Thursday, February 5, 2026
Life Chapter: Ambon Manise
Tuesday, September 6, 2022
Menjadi Anak SD dan Orang Tua Anak SD
Tanpa terasa, anak sulung saya sudah memasuki jenjang sekolah dasar. Hampir 2 bulan yang lalu saya hadir di sekolah baru si Abang untuk pertemuan guru dengan orang tua murid. Ketika itu, seorang Suster memimpin doa pembuka (sekolah anak saya adalah sekolah Katolik). Salah satu kalimat dalam doa beliau kurang lebih seperti ini: "Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."
For me, those words are STRONG. Beberapa minggu ini, kalimat dalam doa tersebut selalu terngiang di otak saya. Memasuki jenjang sekolah dasar, saya merasakan betul bahwa pelajaran yang akan dihadapi oleh si Abang akan semakin berat dengan tingkat kerumitan dan jumlah mata pelajaran yang meningkat. Belum lagi, pandemi juga masih berlanjut sehingga pembelajaran jarak jauh bisa saja dijalankan kembali apabila memang jumlah kasus meningkat lagi. Situasi itu membuat saya menjadi anxious. "Apakah anak saya akan bisa menjalaninya?"
Maka mulailah saya mencari-cari tempat les, mengatur sesi belajar di malam hari, karena hanya di malam hari saya bisa mendampingi si Abang belajar. Kadang belajar bersamanya terasa menyenangkan karena kami bisa menikmati waktu berkualitas bersama, tapi di waktu lain belajar bersama terasa sangat berat hingga saya tidak kuasa menahan emosi dan nada tinggi. Kadang ketika nada bicara saya sudah mulai meninggi ketika mengajar, air mata mulai menggenang di kedua mata anak saya. Di titik itulah saya tersadar.
Apa yang sedang saya lakukan?
Apakah saya sudah membuatnya trauma?
Apakah saya memaksakan standar diri saya ke anak kami?
Saya pun terpukul ketika mengingat tatapan si Abang ke saya, ketika saya merasa gemas karena dia belum memahami materi yang saya ajarkan atau ketika tulisan tangannya tidak rapi. Tatapan dengan rasa bersalah. Rasa bersalah yang seharusnya tidak ada. Rasa bersalah yang saya ciptakan dalam dirinya, ketika dia tidak memenuhi ekspektasi saya dalam hal akademis. Padahal kami pun bukan orang tua yang sempurna. Saya dan suami sama-sama bekerja, tidak jarang pulang malam dan tidak jarang keluar kota bahkan keluar negri berbulan-bulan. Tap tak pernah ia bernada tinggi pada kami, tak pernah ia merasa gemas karena orang tuanya tidak ada di sana ketika ia membutuhkan kami.
"Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."
Doa Suster yang saya dengar beberapa waktu lalu, pun akhirnya menjadi bagian dalam doa saya sehari-hari. Anak saya bukan robot ataupun mobil-mobilan yang dapat dikendalikan untuk dapat beradu dengan anak lain. Dia memiliki perasaan, minat, dan juga cara berpikirnya sendiri. Saya sebagai orang tua tidak hanya bertanggung jawab terhadap nilai akademisnya, namun juga memelihara keimanannya dan kesehatan mentalnya.
Saat ini pun saya masih belajar merubah pola pikir saya. Anak kami bukanlah versi kecil dari kami. Ia mempunyai perjalanan hidupnya sendiri. Saya hanya bertugas mendampingi dan mengasihinya sehingga ia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan berdasarkan standar saya. Les dan belajar bersama bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, namun harusnya hal tersebut saya lakukan tanpa emosi dan paksaan.
Bagi orang tua yang sudah memiliki pemahaman ini, saya turut berbahagia. You guys are in the right way. Bagi orang tua yang memiliki kegalauan yang sama, mari kita sama-sama belajar dan berdoa. Berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi anak kita seutuhnya. Semoga Tuhan memberkati anak-anak kita.
Monday, August 16, 2021
Kisah Pendek Tentang Mama
Mamaku lahir 67 tahun yang lalu di Pansur Batu, Tarutung, Sumatera Utara. Mama adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Katanya, dahulu Mama punya Ito (saudara laki-laki) yang meninggal muda. Ayahnya adalah seorang pengusaha minyak kayu putih yang sukses, sementara Mamanya adalah petani yang handal. Dari caranya bercerita tentang Opung Doli (kakek), saya bisa melihat jelas kekaguman Mama akan Ayah tercintanya.
Opung Doli adalah seorang anak laki-laki sulung di keluarganya. Di dalam adat Batak kala itu, anak sulung adalah breadwinner, bukan hanya untuk keluarga intinya, tapi untuk keluarga besarnya. Anak laki-laki sulung juga diharapkan dapat menjadi pemimpin untuk keluarga besar. Dari apa yang kudengar dalam cerita-cerita Mama, aku bisa menarik kesimpulan bahwa Opung Doli berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai anak laki-laki sulung. Opung Doli berhasil dalam pekerjaannya, menafkahi keluarganya, dan membuka lowongan pekerjaan bagi saudara-saudaranya. Sebagai Ayah, Opung Doli adalah sosok yang sangat lembut, penyayang, tidak pernah marah, namun tetap tegas dalam mendidik anak-anaknya. Menariknya, Opung Doli juga pandai memasak. Mamaku bercerita, kalau Opung Doli sudah memasak, wanginya akan memenuhi seisi rumah, dan anak-anaknya akan berbaris menunggu masakan Opung Doli keluar dari dapur. Sebagai pemimpin keluarga besar, Opung Doli juga memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Beliau taat beribadah dan sangat dermawan kepada gereja. Opung Doli pernah mengalami kerugian dalam usahanya, yang disebabkan oleh saudaranya sendiri, namun Opung Doli tidak pernah berhenti berbuat kasih pada saudaranya itu. Saya sangat menyukai ekspresi Mama ketika bercerita tentang Opung Doli, wajahnya pasti berseri-seri dengan mata berbinar penuh kerinduan.
Tanpa Mama sadari, walaupun beliau bukan anak laki-laki apalagi anak sulung, banyak sekali kesamaan yang saya lihat pada dirinya dengan Opung Doli. Mama adalah seorang pengusaha yang luar biasa. Mama tidak bersekolah tinggi. Beliau lulus D1 dari IKIP Jakarta. No fancy title. Tapi dengan masa studi yang sependek itu (relatively, compared to me who spent 5 years to get my MD title and still going through my 3rd year of residency), Mama berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Bahkan sampai usianya saat ini, Mama masih bisa membuka lowongan pekerjaan dan menjadi saluran berkat bagi saudara-saudaranya. Perusahaan Mama memang bukan perusahaan multinasional dengan omset trilyunan, tapi sangat cukup bagi keluarga kami. Dalam pekerjaan, Mama adalah sosok yang disiplin, bahkan galak, namun itu tidak membuatnya menjadi bos yang menakutkan. Pegawai Mama sangat menyayanginya, karena di luar pekerjaan, Mama tidak segan menunjukkan sisi keibuannya. Beliau adalah lady boss sejati!
![]() |
| Mama dan Kedua Kakaknya |
![]() |
| Mama dan Beberapa Sahabatnya |
![]() |
| My Gorgeous Mom |
Oh, I can go on and on and on when telling her stories. Just like the way my Mom admires her Father, I adore her as much. I am so proud of her and always will be. And someday, when my children asked me about their Opung Boru, I will gladly re-read this post.
I love you, Mom.
Tuesday, April 14, 2020
Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah, Ibadah di Rumah, Versiku
Monday, February 24, 2020
Appreciation Post
Saturday, March 23, 2019
The Firstborn
Monday, June 26, 2017
My First Year of Breastfeeding
1. Tabungan
Pertama kali saya memompa ASI adalah 5 hari pasca melahirkan. Payudara saya bengkak dan nyeri. Sahabat sayalah yang mengajarkan cara memompa ASI yang benar. Sejak saat itu mulailah saya menabung ASIP. Selama cuti melahirkan, saya mengumpulkan cukup banyak ASIP tabungan. Ketika saya menyusui Nixon dengan payudara kanan, maka saya juga memompa payudara kiri, begitu pula sebaliknya. Sehari sebelum saya bekerja, ada sekitar 30 botol ASIP dan 60-an kantong ASIP di dalam freezer.
Mitos: Punya tabungan ASIP se-freezer adalah kunci untuk kesuksesan ASI eksklusif.
Fakta: Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan dan membuka buku pelajaran saya dulu, ASI itu unik, karena komposisinya yang berubah setiap saat, sesuai dengan kebutuhan bayi. Misal pada bulan-bulan awal, ASI lebih banyak mengandung protein untuk meningkatkan berat badan bayi, maka pada bulan berikutnya jumlah lemak yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan perkembangan otak. Jadi, sebaiknya jarak antara usia ASIP dan usia bayi enggak terlalu jauh, agar nutrisi yang diberikan pada bayi sesuai dengan kebutuhan di usianya.
Berbekal dari hasil riset, tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk memberi ASIP segar untuk Nixon setiap hari. Jadi, Nixon hampir enggak pernah minum ASIP yang sudah dibekukan (kecuali ketika saya sakit). Nixon minum ASIP yang saya bawa dari kantor sehari/ 2 hari sebelumnya dan hanya disimpan di chiller kulkas. Jadi kemana perginya 30 botol ASIP + 60 kantong ASIP? Some went to the babies who really need it, some went to waste.
2. While Me and My Baby Were Separated
Me:
Saya kembali bekerja tepat setelah cuti melahirkan saya habis, yaitu ketika Nixon berusia 2 bulan 3 minggu. Pertama kali saya memompa ASI di kantor, saya memerlukan waktu 50 menit hingga 1 jam untuk 1 sesi memompa. Berarti hampir 3 jam dari 9 jam waktu kerja saya dihabiskan untuk memompa *salim sama bos* Ternyata waktu saya banyak habis untuk merakit pompa dan mempersiapkannya (cuci, steril, dsb). Setelah membaca info dari Mom Eliz (Instagram: elizabeth.zenifer), akhirnya 1 sesi memompa dapat selesai dalam 30 menit. Triknya, saya enggak melepas lagi rakitan pompa kecuali corongnya. Corong pompa cukup saya simpan dalam plastik ziplock dan masukkan ke dalam kulkas hingga sesi memompa berikutnya. Ringkes banget!
Nah karena jam kerja saya berubah-ubah setiap harinya (saya kerja shift), maka waktu memompa pun berubah-ubah. Biasanya saya memompa 3 kali selama bekerja, yaitu sebelum mulai kerja, saat istirahat makan siang, dan sebelum pulang. Dengan cara ini saya dapat membawa pulang kira-kira sekitar 450-550 ml ASIP setiap hari.
My Baby:
Sebulan sebelum saya bekerja, Nixon sudah saya latih untuk minum ASIP menggunakan botol. Cukup drama sih, karena Nixon enggak langsung mau pakai botol. Setelah sekitar 10 kali mencoba, akhirnya Nixon mahir minum dengan botol. Ketika saya mulai kerja, kapasitas minum Nixon sudah 120 ml. Selama saya tinggal kerja, karena Nixon belum mulai makan MPASI, Nixon bisa minum sebanyak 5 kali. Artinya, selama saya tinggal kerja (kurang lebih 12 jam termasuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat kerja), Nixon menghabiskan sekitar 600 ml ASIP.
Secara perhitungan, ASIP yang saya bawa dari kantor masih defisit. Makanya saya menambah 1 lagi sesi memompa di rumah. Ini saya lakukan hingga Nixon berusia 6 bulan, karena setelah 6 bulan, Nixon sudah mulai MPASI dan kebutuhan ASI-nya "sedikit" berkurang. Oya, karena saya pemalas dalam hal pompa memompa, saya mengusahakan sekali untuk tidak memompa lebih dari 4 kali sehari. Jadi, saya pulang kerja tepat waktu (TENG-GO!) dan go straight home. Enggak ada lagi acara haha-hihi setelah kerja, mampir sana sini, well bisa dibilang kehidupan sosial agak dikorbankan *hiks*. Soalnya, makin lama saya terpisah dengan anak saya, maka makin banyak ASIP yang dia minum dan makin banyak hutang ASI saya, ujung-ujungnya saya harus makin sering pumping deh. Jadi ya, selama setahun ini, saya enggak mau terpisah dari anak saya kecuali ketika kerja atau acara penting (misalnya pertemuan Persit di kantor suami).
3. Things I Can't Go Without
My Breastpump
Saya punya 2 jenis pompa, manual dan elektrik. Pompa manual saya bermerk Pigeon, lungsuran dari kakak sepupu saya. Selama saya cuti melahirkan, inilah pompa yang saya gunakan, karena pompanya ringkes sekali. Pompa listrik saya bermerk Medela Swing, pemberian dari teman saya. Ini pompa yang saya pakai ketika mulai bekerja hingga saat ini.
Cooler Bag + Ice Pack
Sahabatnya pompa ya tas pendingin, untuk membawa perlengkapan memompa dan membawa ASIP. Saya menggunakan tas pendingin Okiedog dengan 2 buah ice pack. Menurut saya semua merk tas pendingin sama saja kok, enggak ada yang lebih superior. Yang penting kompartemennya cukup besar untuk memuat pompa + ice pack + botol ASIP.
Tumbler + Snack
Namanya ibu menyusui, pasti sering haus dan lapar. Oleh karena itu, saya tidak pernah lupa membawa botol minum dan cemilan. Selama di tempat kerja biasanya saya menghabiskan sekitar 2,5 L air putih, belum termasuk minum selama di rumah dan minuman rekreasi seperti susu, teh, dsb. Cemilan yang biasa saya bawa roti-rotian, buah-buahan, es kacang, regal, atau malkist.
Nursing Apron
Sebenarnya apron enggak esensial banget sih, tapi karena dulu waktu hamil saya terlalu terobsesi sama apron lucu, jadilah saya punya 2 apron. Awal-awal memompa di kantor, saya masih rajin pakai apron. Lama-kelamaan, apron pun terhempas...hahaha...segalanya demi efektivitas waktu!
Supplements
Ini juga sama seperti apron, enggak esensial. Saya minum Suplemen jika saya merasa makanan saya hari itu kurang bergizi (contoh: nasi goreng). Saya minum Blackmores for Pregnancy and Breastfeeding, suplemen yang sudah saya minum sejak hamil. Suplemen ini fungsinya bukan untuk meningkatkan jumlah ASI ya (remember, supply by demand). Suplemen ini memastikan bahwa kebutuh mikronutrien saya dan Nixon terpenuhi. Kalau kita makannya udah sehat dan variatif, ya enggak perlu suplemen ya.
Tuesday, May 16, 2017
Nixon Dibaptis
![]() |
| Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading |
![]() |
| Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi |
![]() |
| Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th |
Monday, April 24, 2017
Mama's First Night Shift After Giving Birth to Nixon
Saturday, April 8, 2017
Tantangan Permainan Sensorik
Nah ternyata permainan sensorik hanyalah salah satu irisan dari pendidikan dini pada anak. Selain melatih indera, kita juga harus melatih kemampuan anak berbahasa (membaca buku), kehidupan praktis (cara merawat diri, orang lain, dan lingkungan), berhitung/ matematika, dan kebudayaan (geografi, botani, zoologi). What? Ternyata PR mamak banyak ya! *cry*
Pendidikan anak memang jadi tanggung jawab orang tua. Walaupun saya bekerja, tapi saya tetap harus meluangkan waktu untuk pendidikan Nixon. Saya rasa semua mama pekerja juga berprinsip sama ya. Hehehe... Bahkan setelah saya blog surfing, ada ibu yang membuat sendiri kurikulum pendidikan anaknya di rumah! *applause* Bagi saya pribadi pada kenyataannya, seringkali badan ini terlanjur remuk redam untuk menyempatkan main dengan Nixon, yang berujung saya hanya tiduran di samping Nixon yang asik ngutak-ngatik barang apapun yang ada di dekatnya. Ah, sedih!
Makanya nih, kali ini saya menantang diri saya sendiri, untuk membuat to-do-list permainan yang harus saya lakukan dengan Nixon sebelum dia genap 1 tahun (which is ga sampe 3 bulan lagi). Hahaha.. mamak rempong obsesi besar! Nah, dari hasil stalking-stalking IG, pin-pin di Pinterest dan browsing sana-sini, beginilah kira-kira list-nya baby Nixon:
1. Discovery Basket
Sesuai judulnya, Discovery Basket itu keranjang yang isinya barang-barang untuk ditemukan. Isinya beneran bisa apa saja, saya pernah lihat keranjang yang isinya CD, measuring spoon yang biasa dipakai untuk menakar bahan kue, boneka, pompom, and the list goes on. Karena Nixon masih fase oral banget (segala barang dimasukkin mulut), sepertinya saya akan memasukkan barang-barang yang tidak mudah hancur saat terkena air liur, tidak mudah sobek saat digigit, dan tidak tajam ya.
2. Sensory Bin
Sensory bin yang paling banyak saya temukan di IG adalah sensory bin dengan tema binatang-binatangan. Saya sudah pernah membuat sensory bin 1 kali dengan menggunakan mainan ikan-ikanan dan waterbeads. Nixon suka sekali mengaduk-aduk sensory bin-nya, tapi ya ikan-ikanannya berakhir di mulut dia. Hahaha... Lain kali saya mau mencoba membuat sensory bin menggunakan bahan agar-agar, beras, spaghetti, dan tepung.
3. Sensory Bottle
Nixon sekarang rewel banget kalau dipakaikan baju sehabis mandi, jadi setiap mau pakai baju jadi drama, hiks! Nah, sensory bottle pas sekali untuk dipegang-pegang Nixon saat sedang dipakaikan baju atau ganti popok, jadi perhatiannya teralih. Yang saya lihat di IG, sensory bottle bisa berisi air, waterbeads, kancing-kancing, glitter, pompom, biji-bijian, bahkan ada yang isinya pasta. Nah, lebih bagus lagi kalau dibuat beberapa botol dengan tema warna yang berbeda-beda.
4. Color Bag
Ini namanya bikin sendiri karena saya enggak tau nama bekennya apa. Permainan ini hanya menggunakan zipper bag, cat air, dan kertas. Cat air dan kertas dimasukkan ke dalam zipper bag. Nah, nanti bayi akan mengusap-usap zipper bag sampai cat airnya meluber dan bercampur aduk. Semacam lukisan abstrak lah hasilnya.
5. Edible Finger Paint
Seperti color bag, permainan sensorik ini juga memperkenalkan warna-warna pada anak, dengan cara yang lebih berantakan karena anak mewarnai dengan tangannya sendiri (no zipper bag!). Nah karena Nixon apa-apa masuk mulut, saya berencana membuat pewarna yang dapat dimakan. Ternyata banyak loh resepnya, tinggal googling! Memang canggih-canggih banget mamak zaman sekarang.
6. Sensory Book/ Mat/ Board
Saya ingin membuat buku yang di dalamnya terdapat berbagai tekstur yang dapat diraba oleh Nixon. Saya dapat ide ini dari salah satu blog mama-mama bule. Sepertinya seru, sih. Hihihi... we'll see!
Lumayan banyak ya yang mau dibikin, semoga mamak enggak sekedar bikin list! *finger crossed* Semoga saya sempat membuat semuanya, membagikannya di blog, dan yang terpenting semoga semuanya bermanfaat buat Nixon. Mari berkreasi mama!
Saturday, February 18, 2017
Updates on Production
Setelah 5 bulan masuk kerja, produksi ASI saya semakin surut. Awal bekerja lagi, saya selalu pulang membawa 3 botol penuh ukuran 200 cc, sekarang saya hampir enggak pernah membawa botol penuh lagi. Walaupun kata ahli per-ASI-an produksi ASI hanya ditentukan oleh frekuensi memompa (supply by demand) tapi bagi saya banyak faktor lain juga yang mempengaruhi,seperti kelelahan, faktor psikologi ibu, dan juga nutrisinya.
Bulan Desember 2016 lalu, saya jatuh sakit untuk pertama kalinya sejak melahirkan. Saya demam 39.6 derajat dan meriang. Takutnya luar biasa, bagaimana kalau saya harus minum obat atau bahkan diopname? Produksi ASI saya saat itu terjun bebas. Saya hanya dapat memompa 90 cc ASI padahal sudah 6 jam tidak menyusui atau memompa. STRES!
Apa yang saya lakukan saat itu? Saya makan nasi setiap 4 jam, minum obat dan suplemen, tidur sepanjang hari kecuali saat menyusui Nixon. Saya juga minum air putih hingga 4 liter untuk mencegah dehidrasi yang bisa juga menyebabkan produksi ASI turun. Puji Tuhan tiga hari kemudian kondisi saya membaik. Produksi ASI pun meningkat lagi walaupun enggak pernah sebanyak saat saya belum sakit.
Akhirnya Nixon pun mulai makan makanan padat, sehingga kebutuhan ASI-nya berkurang, seenggaknya 30 persen. Sekarang Nixon minum ASIP yang disimpan di chiller saja, bukan ASIP beku. Selama saya tinggal kerja, Nixon bisa menghabiskan sekitar 400-450 cc ASIP, sama dengan jumlah ASIP yang saya hasilkan selama di kantor, sehingga otomatis enggak ada lagi tabung menabung ASIP.
Saya harap Nixon bisa lulus S2 ASI, itulah target saya. Saya banyak membaca ibu menyusui yang mengonsumsi ASI booster untuk meningkatkan produksi ASI-nya. Saya pribadi enggak terpikir untuk mengonsumsi booster tertentu. Bagi saya, makan bergizi, istirahat cukup, mood yang stabil, dan berdoa, sudah cukup. Bila memang ASI saya habis di tengah jalan, berarti itu memang sudah waktunya dan saya enggak akan ngoyo. Toh membesarkan anak enggak hanya sekedar berapa lama kita menyusuinya atau seberapa banyak ASI kita. Masih banyak hal yang harus kita perjuangkan dan ajarkan. Semoga Tuhan melindungi anak-anak ini :)
Tuesday, December 20, 2016
Untuk Para Bunga Negara
Dari semua media sosial yang saya punya, sepertinya blog ini yang paling sedikit dilihat orang, makanya saya bicara di sini tentang uneg-uneg saya, supaya tidak mengundang kontroversi.
Saya sangat terganggu dengan istri-istri anggota TNI, yang dengan sadar ataupun tidak, mengunggah pesan-pesan berbau SARA di media sosial. Bukan karena saya kaum minoritas, tetapi saya sebagai sesama istri prajurit, merasa bahwa pesan-pesan tersebut adalah ancaman internal yang tidak hanya dapat merusak kesatuan TNI tetapi juga NKRI.
Tidak sedikit saya temui istri prajurit yang mengunggah foto-foto dan pesan-pesan di media sosial yang menyudutkan agama dan ras tertentu. Walaupun hati merasa sedikit tertantang, saya memilih untuk tidak bereaksi. Bukan berarti saya merasa bersalah atau terintimidasi, tapi saya tidak mau memperkeruh suasana, menimbulkan debat kusir yang tidak ada ujungnya. Hei, nyawa suami saya lebih penting! Maksudnya?
Lima tahun yang lalu di Magelang, suami saya telah bersumpah untuk menjaga keutuhan NKRI hingga titik darah penghabisan. Saya pun mengalaminya dan menyaksikan suami saya siap sedia, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, demi pekerjaan yang sangat dicintainya. Prinsipnya hanya satu: NKRI harga mati. Lalu di manakah tempatnya untuk saya dapat menyentil sedikit prinsipnya itu, jika itu sama dengan membahayakan nyawa suami saya sendiri? NON-SENSE!
Saya yakin istri anggota TNI adalah perempuan terpilih, bukan perempuan yang asal bicara tanpa berpikir panjang. Di luar apapun agamanya atau apapun rasnya, kita mempunyai tugas yang sama: mendukung suami menjaga keutuhan NKRI. Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, ada baiknya kita telaah dulu apa efeknya terhadap orang lain. Jadi ya ibu-ibu, saya lebih suka melihat unggahan foto-foto selfie yang itu-itu saja, dan foto-foto yang berhubungan dengan perkembangan anak, foto-foto kegiatan Persit di ranting masing-masing, dan unggahan lain yang lebih menyenangkan daripada unggahan SARA-mu itu. Di situasi yang panas saat ini, bukankah seharusnya kita, bunga-bunga negara, yang menjadi penyejuk hati?
Sunday, December 11, 2016
Surat Untuk Nixon S.ASI (Sarjana ASI)
Hari ini, 11 Desember 2016, Nixon genap berusia 6 bulan. Selama 6 bulan ini, Nixon hanya tergantung pada ASI Mami. Yah sesekali Mami tempelin pisang dan pepaya sih ke mulutmu untuk kamu jilat-jilat. Oh iya buah naga juga! 😁
Selama 6 bulan ini, Mami berusaha konsisten memompa ASI sebanyak 3 kali di tempat kerja dan 2 kali di rumah. Tidak setiap hari Mami pulang membawa botol-botol penuh ASIP. Ada kalanya yang dibawa botol setengah penuh, seperempat penuh, bahkan botol kosong. Tapi itu tidak memudarkan semangat Mami untuk memberikan yang terbaik buat Nixon. Mami percaya Tuhan pasti cukupkan kebutuhanmu, Bang. Mami juga bersyukur karena Mami mendapat banyak dukungan dari Papimu yang sedang berdinas di perbatasan, Opung, saudara-saudara, dan teman-teman Mami.
Nixon sayang, Mami juga bersyukur Tuhan memakaimu sebagai saluran berkat. Nixon sudah membantu teman dan saudara Nixon dengan mendonorkan ASIP Mami. Kamu punya saudara-saudara sepersusuan, Bang. Lucu ya!
Nah, usia 6 bulan tandanya lampu hijau untuk MPASI. Mami semangat sekali, Bang, mau menyuapimu makan. Mami harap kamu menyenangi pengalaman makanmu, sama seperti Papi Mamimu yang hobi makan. Hahaha... Sehat-sehat terus dan makan yang lahap ya, Bang!
Dalamnya laut tidak melebihi dalamnya kasihku padamu.
Peluk hangat,
Mami
Wednesday, September 21, 2016
Setengah Jalan Menuju S1
Walaupun saya harus bekerja, saya bertekad Nixon harus lulus ASI eksklusif. Enggak muluk-muluk, minimal 6 bulan saja sampai dia mulai makan makanan padat. Kalau bisa sampai 2 tahun, itu bonus buat dia. ASI eksklusif selama 6 bulan seperti yang dianjurkan oleh WHO (World Health Organization) penting banget untuk perkembangan otak bayi, daya tahan, dan juga ternyata social skill bayi. Untuk ibu, ASI juga bermanfaat sebagai kontrasepsi alami (jadi enggak hamil lagi untuk sementara waktu), bahkan bisa membantu menurunkan berat badan pasca melahirkan (saya setuju banget yang ini!)
Nah, awal-awal setelah melahirkan, enggak ada masalah sama sekali dengan produksi ASI saya. Bahkan 2 minggu sebelum Nixon lahir, saya sudah memproduksi kolostrum, si cairan kuning pekat yang hanya dihasilkan selama beberapa hari setelah melahirkan. Sepulang dari rumah sakit, payudara saya juga sempat bengkak karena produksi ASI cukup banyak sementara Nixon baru minum sedikit sekali (lambung bayi baru lahir hanya sebesar kelereng). Akhirnya, berdasarkan saran dari teman baik saya, saya mulai memompa ASI. Saya menggunakan pompa manual merk Pigeon. Pertama kali saya memompa, kolostrum yang dihasilkan hanya sekitar 20cc. Ternyata karena payudara saya terlalu bengkak, kolostrum justru sulit dipompa. Saya sempat menangis waktu itu, karena nyeri dan karena takut saya mengalami mastitis (infeksi di kelenjar susu). Setelah berkonsultasi dengan teman-teman, akhirnya saya mulai mengompres payudara dengan air hangat dan dingin bergantian. Ajaib, setelah dikompres kolostrum saya mulai mengalir deras ketika dipompa. Saya berhasil mengeluarkan sekitar 60 ml kolostrum dari masing-masing payudara.
Masalah lain pada saat awal saya menyusui adalah puting lecet. Menurut yang saya baca, puting lecet disebabkan oleh perlekatan (latch-on) yang tidak baik antara mulut bayi dan payudara ibu. Bisa jadi hanya puting ibu yang masuk ke dalam mulut bayi, padahal seharusnya puting dan sebagian besar areola (lingkaran gelap yang mengelilingi puting). Saya pun mengalami hal itu (hiks!). Ya walaupun saya dokter dan sudah paham tentang perlekatan yang benar, tapi dalam prakteknya susah juga yah :( Minggu pertama saya menyusui Nixon, saya sangat kesakitan karena puting saya lecet-lecet. Rasanya jangan ditanya. Ngilu sampai kaki tiap kali menyusui, bahkan kadang saya sampai menggigit kerah baju saya untuk menahan sakit saat menyusui.
Melewati bulan pertama, saya mulai merasa nyaman saat menyusui Nixon, produksi ASI pun lancar jaya. Sambil menyusui, saya masih bisa menabung ASI perah (ASIP) sebanyak 300-400 ml per hari. ASIP dapat bertahan kualitasnya selama 6 bulan apabila dibekukan di freezer khusus ASIP/ freezer kulkas 2 pintu. Penting banget bagi ibu pekerja untuk menabung ASIP selama cuti melahirkan, untuk antisipasi produksi ASI berkurang setelah bekerja. Dan memang benar, saya merasa produksi ASI saya menurun semenjak masuk kerja (padahal baru 2 minggu kerja!)
Dengan jam kerja saya yang 9 jam per hari, saya harusnya dapat memompa ASI sebanyak 3 kali. Namun karena jam kerja saya berbeda-beda setiap harinya, maka jadwal memompa saya di tempat kerja pun tidak teratur. Dengan memompa 3 kali selama di tempat kerja, saya dapat membawa pulang ASIP sekitar 400-500 ml. Namun ini masih kurang, karena Nixon minum sekitar 5 kali selama saya tinggal dan volume susu yang dia minum 120 ml, jadi selama saya tinggal dia menghabiskan sekitar 600 ml ASIP. Nah, makanya saya harus memompa 1-2 kali lagi di rumah agar tidak defisit. Biasanya saya memompa malam sebelum tidur dan pagi sebelum berangkat kerja. Beberapa sumber bilang kalau memompa paling efektif itu di pagi-pagi buta, tapi saya enggak kuat! *bendera putih
Puji Tuhan sampai sekarang tabungan ASIP beku belum pernah saya pakai dan tersimpan aman di freezer dan Nixon minum ASIP yang diperah sehari/ dua hari sebelumnya yang hanya saya simpan di chiller. Harapan saya sih Nixon enggak perlu minum ASIP beku, jadi tabungan saya itu bisa didonorkan untuk bayi-bayi lain yang memerlukan. Kan seneng kalau bisa jadi saluran berkat untuk orang lain.Hehehe...Semangat ya untuk semua ibu pekerja!
![]() |
Tabungannya Nixon
|
Monday, July 11, 2016
Dear Son
June 11th, 2016
Our dear Paulus Nixon Hutajulu,
It was exactly 1 month ago when Mami gave birth to you. Since then, you have changed our whole world.
You are a great gift from God. Such an amazing grace to be your warm nest for 38 weeks and to be your parents for as long as we live. Our prayer is that you will grow healthily, be a child of light, and glorify God with everything you do.
We love you, Son.
Monday, May 30, 2016
Perenungan Bulan Terakhir
30 Mei 2016
Enggak terasa kehamilan saya udah masuk minggu ke-37. Beberapa minggu lagi saya bisa bertemu langsung dengan sosok yang selama 9 bulan ini menyertai saya di manapun, menendang perut saya, dan membawa perubahan besar pada diri saya, fisik dan mental.
Banyak teman yang bilang hamil itu menyenangkan karena kamu merasa seperti ratu, semua keinginan dituruti, kemana-mana diantar, dan diberi perhatian lebih oleh keluarga. Hal itu enggak berlaku buat saya. Maksud saya, hamil itu sendiri sudah menyenangkan, di luar semua keuntungan tambahan yang didapatkan oleh ibu hamil.
Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, menjadi seorang istri prajurit membutuhkan keikhlasan. Dalam masa kehamilan ini, agak sulit buat saya untuk melaksanakan pesan tersebut. Walaupun saya menyadari bahwa tugas suami lebih penting daripada keluarga, namun ada kalanya situasi membuat saya sulit untuk menelan fakta tersebut.
Dengan situasi tinggal seorang diri di rumah dinas, tidak jarang sayang merasa kesulitan menjalani kehamilan ini. Di satu pagi kaki saya keram dan tidak ada suami yang bisa membantu meluruskannya, di malam lainnya saya mengalami demam dan tidak ada suami yang bisa memberi saya obat dan mengompres dahi saya. Beberapa kali saya bercerita ke suami tentang semua keluh kesah saya, berharap ia dapat menyempatkan diri untuk menemui saya dan calon anaknya. Dan ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, saya pun kecewa dan sedih.
Namun Tuhan masih begitu baik pada saya, Ia membuka mata saya dan menyadarkan saya betapa suami saya senantiasa berusaha meringankan beban saya dari kejauhan. Seminggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi suami saya di batalyon tempatnya bertugas. Saya melihat langsung tempat tinggalnya, tempat ia bekerja, makanan yang ia makan sehari-hari, dan orang-orang yang bergaul dengannya sehari-hari. Tempat tidur yang keras, makanan yang sederhana dan fasilitas seadanya, itulah yang ia dapatkan setiap hari. Tapi semua itu tidak pernah ia keluhkan, setiap kali kami berkomunikasi via telepon seluler. Saya tahu dan sadar, di luar kebersahajaannya sebagai seorang prajurit, ia tidak mau membuat saya khawatir. Betapa suami saya telah mengurangi beban saya dari kejauhan!
Terima kasih suamiku yang telah menjadi sistem pendukung terbaikku. Semoga kita bisa selalu saling menopang, mendorong, dan menjaga. God bless your kind heart.
Monday, April 4, 2016
Menjadi Istri Prajurit
Mungkin banyak orang bilang menjadi istri prajurit itu keren, tapi saya yakin enggak akan ada yang bilang menjadi istri prajurit itu gampang. Ketika saya memutuskan untuk menikah dengan seorang prajurit, ketika itu juga saya menyatakan ikhlas untuk menanggung semua risikonya.
Saya harus ikhlas ketika suami saya harus pergi bertugas ke luar kota (atau keluar negeri) selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
Saya harus ikhlas ketika banyak momen penting dalam keluarga yang harus saya jalani sendiri; ulang tahun, ulang tahun pernikahan, bahkan... kelahiran anak.
Saya harus ikhlas ketika saya harus melakukan segala sesuatu sendiri; bekerja, mengurus rumah, bersosialisasi dengan keluarga besar, dan berorganisasi.
Saya harus ikhlas ketika saya harus menggantikan peran suami saya dalam keluarga; sebagai bapak, sebagai abang, sebagai anak, dan sebagai sahabat.
Menjadi istri prajurit adalah tantangan yang besar dan membutuhkan kerja keras. Dulu, tidak pernah terpikir oleh saya akan menjalani kehidupan sebagai istri prajurit yang menurut saya kaku dan penuh aturan. Tapi siapa sangka, saat ini saya justru menjadi bagian dari keluarga militer.
Walaupun berat, saya bersyukur dipertemukan dengan suami saya. Tuhan memang memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan inginkan. Saya bersyukur untuk pembelajaran yang saya dapatkan melalui kehidupan saya sebagai istri prajurit. Saya bersyukur untuk suami yang menerima kekurangan saya dan bahkan selalu mendorong saya untuk terus belajar. Dia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi istri prajurit yang terbaik, namun penerimaannya itulah yang justru memotivasi saya untuk menjadi lebih baik lagi. Suami saya adalah anugerah Tuhan untuk saya! :)
Untuk para istri prajurit, para perempuan terpilih, semoga kita bisa terus mendampingi dan mendukung suami masing-masing dalam pengabdiannya. Semangat!
Wednesday, February 24, 2016
Baby Wishlist
Sunday, February 7, 2016
First Time Meeting dr. Bambang Karsono, SpOG(K)
Thursday, December 31, 2015
Christmas 2015
![]() |
| Pinkish in-Laws + Reddish Us + Yellow Bro in Law |
![]() |
| Sempet-sempetnya foto sama Pendeta! |
![]() |
| Ber-Natal bersama rekan kerja suami :) |
Merry Christmas all! God bless you!











