sofia sangat ramah dalam kehidupan nyata. Hehehe... Dia mengajak saya ngobrol terus selama dirias untuk mengurangi rasa grogi, dan juga memberi pujian supaya saya percaya diri. Pokoknya keibuan deh. Hehehe...
Me with the make up artist...cucok kan?

Wednesday, October 7, 2015

Acara Adat Batak III: Partumpolon dan Martonggo/ Maria Raja

Ola! Mrs. Hutajulu's here! 😂

Yayaya.. akhirnya saya menikah!
How does it feel? Orang tua pasti akan bilang, bulan pertama pasti terasa indah kan? Hehehe.. Ya, bener sih. Tapi rasanya "baru" lebih tepat menggambarkannya. Saya merasa "baru".

Well, let's keep it as secret now, karena bukan itu topik postingan saya kali ini. Saya mau berbagi tentang pengalaman saya menjalani proses "Partumpolon/ Ikat Janji Pernikahan" dan Martonggo Raja. Nia, kenapa baru sekarang posting soal Martumpol? Basi kali! Hehehe.. Mungkin ada yang berpikir seperti itu ya? Yah, saya baru punya kesempatan sekarang dan saya ingin mengabadikan momentum ini untuk orang-orang yang akan membacanya kelak; para calon pengantin, peminat budaya Batak, dan calon-calon anak saya... 😊

Sebenarnya, tidak semua orang menjalani proses ini. Awalnya, tradisi ini dilaksanakan oleh jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai upaya untuk meneliti kesiapan hati calon pengantin dan menyelidiki adanya hal-hal yang mungkin menghalangi proses pernikahan. Memang telah terjadi pergeseran dari makna Partumpolon itu sendiri. Dahulu, Partumpolon diadakan secara sederhana, hanya dihadiri oleh calon pengantin, orang tua calon pengantin, penatua, dan pendeta. Namun, saat ini Partumpolon diadakan sebagai acara akbar dan melibatkan banyak orang.

Hal yang sama terjadi pada Acara Partumpolon saya. Acara sakral itu berlangsung pada tanggal 8 Agustus 2015 di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading. Begitu banyak orang yang hadir, hingga memenuhi lantai 1 dan lantai 2 gereja. Aku mengambil tema nuansa "mint green". Mulai dari kebaya saya, cat kuku saya, kemeja abang, hingga sampul buku acara, semua bernuansakan warna "mint green".

Jujur saja, saya merasa lebih tegang saat Acara Partumpolon. Entah kenapa, jantung saya berdegup kencang saat prosesi masuk gereja hendak dimulai. Rasanya kaki saya lemas dan perut saya terkocok saat saya melangkah masuk ke dalam gereja bersama abang. Mungkin karena pandangan para teman dan keluarga yang memandangi kami berdua, mungkin juga karena saya harus menggunakan sendal tinggi yang tidak pernah saya pakai. Hahaha...

Singkat kata, karena kebaikan Tuhan, Acara Partumpolon berjalan lancar. Sempat terjadi mati lampu di awal acara selama kurang lebih 3 menit, tapi puji Tuhan semua teratasi dengan baik. Pada inti Acara Partumpolon, saya dan abang menyatakan kesungguhan hati kami untuk membangun pernikahan Kristen, kami juga menyatakan bahwa kami tidak terlibat hubungan perkawinan dengan siapapun, dan menyatakan kasih kami satu sama lain dalam bentuk tukar cincin.  Saya ingat cincin abang mendadak terlalu kecil sehingga dia membantu saya untuk memasangkan cincin bertuliskan "NIA" itu di jarinya. Hihihi...

Seusai Partumpolon, acara dilanjutkan dengan makan sore bersama kemudian Martonggo Raja. Martonggo Raja adalah istilah untuk pihak yang marhobas di Pesta Unjuk/ Ulaon Na Gok karena semenjak Marhori-Hori Dinding sudah disepakati bahwa Pesta Untuk ini menganut Alap Jual (pesta diadakan oleh keluarga pengantin perempuan). Sementara itu, pihak pengantin laki-laki (yang tidak mengadakan pesta) mengadakan acara Maria Raja. Untuk efektivitas, acara Martonggo Raja dan Maria Raja dilaksanakan di Ruang Serbaguna Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.

Inti dari acara Martonggo Raja dan Maria Raja adalah koordinasi akhir dalam keluarga. Dalam acara itu Raja Parhata menjelaskan runtutan acara Pesta Unjuk agar keluarga mengetahui di mana mengambil peran. Memang pesta pernikahan Batak adalah benar-benar acara keluarga. Semua saudara pasti terlibat ambil bagian dalam Pesta Unjuk. Saya sendiri tidak banyak terlibat dalam perbincangan ini, karena lebih banyak berfoto bersama abang dengan fotografer Mas Micko dari Mitra Photo.

Pengalaman saya, rasa stress, tegang, dan sensitif lebih banyak berkurang setelah Acara Partumpolon. Saya lebih tenang menghadapi pernikahan, dan merasa yakin bahwa abang adalah pria terbaik untuk menjadi partner saya mengarungi biduk rumah tangga. Untuk para calon pengantin yang masih mempersiapkan diri menghadapi Partumpolon, jangan lupa untuk berdoa ya. Berdoalah yang sungguh-sungguh, minta Tuhan campur tangan dalam acaramu. Selain itu jaga kesehatan dengan makan seimbang, istirahat cukup, dan minum air putih yang banyak. Untuk hari H, bawa barang seperlunya saja, seperti uang persembahan, tissue, lipstik, dan emergency things seperti lem kuku (bagi yang menggunakan kuku palsu), plester, dan obat sakit kepala.

Vendors:
Dekor: Toko Bunga Cikini, Cikini
Cincin: Toko Mahkota, Cikini
Kotak cincin: Iris Seserahan, Malang (@irisseserahan)
Buku acara: Family Printing, Rawamangun
Fotografer: Mas Micko (@mitraphoto)

Monday, February 23, 2015

Acara Adat Batak: Marhori-Hori Dinding

Pernikahan adalah salah satu acara (ulaon dalam bahasa Batak) terbesar dalam adat Batak. Lain halnya dengan tata cara pernikahan ala orang Barat yang sederhana namun tetap berkesan, pernikahan adat Batak bisa dibilang rumit atau "njelimet". Sebelum sepasang pengantin mengikrarkan janji untuk terus bersama sampai maut memisahkan, ternyata banyak juga rangkaian acara yang harus dijalani oleh kedua calon pegantin.

Tata cara pernikahan adat Batak tidak banyak menarik perhatianku sampai akhirnya aku sendiri yang harus menjalaninya. Ternyata banyak tahap yang harus kami jalani sebelum pemberkatan di gereja. Inilah tahap-tahap pernikahan adat Batak yang akan kami jalani:
1. Mangarisika/ Perkenalan
2. Marhori-Hori Dinding
3. Marhusip dohot Marhata Sinamot
4. Martumpol
5. Martonggo Raja dohot Marria Raja
6. Pamasu-masuon
7. Pesta Unjuk/ Pesta Adat

Banyak ya? Percaya atau tidak, tahap-tahap di atas adalah simplifikasi dari tata cara pernikahan adat Batak pada masa lampau!

Singkat cerita, hari Sabtu yang lalu, tepatnya tanggal 21 Februari 2015, bertempat di kediaman orang tuaku di Bogor, aku dan abang telah melalui tahap marhori-hori dinding. Tanggal tersebut memang sudah ditentukan sejak acara perkenalan orang tua beberapa bulan yang lalu. Dalam acara ini keluarga dekat dari pihak laki-laki dan perempuan saling berkenalan dan membicarakan beberapa hal, seperti tanggal marhusip, tanggal martumpol dan martonggo raja/ marria raja, tanggal pamasu-masuon dan pesta unjuk, tanggal resepsi, besaran sinamot, dan pemegang pesta (paranak/ parboru).

Puji Tuhan acara berjalan lancar. Acara dihadiri oleh sekitar 40 orang dari keluargaku dan abang. Makan siang disiapkan sendiri oleh ibuku, dibantu olehku dan beberapa saudara perempuan. Makanannya sangat memuaskan dan semua tamu memuji masakan ibuku.

Seusai acara marhori-hori dinding, ada acara tambahan, yaitu acara perayaan ulang tahun abang kandungku, abang, ayah dari abang, dan ayahku. Sebuah kebetulan yang menyenangkan bukan, mereka berempat berulang tahun di bulan Februari. Mereka pun meniup lilin bersama-sama dan kami semua berdoa untuk mereka. Acara pun selesai sekitar pukul 5 sore. 

Tidak terasa kami sudah melalui tahap marhori-hori dinding. Ada rasa lega dan bersyukur karena Tuhan masih menyertai kami hingga sejauh ini, namun juga sedikit cemas karena waktu semakin tipis, sementara begitu banyak hal yang harus dipersiapkan, terutama untuk kehidupan setelah pesta pernikahan. Ya, semua kekhawatiran hanya bisa kutumpahkan dalam doa. Percaya Dia yang mampukan kami :)