![]() |
| Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading |
![]() |
| Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi |
![]() |
| Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th |
![]() |
| Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading |
![]() |
| Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi |
![]() |
| Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th |
Setelah 5 bulan masuk kerja, produksi ASI saya semakin surut. Awal bekerja lagi, saya selalu pulang membawa 3 botol penuh ukuran 200 cc, sekarang saya hampir enggak pernah membawa botol penuh lagi. Walaupun kata ahli per-ASI-an produksi ASI hanya ditentukan oleh frekuensi memompa (supply by demand) tapi bagi saya banyak faktor lain juga yang mempengaruhi,seperti kelelahan, faktor psikologi ibu, dan juga nutrisinya.
Bulan Desember 2016 lalu, saya jatuh sakit untuk pertama kalinya sejak melahirkan. Saya demam 39.6 derajat dan meriang. Takutnya luar biasa, bagaimana kalau saya harus minum obat atau bahkan diopname? Produksi ASI saya saat itu terjun bebas. Saya hanya dapat memompa 90 cc ASI padahal sudah 6 jam tidak menyusui atau memompa. STRES!
Apa yang saya lakukan saat itu? Saya makan nasi setiap 4 jam, minum obat dan suplemen, tidur sepanjang hari kecuali saat menyusui Nixon. Saya juga minum air putih hingga 4 liter untuk mencegah dehidrasi yang bisa juga menyebabkan produksi ASI turun. Puji Tuhan tiga hari kemudian kondisi saya membaik. Produksi ASI pun meningkat lagi walaupun enggak pernah sebanyak saat saya belum sakit.
Akhirnya Nixon pun mulai makan makanan padat, sehingga kebutuhan ASI-nya berkurang, seenggaknya 30 persen. Sekarang Nixon minum ASIP yang disimpan di chiller saja, bukan ASIP beku. Selama saya tinggal kerja, Nixon bisa menghabiskan sekitar 400-450 cc ASIP, sama dengan jumlah ASIP yang saya hasilkan selama di kantor, sehingga otomatis enggak ada lagi tabung menabung ASIP.
Saya harap Nixon bisa lulus S2 ASI, itulah target saya. Saya banyak membaca ibu menyusui yang mengonsumsi ASI booster untuk meningkatkan produksi ASI-nya. Saya pribadi enggak terpikir untuk mengonsumsi booster tertentu. Bagi saya, makan bergizi, istirahat cukup, mood yang stabil, dan berdoa, sudah cukup. Bila memang ASI saya habis di tengah jalan, berarti itu memang sudah waktunya dan saya enggak akan ngoyo. Toh membesarkan anak enggak hanya sekedar berapa lama kita menyusuinya atau seberapa banyak ASI kita. Masih banyak hal yang harus kita perjuangkan dan ajarkan. Semoga Tuhan melindungi anak-anak ini :)
Dari semua media sosial yang saya punya, sepertinya blog ini yang paling sedikit dilihat orang, makanya saya bicara di sini tentang uneg-uneg saya, supaya tidak mengundang kontroversi.
Saya sangat terganggu dengan istri-istri anggota TNI, yang dengan sadar ataupun tidak, mengunggah pesan-pesan berbau SARA di media sosial. Bukan karena saya kaum minoritas, tetapi saya sebagai sesama istri prajurit, merasa bahwa pesan-pesan tersebut adalah ancaman internal yang tidak hanya dapat merusak kesatuan TNI tetapi juga NKRI.
Tidak sedikit saya temui istri prajurit yang mengunggah foto-foto dan pesan-pesan di media sosial yang menyudutkan agama dan ras tertentu. Walaupun hati merasa sedikit tertantang, saya memilih untuk tidak bereaksi. Bukan berarti saya merasa bersalah atau terintimidasi, tapi saya tidak mau memperkeruh suasana, menimbulkan debat kusir yang tidak ada ujungnya. Hei, nyawa suami saya lebih penting! Maksudnya?
Lima tahun yang lalu di Magelang, suami saya telah bersumpah untuk menjaga keutuhan NKRI hingga titik darah penghabisan. Saya pun mengalaminya dan menyaksikan suami saya siap sedia, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, demi pekerjaan yang sangat dicintainya. Prinsipnya hanya satu: NKRI harga mati. Lalu di manakah tempatnya untuk saya dapat menyentil sedikit prinsipnya itu, jika itu sama dengan membahayakan nyawa suami saya sendiri? NON-SENSE!
Saya yakin istri anggota TNI adalah perempuan terpilih, bukan perempuan yang asal bicara tanpa berpikir panjang. Di luar apapun agamanya atau apapun rasnya, kita mempunyai tugas yang sama: mendukung suami menjaga keutuhan NKRI. Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, ada baiknya kita telaah dulu apa efeknya terhadap orang lain. Jadi ya ibu-ibu, saya lebih suka melihat unggahan foto-foto selfie yang itu-itu saja, dan foto-foto yang berhubungan dengan perkembangan anak, foto-foto kegiatan Persit di ranting masing-masing, dan unggahan lain yang lebih menyenangkan daripada unggahan SARA-mu itu. Di situasi yang panas saat ini, bukankah seharusnya kita, bunga-bunga negara, yang menjadi penyejuk hati?
Hari ini, 11 Desember 2016, Nixon genap berusia 6 bulan. Selama 6 bulan ini, Nixon hanya tergantung pada ASI Mami. Yah sesekali Mami tempelin pisang dan pepaya sih ke mulutmu untuk kamu jilat-jilat. Oh iya buah naga juga! 😁
Selama 6 bulan ini, Mami berusaha konsisten memompa ASI sebanyak 3 kali di tempat kerja dan 2 kali di rumah. Tidak setiap hari Mami pulang membawa botol-botol penuh ASIP. Ada kalanya yang dibawa botol setengah penuh, seperempat penuh, bahkan botol kosong. Tapi itu tidak memudarkan semangat Mami untuk memberikan yang terbaik buat Nixon. Mami percaya Tuhan pasti cukupkan kebutuhanmu, Bang. Mami juga bersyukur karena Mami mendapat banyak dukungan dari Papimu yang sedang berdinas di perbatasan, Opung, saudara-saudara, dan teman-teman Mami.
Nixon sayang, Mami juga bersyukur Tuhan memakaimu sebagai saluran berkat. Nixon sudah membantu teman dan saudara Nixon dengan mendonorkan ASIP Mami. Kamu punya saudara-saudara sepersusuan, Bang. Lucu ya!
Nah, usia 6 bulan tandanya lampu hijau untuk MPASI. Mami semangat sekali, Bang, mau menyuapimu makan. Mami harap kamu menyenangi pengalaman makanmu, sama seperti Papi Mamimu yang hobi makan. Hahaha... Sehat-sehat terus dan makan yang lahap ya, Bang!
Dalamnya laut tidak melebihi dalamnya kasihku padamu.
Peluk hangat,
Mami
![]() |
Tabungannya Nixon
|