Thursday, February 5, 2026

Life Chapter: Ambon Manise

Hai haii..

Sudah lama sekali gue hiatus dari blog ini. Hahaha... Harap maklum ya gaes ya, karena menulis blog itu menurut gue perlu effort yang lebih besar dibandingkan mengedit foto atau video. Gue harus mikirin topik apa yang mau gue tulis.

Nah berhubung udah lewat 4 tahun sejak terakhir kali gue nulis blog, emang udah terlalu banyak kejadian yang terlewati tanpa adanya jejak di blog ini. Secara ringkas, dalam 4 tahun ini gue akhirnya menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) gue, melahirkan anak laki-laki gue yang kedua, pindah ke Ambon bersama keluarga kecil gue, mendapat pekerjaan gue yang pertama sebagai dokter spesialis mata, dan pindah lagi ke Jakarta di akhir Desember 2025.

Bagi gue, Tuhan itu adalah PERANCANG YANG SEMPURNA. Tapi, gue merasa gue enggak mengimani itu 100% sebelum gue tiba di Ambon.

Why? 

Selama 34 tahun gue hidup, gue selalu beribadah di gereja konvensional yang berlandaskan adat Batak. Dari ajaran dan kotbah yang gue dengar dan gue proses dengan pemikiran gue yang sempit ini selama 34 tahun, gue mengambil kesimpulan bahwa:
Tuhan mengasihi gue kalau gue melakukan hal yang baik di mata Tuhan.
Tuhan makin mengasihi gue kalau gue melakukan lebih banyak hal yang baik di mata Tuhan.

Dua kesimpulan itu yang gue pegang selama 34 tahun gue beribadah di gereja 4 huruf. Dua kesimpulan itu yang memotivasi gue untuk melakukan pelayanan di seksi remaja, seksi pemuda, seksi sekolah minggu, seksi segala rupa. Yang pasti gue seneng banget melayani di gereja. Gue bangga dengan pelayanan yang gue lakukan selama ini untuk gereja yang gue sayangi.

Sampai akhirnya gue harus ikut suami gue pindah ke Ambon. Yang gue inget kala itu, gue sama sekali enggak khawatir soal rumah tinggal, soal sekolah, ataupun tempat hiburan di Ambon. Yang bikin gue khawatir adalah enggak ada si gereja 4 huruf di Ambon. WHAT?? Kok bisa. Padahal gue kira di tiap provinsi di Indonesia ada si gereja 4 huruf, wong di luar negeri aja ada. Ternyata gue salah gaes. Enggak ada gereja itu di Ambon. Sebagai pengikut garis keras (wkwk), gue cukup getir mengetahui fakta harus lepas dari gereja 4 huruf selama waktu yang tidak dapat ditentukan.

Lalu mulailah gue meriset gereja apa aja yang ada di Ambon. Suami yang udah berangkat duluan ke Ambon, juga ternyata udah melakukan riset kecil-kecilan. Dia cobain tuh aneka gereja di Ambon, dan ternyata hatinya berlabuh di sebuah Gereja Betel di bilangan Halong Atas. Yup, Gereja Betel. Dalam pikiran gue kala itu, oke gimana gue menghadapi ibadah dengan puji-pujian sambil tepuk tangan dan menangis. Argh, STRES!

Awal-awal mengikut ibadah di gereja itu, gue enggak menikmati sama sekali. Gue risih menyanyikan pujian sambil angkat tangan, tepuk tangan, bahkan menangis. Tapi ternyata di gereja inilah gue mendapatkan insight yang sangat berharga, yang membuat gue mampu menghadapi badai dalam kehidupan gue.

Di gereja ini gue belajar bahwa: Tuhan mengasihi gue either gue melakukan hal yang baik ataupun enggak baik di mata-Nya. Kasih Tuhan itu sifatnya bukan transaksional. Gue menerima rezeki bukan karena gue baik, gue mengalami penderitaan bukan karena gue enggak baik sehingga dihukum oleh Tuhan. Tapi semua yang gue alami adalah bagian dari RENCANA BESAR TUHAN dan rencana besar Tuhan itu adalah rancangan DAMAI SEJAHTERA (Yer 29:11-14). Yang perlu gue lakukan adalah menyerahkan diri gue untuk dibentuk.

Seperti yang Bapak Pendeta kutip dari penulis buku "The Purpose Driven Life", Pastor Rick Warren: "The first purpose of your life is to be loved by God." Dia enggak lebih sayang sama orang beriman dan kurang sayang sama orang yang begajulan. Dia enggak bisa memungkiri hakikat-Nya bahwa Ia adalah KASIH YANG SEMPURNA. 

Pahit dan manisnya kehidupan adalah cara Tuhan mengasihi kita. Sekarang bagaimana kita meresponi kasih-Nya? Memang pikiran manusia yang sempit enggak akan bisa mendalami rancangan Tuhan, tapi iman kita bisa meresponi dengan cara yang positif. Trust and obey.

Sekarang, sudah 1 bulan lebih gue kembali ke Jakarta. Jujur aja, di Ambon kehidupan kami sangat nyaman dan cukup. Puji Tuhan. Nah, meninggalkan zona nyaman dan kestabilan ekonomi itu berat loh sob! Dan sekarang pun ternyata gue belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasi gue. Khawatir? manusiawi sih, karena dapur tetap harus ngebul kan ya. Apalagi dengan expense yang harus dikeluarkan untuk perpindahan ini. Tapi gue yakin Tuhan punya maksud lain. Dia enggak mungkin mencurangi gue. Dia sayang gue.

Gue yakin 10 tahun dari sekarang, gue akan tersenyum membaca blog ini. Tersenyum karena rencana Tuhan baik dan indah.

Gue juga berharap blog ini membawa insight baru untuk para pembacanya yang sedang merasa putus asa. Buat yang sedang bertanya-tanya, kenapa hal ini terjadi sama gue Tuhan? Jawabannya satu. Karena Tuhan sayang lo. Titik. Tuhan punya rancangan DAMAI SEJAHTERA. Walapun sekarang lo merasa hidup lo diobrak-abrik, amburadul, dan berantakan, tapi berita bagusnya cuma ada satu scene ending buat anak Tuhan: DAMAI SEJAHTERA. Amin!

Thank you for the lesson, Ambon Manise!

NB: terima kasih untuk Ps. Chris Manusama dan Ps. Yotty Manusama dari GBI Rock Ambon.

Tuesday, September 6, 2022

Menjadi Anak SD dan Orang Tua Anak SD

Tanpa terasa, anak sulung saya sudah memasuki jenjang sekolah dasar. Hampir 2 bulan yang lalu saya hadir di sekolah baru si Abang untuk pertemuan guru dengan orang tua murid. Ketika itu, seorang Suster memimpin doa pembuka (sekolah anak saya adalah sekolah Katolik). Salah satu kalimat dalam doa beliau kurang lebih seperti ini: "Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."

For me, those words are STRONG. Beberapa minggu ini, kalimat dalam doa tersebut selalu terngiang di otak saya. Memasuki jenjang sekolah dasar, saya merasakan betul bahwa pelajaran yang akan dihadapi oleh si Abang akan semakin berat dengan tingkat kerumitan dan jumlah mata pelajaran yang meningkat. Belum lagi, pandemi juga masih berlanjut sehingga pembelajaran jarak jauh bisa saja dijalankan kembali apabila memang jumlah kasus meningkat lagi. Situasi itu membuat saya menjadi anxious. "Apakah anak saya akan bisa menjalaninya?"

Maka mulailah saya mencari-cari tempat les, mengatur sesi belajar di malam hari, karena hanya di malam hari saya bisa mendampingi si Abang belajar. Kadang belajar bersamanya terasa menyenangkan karena kami bisa menikmati waktu berkualitas bersama, tapi di waktu lain belajar bersama terasa sangat berat hingga saya tidak kuasa menahan emosi dan nada tinggi. Kadang ketika nada bicara saya sudah mulai meninggi ketika mengajar, air mata mulai menggenang di kedua mata anak saya. Di titik itulah saya tersadar.

Apa yang sedang saya lakukan?

Apakah saya sudah membuatnya trauma?

Apakah saya memaksakan standar diri saya ke anak kami?

Saya pun terpukul ketika mengingat tatapan si Abang ke saya, ketika saya merasa gemas karena dia belum memahami materi yang saya ajarkan atau ketika tulisan tangannya tidak rapi. Tatapan dengan rasa bersalah. Rasa bersalah yang seharusnya tidak ada. Rasa bersalah yang saya ciptakan dalam dirinya, ketika dia tidak memenuhi ekspektasi saya dalam hal akademis. Padahal kami pun bukan orang tua yang sempurna. Saya dan suami sama-sama bekerja, tidak jarang pulang malam dan tidak jarang keluar kota bahkan keluar negri berbulan-bulan. Tap tak pernah ia bernada tinggi pada kami, tak pernah ia merasa gemas karena orang tuanya tidak ada di sana ketika ia membutuhkan kami.

"Ampuni kami Tuhan, apabila kami menuntut hal-hal yang belum bisa dilakukan oleh anak-anak kami..."

Doa Suster yang saya dengar beberapa waktu lalu, pun akhirnya menjadi bagian dalam doa saya sehari-hari. Anak saya bukan robot ataupun mobil-mobilan yang dapat dikendalikan untuk dapat beradu dengan anak lain. Dia memiliki perasaan, minat, dan juga cara berpikirnya sendiri. Saya sebagai orang tua tidak hanya bertanggung jawab terhadap nilai akademisnya, namun juga memelihara keimanannya dan kesehatan mentalnya.

Saat ini pun saya masih belajar merubah pola pikir saya. Anak kami bukanlah versi kecil dari kami. Ia mempunyai perjalanan hidupnya sendiri. Saya hanya bertugas mendampingi dan mengasihinya sehingga ia menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan berdasarkan standar saya. Les dan belajar bersama bukanlah hal yang salah untuk dilakukan, namun harusnya hal tersebut saya lakukan tanpa emosi dan paksaan.

Bagi orang tua yang sudah memiliki pemahaman ini, saya turut berbahagia. You guys are in the right way. Bagi orang tua yang memiliki kegalauan yang sama, mari kita sama-sama belajar dan berdoa. Berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi anak kita seutuhnya. Semoga Tuhan memberkati anak-anak kita. 

Monday, August 16, 2021

Kisah Pendek Tentang Mama

 Mamaku lahir 67 tahun yang lalu di Pansur Batu, Tarutung, Sumatera Utara. Mama adalah anak bungsu dari 6 bersaudara. Katanya, dahulu Mama punya Ito (saudara laki-laki) yang meninggal muda. Ayahnya adalah seorang pengusaha minyak kayu putih yang sukses, sementara Mamanya adalah petani yang handal. Dari caranya bercerita tentang Opung Doli (kakek), saya bisa melihat jelas kekaguman Mama akan Ayah tercintanya.


Opung Doli adalah seorang anak laki-laki sulung di keluarganya. Di dalam adat Batak kala itu, anak sulung adalah breadwinner, bukan hanya untuk keluarga intinya, tapi untuk keluarga besarnya. Anak laki-laki sulung juga diharapkan dapat menjadi pemimpin untuk keluarga besar. Dari apa yang kudengar dalam cerita-cerita Mama, aku bisa menarik kesimpulan bahwa Opung Doli berhasil menjalankan tugasnya dengan baik sebagai anak laki-laki sulung. Opung Doli berhasil dalam pekerjaannya, menafkahi keluarganya, dan membuka lowongan pekerjaan bagi saudara-saudaranya. Sebagai Ayah, Opung Doli adalah sosok yang sangat lembut, penyayang, tidak pernah marah, namun tetap tegas dalam mendidik anak-anaknya. Menariknya, Opung Doli juga pandai memasak. Mamaku bercerita, kalau Opung Doli sudah memasak, wanginya akan memenuhi seisi rumah, dan anak-anaknya akan berbaris menunggu masakan Opung Doli keluar dari dapur. Sebagai pemimpin keluarga besar, Opung Doli juga memberikan contoh yang baik untuk keluarganya. Beliau taat beribadah dan sangat dermawan kepada gereja. Opung Doli pernah mengalami kerugian dalam usahanya, yang disebabkan oleh saudaranya sendiri, namun Opung Doli tidak pernah berhenti berbuat kasih pada saudaranya itu. Saya sangat menyukai ekspresi Mama ketika bercerita tentang Opung Doli, wajahnya pasti berseri-seri dengan mata berbinar penuh kerinduan.


Tanpa Mama sadari, walaupun beliau bukan anak laki-laki apalagi anak sulung, banyak sekali kesamaan yang saya lihat pada dirinya dengan Opung Doli. Mama adalah seorang pengusaha yang luar biasa. Mama tidak bersekolah tinggi. Beliau lulus D1 dari IKIP Jakarta. No fancy title. Tapi dengan masa studi yang sependek itu (relatively, compared to me who spent 5 years to get my MD title and still going through my 3rd year of residency), Mama berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Bahkan sampai usianya saat ini, Mama masih bisa membuka lowongan pekerjaan  dan menjadi saluran berkat bagi saudara-saudaranya. Perusahaan Mama memang bukan perusahaan multinasional dengan omset trilyunan, tapi sangat cukup bagi keluarga kami. Dalam pekerjaan, Mama adalah sosok yang disiplin, bahkan galak, namun itu tidak membuatnya menjadi bos yang menakutkan. Pegawai Mama sangat menyayanginya, karena di luar pekerjaan, Mama tidak segan menunjukkan sisi keibuannya. Beliau adalah lady boss sejati!

Papa dan Mama

Dalam keluarga besar, Mama juga dikenal sebagai orang tua yang dermawan. Mama tidak akan ragu membuka dompet, untuk mengadakan acara kumpul-kumpul keluarga besar. Beliau senang bila keluarganya bisa berkumpul, sekedar untuk ibadah dan makan bersama. Keluarga yang kesulitan pun tak luput dari perhatiannya. Mama tidak segan-segan mengajak keluarga yang lebih mampu, untuk mengulurkan bantuan bagi keluarga yang kurang mampu. Tanpa basa basi, Mama akan "tembak langsung" bila ada keluarga yang pikir panjang untuk membantu. Cintanya pada saudara-saudari kandungnya pun, patut dicontoh. Bahkan setelah menyandang gelar Opung Boru (nenek) dari 3 cucunya, Mama tetap menyempatkan waktunya untuk bisa ber-quality time dengan Ito dan Kakak-Kakaknya. Walaupun tinggal berjauhan, mereka selalu saling merindukan. Sederhananya, mereka sangat erat sebagai kakak beradik. Dalam keluarga kecil kami, Mama adalah motor penggerak kami. Walaupun keras, Mama tetap adalah Mama yang penuh kasih sayang. Sewaktu kecil, ketika saya senang bermain air banjir di jalanan depan rumah, Mama akan memarahi saya dan memukul betis saya dengan sapu lidi. Setelah hukuman saya selesai, Mama akan memeluk saya dengan sangat kencang dan menjelaskan kenapa beliau memarahi saya. Bahkan ketika saya hamil, Mama akan marah kalau tahu saya jajan jajanan bermicin atau tidak menghabiskan minuman kacang hijau yang beliau buat, tapi wajah cemasnya ketika mendampingi persalinan saya, itu priceless. 

Mama dan Kedua Kakaknya

Mama adalah ratu sosial. Haha, but it's true! She IS the queen bee. Tidak seperti saya, Mama tidak akan pernah kehabisan topik yang bisa diperbincangkan. Beliau adalah orang yang sangat terbuka, bahkan terkadang terlalu mudah percaya. Karena sifatnya yang mudah percaya itu, Mama harus melalui titik terendah dalam kehidupannya. Tapi hal itu membuatnya belajar, loyalty is the most important thing in friendship. Sekarang ini, Mama sangat enjoy menghabiskan waktu bersama teman-teman terdekatnya, yang sudah beliau kenal sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Walau terkadang, sepulangnya dari refreshing, Mama akan kena omelan saya, karena masih berani kelayapan di masa pandemik. Hahaha!

Mama dan Beberapa Sahabatnya

With all the things she has done, I can't believe she still has time to do all of her hobbies. Mama suka sekali akan banyak hal. Mama sangat up-to-date soal fashion. She IS the trendsetter. Tidak jarang saya mendengar Mama mengucapkan tidak akan beli baju baru lagi, karena lemari dan kontainer pakaiannya sudah penuh sesak, namun sepertinya ucapan itu hanya berlaku seminggu, sebulan paling lambat! Menurutnya, pakaian yang cantik membuatnya sangat percaya diri, terutama bila sedang bekerja. Mama juga sangat senang bereksperimen di dapur. Kata adik iparku, makanan di rumah kami selalu jatuh pada 2 golongan, makanan enak atau makanan enak banget. Haha, so true! Masakan Mama memang enak banget, bahkan tumisan sayur biasa aja rasanya beda kalau Mama yang masak. Tapi saya enggak pernah berhasil mempelajari resepnya, karena Mama enggak pernah punya takaran pasti untuk masakannya, semuanya ilmu kira-kira. Mama juga sangat senang memelihara tanaman. Ini bukan hobi yang baru muncul sejak pandemik, loh. Sedari saya kecil, Mama sudah gemar memelihara tanaman dan bunga. Tapi semenjak pandemik, hobinya ini semakin menjadi-jadi. Travelling juga adalah salah satu hobi Mama, yang mana jadi sangat terbatas semenjak pandemik Covid-19. Tapi enggak juga sih, Mama masih tetap jalan-jalan antarpropinsi selama pandemik ini. Jiwa petualangnya memang cukup besar, sehingga agak sulit terbendung, despite the pandemic. Syukurnya, beliau menjalankan protokol kesehatan dengan cukup baik, sehingga sampai detik ini masih terhindar dari si virus.

My Gorgeous Mom

Oh, I can go on and on and on when telling her stories. Just like the way my Mom admires her Father, I adore her as much. I am so proud of her and always will be. And someday, when my children asked me about their Opung Boru, I will gladly re-read this post.


I love you, Mom.



Tuesday, April 14, 2020

Bekerja dari Rumah, Belajar dari Rumah, Ibadah di Rumah, Versiku

Wabah COVID-19 memang sangat mengkhawatirkan. Jumlah pasien yang positif meningkat pesat, yang meninggal karenanya pun tidak sedikit. Orang-orang di sekitar saya, sejawat saya, pendeta yang saya kenal, relatif saya, juga mengalami imbasnya. Semenjak Presiden Jokowi mengumumkan bahwa penduduk Indonesia harus bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah tanggal 15 Maret 2020, banyak sekali perubahan yang terjadi pada saya dan keluarga saya.

Bekerja dari Rumah
Hal ini tentu tidak dapat saya lakukan. Sebagai tenaga medis, saya tetap bekerja di rumah sakit, walaupun dengan intensitas yang lebih rendah dari biasanya. Saya bekerja di poliklinik 2-3 kali seminggu dan di IGD 2 kali dalam sebulan. Ayah saya tidak banyak mengalami perubahan, karena beliau memang sudah tidak bekerja lagi. Sementara itu, ibu sayalah yang paling merasakan dampak dari anjuran pemerintah ini. Ibu saya adalah wanita yang sangat aktif, tidak bisa diam di rumah. Jadi ketika Presiden Jokowi mengumumkan work from home kami sudah bisa menduga pasti ibu sayalah yang paling sulit menahan diri. Ibaratnya, dia bisa "stres" kalau di rumah saja! Wkwkwk... Selama beberapa minggu ini, "pekerjaan" kami di rumah adalah olah raga pagi, berjemur, makan pagi, mandi, mendampingi anak saya belajar, membersihkan perabotan atau mainan anak saya, makan siang, menonton film, tidur siang, makan kudapan sore, mandi, makan malam, dan menonton televisi atau menemani anak saya bermain sampai mengantuk. Such a slow life! Hahaha... Ibu saya kadang mengeluh karena dia sangat rindu keluar rumah. Saya? Saya pribadi merasa ini seperti mimpi! Di tengah kesibukan residensi, acara keluarga (ada orang bilang orang Batak setiap minggu pasti ada pesta atau arisan), dan kesibukan lainnya, saya mendapat kesempatan untuk bangun pagi dan memandangi wajah anak saya (ya maunya suami saya juga, tapi dia masih di Lebanon..wkwkwk) yang sedang tidur tanpa khawatir akan terlambat ke rumah sakit. Entahlah, mungkin memang pada dasarnya saya orang yang introvert, tapi menurut saya momen ini priceless.


Belajar dari Rumah
Ada 2 orang di rumah yang masih mengikuti pendidikan formal, yaitu saya dan anak laki-laki saya. Akibat wabah COVID-19 ini, pendidikan spesialis saya memang mengalami hambatan, istilahnya dalam beberapa minggu ini proses belajar di rumah sakit mengalami resesi, walaupun tugas akademik tidak diundur tenggat waktunya (hiks). Anak saya juga harus belajar dari rumah. Setiap hari Miss yang mengajarnya di sekolah akan mengirimkan video, tugas apa saja yang harus dilakukan oleh anak saya hari itu. Saya sebagai orang tuanya, diminta untuk mendampingi proses belajarnya. Memang menjadi guru ternyata tidaklah mudah. Seringkali saya tidak sabaran dalam mengajar anak saya dan berujung pada wajah seram dan suara tinggi. Kadang saya merasa bersalah, karena apa yang saya lakukan itu bisa saja membuat anak saya trauma dan tidak mau belajar lagi. Sedikit demi  sedikit, saya mempelajari karakter anak saya, mengenali cara belajar apa yang paling nyaman untuknya. Proses mendampinginya belajar juga membuat ikatan perasaan yang dulu terasa longgar karena minimnya kebersamaan, kini menjadi erat kembali. 

Ibadah di Rumah
Sejak 22 Maret 2020, kami sekeluarga telah memulai ibadah di rumah saja. Ibadah hari minggu bagi kami bukanlah semata untuk hadir di gereja saja. Hari minggu adalah hari keluarga untuk kami, karena biasanya kami bisa berkumpul lengkap di hari itu. Ibadah minggu pun seringkali dilanjutkan dengan acara makan bersama atau sekedar ngopi dan mengobrol di kafe. Sekarang, kami harus melaksanakan ibadah di rumah menggunakan live streaming. Memang pertama kali melakukannya, saya merasa canggung, namun setelah beberapa kali mengikuti ibadah virtual, saya merasakan ada sisi positifnya juga, loh. Di gereja seringkali perhatian kita terganggu, semisal ada sahabat yang mengajak ngobrol, ada baby yang menangis, ataupun ada jemaat yang menarik penampilannya. Di rumah, saya merasa ibadah saya menjadi lebih khusuk dan minim distraksi. Selain itu, sebagai guru sekolah minggu, saya dan teman-teman menjadi lebih aktif mempersiapkan ibadah virtual untuk anak-anak sekolah minggu di gereja kami. Setiap orang berpartisipasi, berusaha memberikan yang terbaik untuk dijadikan bahan ajaran. Beberapa waktu yang lalu, kami juga merayakan Hari Jumat Agung dan Paskah melalui ibadah virtual. Saya sangat merasakan keuntungan dari ibadah virtual ini, karena saya dapat mengikuti beberapa kali ibadah dari berbagai gereja tanpa harus bergerak kemana pun. Isn't it great?

Well, bukannya saya senang dengan adanya wabah COVID-19 ini. Namun, bagi saya pribadi, virus ini telah memberikan banyak pelajaran. Sudah pasti virus ini mengajarkan saya bahwa kita manusia ini, bukanlah apa-apa dibandingkan sang Pencipta. Lihatlah saat ini, kita takut pada sebuah virus, yang ukurannya bahkan lebih kecil dari sebuah sel. Just like that, Tuhan membolakbalikan dunia ini. Jadi tidak ada artinya bagi kita untuk menyombongkan diri, kemampuan, atau kepemilikan kita, karena semua itu fana. Bagi saya pribadi, pandemik ini adalah kesempatan yang diberikan bagi saya untuk merefleksikan diri saya, nilai-nilai yang selama ini saya pegang, dan apa yang benar-benar berarti bagi saya.  Tentu saja suatu saat pandemik ini akan berakhir dan kita harus melanjutkan hidup. Ketika waktu itu tiba, saya yakin kita semua telah siap untuk menjalaninya dan make the best of it. Tetap semangat walaupun di rumah saja, ya!

Monday, February 24, 2020

Appreciation Post

Sebenernya malu juga ya bikin postingan ini, karena setelah saya kilas balik postingan-postingan terakhir saya, ternyata banyak juga postingan tentang suami saya... Hehehe...

But anyway, I really have to post this. Bahkan sebenarnya saya sudah merencanakan untuk memposting tentangnya dari sebulan yang lalu *handsupyouprocastinators*

Awal tahun ini, tepatnya 3 Januari 2020, suami saya mendapatkan kepercayaan untuk bergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Satuan Tugas ini bertanggung jawab untuk menjaga keamanan di perbatasan Lebanon dengan Israel (memastikan tidak ada angkatan Israel yang menduduki Lebanon Selatan), membantu pemerintah Lebanon dalam pengembalian otoritasnya, serta menjaga perdamaian dunia secara umum. Oke guys, zuzur kalimat sebelumnya saya translate dari website ini: https://unifil.unmissions.org/ (silakan diklik kalau tertarik mengetahui lebih lanjut tentang UNIFIL)

Pertama kali suami saya memberitahukan bahwa dia akan berangkat penugasan lagi, saya cukup mengalami dilema. Another long-term deployment, another long distance marriage, and so on. Kalau pengalaman ditinggal suami untuk penugasan, tentu saja ini bukan pengalaman pertama saya. Selama 4 tahun kami menikah, saya rasa hampir separuhnya kami habiskan dalam jarak jauh. But that fact does not make it easier for me to accept another departure, having in mind that I'm still in the most tiring phase of my ophthalmology residency.

Selain penugasan selama 12 bulan, seluruh tentara yang akan diberangkatkan juga menerima pembekalan di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Sentul, terhitung sejak 3 bulan sebelum keberangkatan. Suami saya, yang ditunjuk sebagai Perwira Seksi Personil (Pasipers), juga intens mempersiapkan kelengkapan dokumen untuk keberangkatan serta kloter keberangkatan (chalk) selama masa pembekalan ini. Tidak jarang saya merasa sedih, karena suami begitu sibuk, bahkan sebelum dia benar-benar berada di Lebanon.

Singkat cerita, tibalah waktunya suami saya harus berangkat ke PMPP untuk dikarantina sebelum hari keberangkatan. Suami saya bercerita, ketika dia berpamitan kepada komandan di tempat dia berdinas, komandan (Kakum Kostrad) berkata padanya "Wah, pulang dari Lebanon bisalah beli mobil Innova, nih.".

Lalu saya bertanya pada suami saya, "Lalu kamu bilang apa?"

Suami pun melempar senyum pada saya dan menjawab, "Izin Kakum, uangnya mau saya tabung untuk membantu istri saya yang sedang sekolah."

Seketika itu juga saya menangis, bukan karena sedih, namun karena terharu mendengar jawaban suami saya. Saya tahu selama beberapa bulan yang lalu, suami saya berangan-angan membeli motor baru karena motornya sudah tua. Saya juga ingat, suami saya ingin membawa keluarganya pergi berlibur apabila dia mendapat rezeki. Tapi jawaban yang dilontarkannya ke Kakum, sungguh di luar dugaan saya. Dia menyatakan kasihnya pada saya di hadapan orang yang dia hormati.

So, this is my appreciation post for my husband. Thank you for always putting me as your priority. I am really really thankful to have you in my life and to walk  this path of life with you. Untuk sementara waktu ini, enggak ada lagi yang bawain air putih setiap bangun pagi dan sebelum tidur malam, enggak ada lagi yang ajak doa pagi bareng, dan enggak ada lagi rekan streaming film di laptop sambil makan martabak coklat keju. But, everything will be okay. Semoga kamu selalu dalam perlindungan Tuhan dalam pekerjaanmu di sana, menjadi terang dan garam di tengah-tengah lingkunganmu, kembali ke tanah air dalam keadaan sehat. Itulah yang paling penting!

On the Day of His Deployment

Saturday, March 23, 2019

The Firstborn

The firstborn has to deal with his parents' fuss
Because he arrives quite early
When his parents are still getting to know their real spouse

The firstborn has to deal with his parents' plainness
When they have no idea on what to do when colic strikes
Or when the new tooth pops

The firstborn has to deal with lonesomeness
Because his parents are still working hard to get the promotion
Or just to pay the bills 

The firstborn has to deal with his parents' ignorance
When their eyes cannot swift from the screens

The firstborn has to deal with his parents' misconception
That his world is not made of toys and books
But his parents' hugs and kisses

For so many things he has to deal with in his early life.
That is why the firstborn always takes a special room in his mother's heart.

Monday, June 26, 2017

My First Year of Breastfeeding

Hari ini tepat 1 tahun 2 minggu saya memberikan ASI eksklusif untuk Nixon. Kalau bahasa kekiniannya, Nixon sudah lulus S2 ASIX. Bukan bermaksud menyombong, tapi saya bersyukur sekali diberi kemampuan oleh Tuhan untuk memberi ASI kepada anak saya. Enggak sedikit ibu yang menyerah di tengah perjalanan memberi ASI untuk anaknya, terutama ibu pekerja. Nah, jadi saya mau sharing sedikit bagaimana saya dapat bertahan saat ini untuk memberi ASI untuk Nixon.

1. Tabungan
Pertama kali saya memompa ASI adalah 5 hari pasca melahirkan. Payudara saya bengkak dan nyeri. Sahabat sayalah yang mengajarkan cara memompa ASI yang benar. Sejak saat itu mulailah saya menabung ASIP. Selama cuti melahirkan, saya mengumpulkan cukup banyak ASIP tabungan. Ketika saya menyusui Nixon dengan payudara kanan, maka saya juga memompa payudara kiri, begitu pula sebaliknya. Sehari sebelum saya bekerja, ada sekitar 30 botol ASIP dan 60-an kantong ASIP di dalam freezer.

Mitos: Punya tabungan ASIP se-freezer adalah kunci untuk kesuksesan ASI eksklusif.
Fakta: Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan dan membuka buku pelajaran saya dulu, ASI itu unik, karena komposisinya yang berubah setiap saat, sesuai dengan kebutuhan bayi. Misal pada bulan-bulan awal, ASI lebih banyak mengandung protein untuk meningkatkan berat badan bayi, maka pada bulan berikutnya jumlah lemak yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan perkembangan otak. Jadi, sebaiknya jarak antara usia ASIP dan usia bayi enggak terlalu jauh, agar nutrisi yang diberikan pada bayi sesuai dengan kebutuhan di usianya.

Berbekal dari hasil riset, tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk memberi ASIP segar untuk Nixon setiap hari. Jadi, Nixon hampir enggak pernah minum ASIP yang sudah dibekukan (kecuali ketika saya sakit). Nixon minum ASIP yang saya bawa dari kantor sehari/ 2 hari sebelumnya dan hanya disimpan di chiller kulkas. Jadi kemana perginya 30 botol ASIP + 60 kantong ASIP? Some went to the babies who really need it, some went to waste.

2. While Me and My Baby Were Separated
Me:
Saya kembali bekerja tepat setelah cuti melahirkan saya habis, yaitu ketika Nixon berusia 2 bulan 3 minggu. Pertama kali saya memompa ASI di kantor, saya memerlukan waktu 50 menit hingga 1 jam untuk 1 sesi memompa. Berarti hampir 3 jam dari 9 jam waktu kerja saya dihabiskan untuk memompa *salim sama bos* Ternyata waktu saya banyak habis untuk merakit pompa dan mempersiapkannya (cuci, steril, dsb). Setelah membaca info dari Mom Eliz (Instagram: elizabeth.zenifer), akhirnya 1 sesi memompa dapat selesai dalam 30 menit. Triknya, saya enggak melepas lagi rakitan pompa kecuali corongnya. Corong pompa cukup saya simpan dalam plastik ziplock dan masukkan ke dalam kulkas hingga sesi memompa berikutnya. Ringkes banget!
Nah karena jam kerja saya berubah-ubah setiap harinya (saya kerja shift), maka waktu memompa pun berubah-ubah. Biasanya saya memompa 3 kali selama bekerja, yaitu sebelum mulai kerja, saat istirahat makan siang, dan sebelum pulang. Dengan cara ini saya dapat membawa pulang kira-kira sekitar 450-550 ml ASIP setiap hari.

My Baby:
Sebulan sebelum saya bekerja, Nixon sudah saya latih untuk minum ASIP menggunakan botol. Cukup drama sih, karena Nixon enggak langsung mau pakai botol. Setelah sekitar 10 kali mencoba, akhirnya Nixon mahir minum dengan botol. Ketika saya mulai kerja, kapasitas minum Nixon sudah 120 ml. Selama saya tinggal kerja, karena Nixon belum mulai makan MPASI, Nixon bisa minum sebanyak 5 kali. Artinya, selama saya tinggal kerja (kurang lebih 12 jam termasuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat kerja), Nixon menghabiskan sekitar 600 ml ASIP.

Secara perhitungan, ASIP yang saya bawa dari kantor masih defisit. Makanya saya menambah 1 lagi sesi memompa di rumah. Ini saya lakukan hingga Nixon berusia 6 bulan, karena setelah 6 bulan, Nixon sudah mulai MPASI dan kebutuhan ASI-nya "sedikit" berkurang. Oya, karena saya pemalas dalam hal pompa memompa, saya mengusahakan sekali untuk tidak memompa lebih dari 4 kali sehari. Jadi, saya pulang kerja tepat waktu (TENG-GO!) dan go straight home. Enggak ada lagi acara haha-hihi setelah kerja, mampir sana sini, well bisa dibilang kehidupan sosial agak dikorbankan *hiks*. Soalnya, makin lama saya terpisah dengan anak saya, maka makin banyak ASIP yang dia minum dan makin banyak hutang ASI saya, ujung-ujungnya saya harus makin sering pumping deh. Jadi ya, selama setahun ini, saya enggak mau terpisah dari anak saya kecuali ketika kerja atau acara penting (misalnya pertemuan Persit di kantor suami).

3. Things I Can't Go Without
My Breastpump
Saya punya 2 jenis pompa, manual dan elektrik. Pompa manual saya bermerk Pigeon, lungsuran dari kakak sepupu saya. Selama saya cuti melahirkan, inilah pompa yang saya gunakan, karena pompanya ringkes sekali. Pompa listrik saya bermerk Medela Swing, pemberian dari teman saya. Ini pompa yang saya pakai ketika mulai bekerja hingga saat ini.

Cooler Bag + Ice Pack
Sahabatnya pompa ya tas pendingin, untuk membawa perlengkapan memompa dan membawa ASIP. Saya menggunakan tas pendingin Okiedog dengan 2 buah ice pack. Menurut  saya semua merk tas pendingin sama saja kok, enggak ada yang lebih superior. Yang penting kompartemennya cukup besar untuk memuat pompa + ice pack + botol ASIP.

Tumbler + Snack
Namanya ibu menyusui, pasti sering haus dan lapar. Oleh karena itu, saya tidak pernah lupa membawa botol minum dan cemilan. Selama di tempat kerja biasanya saya menghabiskan sekitar 2,5 L air putih, belum termasuk minum selama di rumah dan minuman rekreasi seperti susu, teh, dsb. Cemilan yang biasa saya bawa roti-rotian, buah-buahan, es kacang, regal, atau malkist.

Nursing Apron
Sebenarnya apron enggak esensial banget sih, tapi karena dulu waktu hamil saya terlalu terobsesi sama apron lucu, jadilah saya punya 2 apron. Awal-awal memompa di kantor, saya masih rajin pakai apron. Lama-kelamaan, apron pun terhempas...hahaha...segalanya demi efektivitas waktu!

Supplements
Ini juga sama seperti apron, enggak esensial. Saya minum Suplemen jika saya merasa makanan saya hari itu kurang bergizi (contoh: nasi goreng). Saya minum Blackmores for Pregnancy and Breastfeeding, suplemen yang sudah saya minum sejak hamil. Suplemen ini fungsinya bukan untuk meningkatkan jumlah ASI ya (remember, supply by demand). Suplemen ini memastikan bahwa kebutuh mikronutrien saya dan Nixon terpenuhi. Kalau kita makannya udah sehat dan variatif, ya enggak perlu suplemen ya.

Kira-kira begitulah perjalanan saya dalam 1 tahun meng-ASI-hi Nixon. Apa saya akan melanjutkan perjalanan ini? Definitely yes. Tadinya saya mau menyerah dan berpikir untuk mulai memberi susu formula untuk Nixon. Tapi DSA enggak menyarankannya dan dari hasil browsing sana-sini, sedikit sekali kandungan susu  formula yang dapat dicerna usus bayi. Belum lagi efek sampingnya yang belum diketahui. Bukan berarti saya anti susu formula sih, tapi kalau saya masih dimampukan untuk memberi yang terbaik untuk anak saya, pasti saya akan memperjuangkannya. Ibu pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya bukan? :)



Tuesday, May 16, 2017

Nixon Dibaptis

Satu hal yang saya nanti-nantikan ketika suami saya pulang dari penugasan adalah membawa Nixon untuk dibaptis. Setelah usianya mencapai 11 bulan 3 hari, akhirnya Nixon kami pun menerima Sakramen Baptisan Kudus. Setelah berdiskusi dengan mertua dan orang tua, akhirnya kami memutuskan untuk membawa Nixon dibaptis di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.
 
Sekitar sebulan sebelum hari H, kami menemui pendeta untuk meminta diadakannya Sakramen Baptisan Kudus untuk anak kami. Akhirnya diputuskanlah bahwa Sakramen Baptisan Kudus akan diadakan pada tanggal 14 Mei 2017. Dua hari sebelum tanggal tersebut, saya dan suami mengikuti kelas konseling/ marguru bersama pendeta. Pesan yang dapat saya ambil saat konseling tersebut:
1. Sakramen Baptisan adalah satu dari dua Sakramen yang diakui oleh gereja, yaitu Sakramen Baptisan Kudus dan Sakramen Perjamuan Kudus.
2. Air yang digunakan pada saat Sakramen Baptisan Kudus melambangkan bahwa anak yang dibaptis telah menjadi satu dengan Kristus melalui kematian-Nya.
3. Anak dibaptis berdasarkan iman orang tuanya. Selanjutnya orang tua bertanggung jawab mendidik anaknya hingga saatnya dia mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamatnya (Sidi).
4. Kami harus hapal Pengakuan Iman Rasuli dalam Bahasa Batak! WOOOGHH!
 
Sebenarnya saya cukup hapal dengan Hata Haporseaon, namun mengingat situasinya nanti hanya kami berdua di depan altar yang harus mengucapkannya di depan seluruh jemaat, perut rada mules bok! Pada hari H, kami dapat mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli tersebut dalam Bahasa Batak dengan cukup lancar (tanpa teks loh!). Malahan sepertinya pendeta yang lebih khawatir kami grogi, jadi beliau banyak membisikkan clue-clue. Hahaha...
 
Puji Tuhan Sakramen Baptisan Kudus Nixon berjalan lancar, walaupun saat itu suami saya sedang demam dan Nixon juga sedang pilek + tumbuh gigi kelima dan keenam. Dia memang agak cranky tapi menurut saya cukup kooperatif dengan kondisinya yang sedang enggak prima.
 
Seusai acara Sakramen Baptisan Kudus di gereja, seperti keluarga Batak lainnya, kami pun mengadakan acara syukuran di sebuah restoran di Kelapa Gading. Acara syukuran tersebut dibarengi dengan acara adat "Pasahaton Ulos Parompa" oleh Ompung Bao (orang tua saya) dan Tulangnya Nixon (ito saya). Ulos Parompa sendiri adalah sebuah kain yang digunakan untuk menggendong bayi, namun saat ini Ulos Parompa adalah simbol kasih sayang Ompung Bao terhadap cucunya (saya juga enggak mau sih gendong Nixon pake ulos, kaku cyin!)
 
Jadi, urutan acara Syukuran Baptisan Nixon kemarin adalah sebagai berikut (dengan sahut menyahut antar protokol in between):
1. Kami beserta Dongan Tubu menyambut Hula-Hula dan Tulang (Tulang saya dan Tulang suami).
2. Ibu saya mangumpa/ memberi saya dan suami saya makan nasi dan ikan mas (again...)
3. Hula-Hula menyampaikan ikan mas kepada keluarga kami + ayah saya menuangkan beras (Sipir Ni Tondi) di atas kepala kami
4. Kami (Dongan Tubu) menyampaikan Tudu-Tudu Sipanganon kepada Hula-Hula
5. Makan siang bersama
6. Pasahaton Ulos Parompa
7. Pasahaton Piso-Piso
8. Pasahaton Hata Poda (aka mandok hataaa...)
9. Mangampu Hula-Hula dohot Tulang (alias ucapan terima kasih)
 
Acara syukuran berlangsung dari pukul 12.00 hingga 16.00. Walaupun acaranya relatif lebih pendek daripada acara adat Batak lainnya, tapi entah kenapa badan saya remuk redam. Suami makin demam, Nixon juga makin pilek *wannacry*. Mungkin faktor usia *hiks*, mungkin juga karena saya jaga malam semalam sebelumnya. Tapi saya bangga loh bisa menggunakan kebaya dari pagi hingga sore sambil tetap menyusui Nixon di sela-sela acara.Enggak gampang!
 
Yang pasti, kami bersyukur telah menyerahkan Nixon pada Tuhan melalui Baptisan Kudus. Tugas berat menanti di hadapan kami, yaitu mendidik Nixon menjadi anak yang takut akan Tuhan, sekaligus membimbingnya untuk mengenal Tuhan kami yang penuh kasih. Semoga anak kami mengalami indahnya kasih Tuhan dalam hidupnya, sama seperti yang kami alami. Selamat ya, Nak!
 
 
 
 
Bersama Ompung Bao/ Ompung Gading

Bersama Ompung Suhut/ Ompung Cimahi
Terima Kasih Amang Pdt. Elvis Marpaung S.Th

Monday, April 24, 2017

Mama's First Night Shift After Giving Birth to Nixon

Finally, I got my night shift again. It felt terrible, not because I wouldn't sleep all night long, it's because I couldn't spend it with my baby. Nixon is still breastfed 2-3 times at night and he has to sleep really close to me, sometimes he pushes me to the end of the bed until I almost hit the floor. Well, I guess it's the risk I have to take for my profession. I do believe my son has the greatest Caretaker, stronger than me, more loving than me, and never misses one second watching over him and even me and the whole world :)

Good night world, keep up your good health.

Saturday, April 8, 2017

Tantangan Permainan Sensorik

Pasti ibu-ibu muda sudah sering mendengar tentang permainan sensorik atau "sensory play". Kalau saya search #sensoryplay di Instagram, pasti akan ada banyak ide permainan yang melatih indera anak. Permainan sensorik ini penting, karena melalui permainan ini anak dilatih untuk menggunakan inderanya untuk menerima berbagai stimulan (warna, suara, tekstur, rasa, suhu) dan mengintegrasikannya. Contohnya, es batu itu berwarna putih atau transparan, teksturnya licin, rasanya tawar, dan suhunya dingin.

Nah ternyata permainan sensorik hanyalah salah satu irisan dari pendidikan dini pada anak. Selain melatih indera, kita juga harus melatih kemampuan anak berbahasa (membaca buku), kehidupan praktis (cara merawat diri, orang lain, dan lingkungan), berhitung/ matematika, dan kebudayaan (geografi, botani, zoologi). What? Ternyata PR mamak banyak ya! *cry*

Pendidikan anak memang jadi tanggung jawab orang tua. Walaupun saya bekerja, tapi saya tetap harus meluangkan waktu untuk pendidikan Nixon. Saya rasa semua mama pekerja juga berprinsip sama ya. Hehehe... Bahkan setelah saya blog surfing, ada ibu yang membuat sendiri kurikulum pendidikan anaknya di rumah! *applause*  Bagi saya pribadi pada kenyataannya, seringkali badan ini terlanjur remuk redam untuk menyempatkan main dengan Nixon, yang berujung saya hanya tiduran di samping Nixon yang asik ngutak-ngatik barang apapun yang ada di dekatnya. Ah, sedih!

Makanya nih, kali ini saya menantang diri saya sendiri, untuk membuat to-do-list permainan yang harus saya lakukan dengan Nixon sebelum dia genap 1 tahun (which is ga sampe 3 bulan lagi). Hahaha.. mamak rempong obsesi besar! Nah, dari hasil stalking-stalking IG, pin-pin di Pinterest dan browsing sana-sini, beginilah kira-kira list-nya baby Nixon:

1. Discovery Basket
Sesuai judulnya, Discovery Basket itu keranjang yang isinya barang-barang untuk ditemukan. Isinya beneran bisa apa saja, saya pernah lihat keranjang yang isinya CD, measuring spoon yang biasa dipakai untuk menakar bahan kue, boneka, pompom, and the list goes on. Karena Nixon masih fase oral banget (segala barang dimasukkin mulut), sepertinya saya akan memasukkan barang-barang yang tidak mudah hancur saat terkena air liur, tidak mudah sobek saat digigit, dan tidak tajam ya.

2. Sensory Bin
Sensory bin yang paling banyak saya temukan di IG adalah sensory bin dengan tema binatang-binatangan. Saya sudah pernah membuat sensory bin 1 kali dengan menggunakan mainan ikan-ikanan dan waterbeads. Nixon suka sekali mengaduk-aduk sensory bin-nya, tapi ya ikan-ikanannya berakhir di mulut dia. Hahaha... Lain kali saya mau mencoba membuat sensory bin menggunakan bahan agar-agar, beras, spaghetti, dan tepung.

3. Sensory Bottle
Nixon sekarang rewel banget kalau dipakaikan baju sehabis mandi, jadi setiap mau pakai baju jadi drama, hiks! Nah, sensory bottle pas sekali untuk dipegang-pegang Nixon saat sedang dipakaikan baju atau ganti popok, jadi perhatiannya teralih. Yang saya lihat di IG, sensory bottle bisa berisi air, waterbeads, kancing-kancing, glitter, pompom, biji-bijian, bahkan ada yang isinya pasta. Nah, lebih bagus lagi kalau dibuat beberapa botol dengan tema warna yang berbeda-beda.

4. Color Bag
Ini namanya bikin sendiri karena saya enggak tau nama bekennya apa. Permainan ini hanya menggunakan zipper bag, cat air, dan kertas. Cat air dan kertas dimasukkan ke dalam zipper bag. Nah, nanti bayi akan mengusap-usap zipper bag sampai cat airnya meluber dan bercampur aduk. Semacam lukisan abstrak lah hasilnya.

5. Edible Finger Paint
Seperti color bag, permainan sensorik ini juga memperkenalkan warna-warna pada anak, dengan cara yang lebih berantakan karena anak mewarnai dengan tangannya sendiri (no zipper bag!). Nah karena Nixon apa-apa masuk mulut, saya berencana membuat pewarna yang dapat dimakan. Ternyata banyak loh resepnya, tinggal googling! Memang canggih-canggih banget mamak zaman sekarang.

6. Sensory Book/ Mat/ Board
Saya ingin membuat buku yang di dalamnya terdapat berbagai tekstur yang dapat diraba oleh Nixon. Saya dapat ide ini dari salah satu blog mama-mama bule. Sepertinya seru, sih. Hihihi... we'll see!

Lumayan banyak ya yang mau dibikin, semoga mamak enggak sekedar bikin list! *finger crossed* Semoga saya sempat membuat semuanya, membagikannya di blog, dan yang terpenting semoga semuanya bermanfaat buat Nixon. Mari berkreasi mama!

Saturday, February 18, 2017

Updates on Production

Setelah 5 bulan masuk kerja, produksi ASI saya semakin surut. Awal bekerja lagi, saya selalu pulang membawa 3 botol penuh ukuran 200 cc, sekarang saya hampir enggak pernah membawa botol penuh lagi. Walaupun kata ahli per-ASI-an produksi ASI hanya ditentukan oleh frekuensi memompa (supply by demand) tapi bagi saya banyak faktor lain juga yang mempengaruhi,seperti kelelahan, faktor psikologi ibu, dan juga nutrisinya.

Bulan Desember 2016 lalu, saya jatuh sakit untuk pertama kalinya sejak melahirkan. Saya demam 39.6 derajat dan meriang. Takutnya luar biasa, bagaimana kalau saya harus minum obat atau bahkan diopname? Produksi ASI saya saat itu terjun bebas. Saya hanya dapat memompa 90 cc ASI padahal sudah 6 jam tidak menyusui atau memompa. STRES!

Apa yang saya lakukan saat itu? Saya makan nasi setiap 4 jam, minum obat dan suplemen, tidur sepanjang hari kecuali saat menyusui Nixon. Saya juga minum air putih hingga 4 liter untuk mencegah dehidrasi yang bisa juga menyebabkan produksi ASI turun. Puji Tuhan tiga hari kemudian kondisi saya membaik. Produksi ASI pun meningkat lagi walaupun enggak pernah sebanyak saat saya belum sakit.

Akhirnya Nixon pun mulai makan makanan padat, sehingga kebutuhan ASI-nya berkurang, seenggaknya 30 persen. Sekarang Nixon minum ASIP yang disimpan di chiller saja, bukan ASIP beku. Selama saya tinggal kerja, Nixon bisa menghabiskan sekitar 400-450 cc ASIP, sama dengan jumlah ASIP yang saya hasilkan selama di kantor, sehingga otomatis enggak ada lagi tabung menabung ASIP.

Saya harap Nixon bisa lulus S2 ASI, itulah target saya. Saya banyak membaca ibu menyusui yang mengonsumsi ASI booster untuk meningkatkan produksi ASI-nya. Saya pribadi enggak terpikir untuk mengonsumsi booster tertentu. Bagi saya, makan  bergizi, istirahat cukup, mood yang stabil, dan berdoa, sudah cukup. Bila memang ASI saya habis di tengah jalan, berarti itu memang sudah waktunya dan saya enggak akan ngoyo. Toh membesarkan anak enggak hanya sekedar berapa lama kita menyusuinya atau seberapa banyak ASI kita. Masih banyak hal yang harus kita perjuangkan dan ajarkan. Semoga Tuhan melindungi anak-anak ini :)

Tuesday, December 20, 2016

Untuk Para Bunga Negara

Dari semua media sosial yang saya punya, sepertinya blog ini yang paling sedikit dilihat orang, makanya saya bicara di sini tentang uneg-uneg saya, supaya tidak mengundang kontroversi.

Saya sangat terganggu dengan istri-istri anggota TNI, yang dengan sadar ataupun tidak, mengunggah pesan-pesan berbau SARA di media sosial. Bukan karena saya kaum minoritas, tetapi saya sebagai sesama istri prajurit, merasa bahwa pesan-pesan tersebut adalah ancaman internal yang tidak hanya dapat merusak kesatuan TNI tetapi juga NKRI.

Tidak sedikit saya temui istri prajurit yang mengunggah foto-foto dan pesan-pesan di media sosial yang menyudutkan agama dan ras tertentu. Walaupun hati merasa sedikit tertantang, saya memilih untuk tidak bereaksi. Bukan berarti saya merasa bersalah atau terintimidasi, tapi saya tidak mau memperkeruh suasana, menimbulkan debat kusir yang tidak ada ujungnya. Hei, nyawa suami saya lebih penting! Maksudnya?

Lima tahun yang lalu di Magelang, suami saya telah bersumpah untuk menjaga keutuhan NKRI hingga titik darah penghabisan. Saya pun mengalaminya dan menyaksikan suami saya siap sedia, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, demi pekerjaan yang sangat dicintainya. Prinsipnya hanya satu: NKRI harga mati. Lalu di manakah tempatnya untuk saya dapat menyentil sedikit prinsipnya itu, jika itu sama dengan membahayakan nyawa suami saya sendiri? NON-SENSE!

Saya yakin istri anggota TNI adalah perempuan terpilih, bukan perempuan yang asal bicara tanpa berpikir panjang. Di luar apapun agamanya atau apapun rasnya, kita mempunyai tugas yang sama: mendukung suami menjaga keutuhan NKRI. Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, ada baiknya kita telaah dulu apa efeknya terhadap orang lain. Jadi ya ibu-ibu, saya lebih suka melihat unggahan foto-foto selfie yang itu-itu saja, dan foto-foto yang berhubungan dengan perkembangan anak, foto-foto kegiatan Persit di ranting masing-masing, dan unggahan lain yang lebih menyenangkan daripada unggahan SARA-mu itu. Di situasi yang panas saat ini, bukankah seharusnya kita, bunga-bunga negara, yang menjadi penyejuk hati?

Sunday, December 11, 2016

Surat Untuk Nixon S.ASI (Sarjana ASI)

Hari ini, 11 Desember 2016, Nixon genap berusia 6 bulan. Selama 6 bulan ini, Nixon hanya tergantung pada ASI Mami. Yah sesekali Mami tempelin pisang dan pepaya sih ke mulutmu untuk kamu jilat-jilat. Oh iya buah naga juga! 😁

Selama 6 bulan ini, Mami berusaha konsisten memompa ASI sebanyak 3 kali di tempat kerja dan 2 kali di rumah. Tidak setiap hari Mami pulang membawa botol-botol penuh ASIP. Ada kalanya yang dibawa botol setengah penuh, seperempat penuh, bahkan botol kosong. Tapi itu tidak memudarkan semangat Mami untuk memberikan yang terbaik buat Nixon. Mami percaya Tuhan pasti cukupkan kebutuhanmu, Bang. Mami juga bersyukur karena Mami mendapat banyak dukungan dari Papimu yang sedang berdinas di perbatasan, Opung, saudara-saudara, dan teman-teman Mami.

Nixon sayang, Mami juga bersyukur Tuhan memakaimu sebagai saluran berkat. Nixon sudah membantu teman dan saudara Nixon dengan mendonorkan ASIP Mami. Kamu punya saudara-saudara sepersusuan, Bang. Lucu ya!

Nah, usia 6 bulan tandanya lampu hijau untuk MPASI. Mami semangat sekali, Bang, mau menyuapimu makan. Mami harap kamu menyenangi pengalaman makanmu, sama seperti Papi Mamimu yang hobi makan. Hahaha... Sehat-sehat terus dan makan yang lahap ya, Bang!

Dalamnya laut tidak melebihi dalamnya kasihku padamu.

Peluk hangat,
Mami

Wednesday, September 21, 2016

Setengah Jalan Menuju S1

Tanpa terasa, cuti melahirkan saya berakhir tanggal 6 September 2016 yang lalu. Tiga bulan ternyata enggak terasa ya kalau dihabiskan untuk mengurus si kecil? Dan seperti ibu pekerja lainnya, datanglah kegalauan menjelang mulai bekerja. Ninggalin rumah selama 12 jam untuk pertama kalinya tanpa Nixon berhasil membuat mata saya berkaca-kaca di mobil dalam perjalanan menuju tempat kerja (gengsi nangis di rumah, pasti diledekkin opungnya Nixon... Zzz...)

Walaupun saya harus bekerja, saya bertekad Nixon harus lulus ASI eksklusif. Enggak muluk-muluk, minimal 6 bulan saja sampai dia mulai makan makanan padat. Kalau bisa sampai 2 tahun, itu bonus buat dia. ASI eksklusif selama 6 bulan seperti yang dianjurkan oleh WHO (World Health Organization) penting banget untuk perkembangan otak bayi, daya tahan, dan juga ternyata social skill bayi. Untuk ibu, ASI juga bermanfaat sebagai kontrasepsi alami (jadi enggak hamil lagi untuk sementara waktu), bahkan bisa membantu menurunkan berat badan pasca melahirkan (saya setuju banget yang ini!)

Nah, awal-awal setelah melahirkan, enggak ada masalah sama sekali dengan produksi ASI saya. Bahkan 2 minggu sebelum Nixon lahir, saya sudah memproduksi kolostrum, si cairan kuning pekat yang hanya dihasilkan selama beberapa hari setelah melahirkan. Sepulang dari rumah sakit, payudara saya juga sempat bengkak karena produksi ASI cukup banyak sementara Nixon baru minum sedikit sekali (lambung bayi baru lahir hanya sebesar kelereng). Akhirnya, berdasarkan saran dari teman baik saya, saya mulai memompa ASI. Saya menggunakan pompa manual merk Pigeon. Pertama kali saya memompa, kolostrum yang dihasilkan hanya sekitar 20cc. Ternyata karena payudara saya terlalu bengkak, kolostrum justru sulit dipompa. Saya sempat menangis waktu itu, karena nyeri dan karena takut saya mengalami mastitis (infeksi di kelenjar susu). Setelah berkonsultasi dengan teman-teman, akhirnya saya mulai mengompres payudara dengan air hangat dan dingin bergantian. Ajaib, setelah dikompres kolostrum saya mulai mengalir deras ketika dipompa. Saya berhasil mengeluarkan sekitar 60 ml kolostrum dari masing-masing payudara.

Masalah lain pada saat awal saya menyusui adalah puting lecet. Menurut yang saya baca, puting lecet disebabkan oleh perlekatan (latch-on) yang tidak baik antara mulut bayi dan payudara ibu. Bisa jadi hanya puting ibu yang masuk ke dalam mulut bayi, padahal seharusnya puting dan sebagian besar areola (lingkaran gelap yang mengelilingi puting). Saya pun mengalami hal itu (hiks!). Ya walaupun saya dokter dan sudah paham tentang perlekatan yang benar, tapi dalam prakteknya susah juga yah :( Minggu pertama saya menyusui Nixon, saya sangat kesakitan karena puting saya lecet-lecet. Rasanya jangan ditanya. Ngilu sampai kaki tiap kali menyusui, bahkan kadang saya sampai menggigit kerah baju saya untuk menahan sakit saat menyusui.

Melewati bulan pertama, saya mulai merasa nyaman saat menyusui Nixon, produksi ASI pun lancar jaya. Sambil menyusui, saya masih bisa menabung ASI perah (ASIP) sebanyak 300-400 ml per hari. ASIP dapat bertahan kualitasnya selama 6 bulan apabila dibekukan di freezer khusus ASIP/ freezer kulkas 2 pintu. Penting banget bagi ibu pekerja untuk menabung ASIP selama cuti melahirkan, untuk antisipasi produksi ASI berkurang setelah bekerja. Dan memang benar, saya merasa produksi ASI saya menurun semenjak masuk kerja (padahal baru 2 minggu kerja!)

Dengan jam kerja saya yang 9 jam per hari, saya harusnya dapat memompa ASI sebanyak 3 kali. Namun karena jam kerja saya berbeda-beda setiap harinya, maka jadwal memompa saya di tempat kerja pun tidak teratur. Dengan memompa 3 kali selama di tempat kerja, saya dapat membawa pulang ASIP sekitar 400-500 ml. Namun ini masih kurang, karena Nixon minum sekitar 5 kali selama saya tinggal dan volume susu yang dia minum 120 ml,  jadi selama saya tinggal dia menghabiskan sekitar 600 ml ASIP. Nah, makanya saya harus memompa 1-2 kali lagi di rumah agar tidak defisit. Biasanya saya memompa malam sebelum tidur dan pagi sebelum berangkat kerja. Beberapa sumber bilang kalau memompa paling efektif itu di pagi-pagi buta, tapi saya enggak kuat! *bendera putih

Puji Tuhan sampai sekarang tabungan ASIP beku belum pernah saya pakai dan tersimpan aman di freezer dan Nixon minum ASIP yang diperah sehari/ dua hari sebelumnya yang hanya saya simpan di chiller. Harapan saya sih Nixon enggak perlu minum ASIP beku, jadi tabungan saya itu bisa didonorkan untuk bayi-bayi lain yang memerlukan. Kan seneng kalau bisa jadi saluran berkat untuk orang lain.Hehehe...Semangat ya untuk semua ibu pekerja!

Tabungannya Nixon

Monday, July 11, 2016

Dear Son

June 11th, 2016

Our dear Paulus Nixon Hutajulu,

It was exactly 1 month ago when Mami gave birth to you. Since then, you have changed our whole world.

You are a great gift from God. Such an amazing grace to be your warm nest for 38 weeks and to be your parents for as long as we live. Our prayer is that you will grow healthily, be a child of light, and glorify God with everything you do.

We love you, Son.

Monday, May 30, 2016

Perenungan Bulan Terakhir

30 Mei 2016

Enggak terasa kehamilan saya udah masuk minggu ke-37. Beberapa minggu lagi saya bisa bertemu langsung dengan sosok yang selama 9 bulan ini menyertai saya di manapun, menendang perut saya, dan membawa perubahan besar pada diri saya, fisik dan mental.

Banyak teman yang bilang hamil itu menyenangkan karena kamu merasa seperti ratu, semua keinginan dituruti, kemana-mana diantar, dan diberi perhatian lebih oleh keluarga. Hal itu enggak berlaku buat saya. Maksud saya, hamil itu sendiri sudah menyenangkan, di luar semua keuntungan tambahan yang didapatkan oleh ibu hamil.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, menjadi seorang istri prajurit membutuhkan keikhlasan. Dalam masa kehamilan ini, agak sulit buat saya untuk melaksanakan pesan tersebut. Walaupun saya menyadari bahwa tugas suami lebih penting daripada keluarga, namun ada kalanya situasi membuat saya sulit untuk menelan fakta tersebut.

Dengan situasi tinggal seorang diri di rumah dinas, tidak jarang sayang merasa kesulitan menjalani kehamilan ini. Di satu pagi kaki saya keram dan tidak ada suami yang bisa membantu meluruskannya, di malam lainnya saya mengalami demam dan tidak ada suami yang bisa memberi saya obat dan mengompres dahi saya. Beberapa kali saya bercerita ke suami tentang semua keluh kesah saya, berharap ia dapat menyempatkan diri untuk menemui saya dan calon anaknya. Dan ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, saya pun kecewa dan sedih.

Namun Tuhan masih begitu baik pada saya, Ia membuka mata saya dan menyadarkan saya betapa suami saya senantiasa berusaha meringankan beban saya dari kejauhan. Seminggu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi suami saya di batalyon tempatnya bertugas. Saya melihat langsung tempat tinggalnya, tempat ia bekerja, makanan yang ia makan sehari-hari, dan orang-orang yang bergaul dengannya sehari-hari. Tempat tidur yang keras, makanan yang sederhana dan fasilitas seadanya, itulah yang ia dapatkan setiap hari. Tapi semua itu tidak pernah ia keluhkan, setiap kali kami berkomunikasi via telepon seluler. Saya tahu dan sadar, di luar kebersahajaannya sebagai seorang prajurit, ia tidak mau membuat saya khawatir. Betapa suami saya telah mengurangi beban saya dari kejauhan!

Terima kasih suamiku yang telah menjadi sistem pendukung terbaikku. Semoga kita bisa selalu saling menopang, mendorong, dan menjaga. God bless your kind heart.

Monday, April 4, 2016

Menjadi Istri Prajurit

Mungkin banyak orang bilang menjadi istri prajurit itu keren, tapi saya yakin enggak akan ada yang bilang menjadi istri prajurit itu gampang. Ketika saya memutuskan untuk menikah dengan seorang prajurit, ketika itu juga saya menyatakan ikhlas untuk menanggung semua risikonya.

Saya harus ikhlas ketika suami saya harus pergi bertugas ke luar kota (atau keluar negeri) selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Saya harus ikhlas ketika banyak momen penting dalam keluarga yang harus saya jalani sendiri; ulang tahun, ulang tahun pernikahan, bahkan... kelahiran anak.

Saya harus ikhlas ketika saya harus melakukan segala sesuatu sendiri; bekerja, mengurus rumah, bersosialisasi dengan keluarga besar, dan berorganisasi.

Saya harus ikhlas ketika saya harus menggantikan peran suami saya dalam keluarga; sebagai bapak, sebagai abang, sebagai anak, dan sebagai sahabat.

Menjadi istri prajurit adalah tantangan yang besar dan membutuhkan kerja keras. Dulu, tidak pernah terpikir oleh saya akan menjalani kehidupan sebagai istri prajurit yang menurut saya kaku dan penuh aturan. Tapi siapa sangka, saat ini saya justru menjadi bagian dari keluarga militer.

Walaupun berat, saya bersyukur dipertemukan dengan suami saya. Tuhan memang memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, bukan inginkan. Saya bersyukur untuk pembelajaran yang saya dapatkan melalui kehidupan saya sebagai istri prajurit. Saya bersyukur untuk suami yang menerima kekurangan saya dan bahkan selalu mendorong saya untuk terus belajar. Dia tidak pernah memaksa saya untuk menjadi istri prajurit yang terbaik, namun penerimaannya itulah yang justru memotivasi saya untuk menjadi lebih baik lagi. Suami saya adalah anugerah Tuhan untuk saya! :)

Untuk para istri prajurit, para perempuan terpilih, semoga kita bisa terus mendampingi dan mendukung suami masing-masing dalam pengabdiannya. Semangat!

Wednesday, February 24, 2016

Baby Wishlist

Sesuai petunjuk aplikasi Babycenter di android saya, akhirnya memasuki bulan kelima saya mulai membuat baby registry. Apa tuh baby registry? Isinya semacam checklist barang-barang keperluan si bayi yang harus saya persiapkan. Excited? TOTALLY! Semua barang yang lucu-lucu rasanya pengen dibeli banget ga sih? Gemesh! 

Tapi ternyata membuat checklist yang sebenar-benarnya itu enggak gampang loh. Saya harus pintar-pintar memilah barang yang memang bakal dibutuhkan si bayi. Karena saya membuat checklist sambil browsing online shop khusus keperluan bayi (siapa yang tahan liat sepatu minyi-minyi dan slaber model tuxedo imut dan stroller sophisticated yang kayaknya bakal keren dibawa ke mall?), alhasil checklist berjalan maju mundur cantik. Oke, cara seperti ini enggak efektif. Huhuhu.... Akhirnya saya pun minta pencerahan dari para pendahulu, yaitu mama-mama Batak muda  yang sudah duluan melahirkan (member grup Pernikahan Adat Batak 2015-red) dan itu membantu bangat sis! Dalam 2 hari checklist selesai dan saya mulai mencari-cari sasaran kemana akan membeli semua barang-barang itu. 

Memang sih, belanjanya masih 2 bulan lagi, tapi enggak ada salahnya kita udah punya bayangan mau beli apa saja dan di mana karena hal ini berkaitan dengan budget. Yap, saya yakin semua setuju kalau biaya yang dibutuhkan untuk keperluan seorang bayi itu BESAR. Jadi ada baiknya kita merencanakannya sejak jauh-jauh hari, kan?

Nah, selain hasil belanja sendiri, seringkali ibu baru mendapatkan hadiah dari teman dekat dan keluarga. Ini dia yang saya suka! Hohoho... Walaupun blog ini enggak tenar-tenar banget dan sedikit yang baca, tapi semoga ada yang tergerak menyumbang keperluan si Abang. *mata berkaca-kaca*

So here goes my wishlist:
1. Stroller
Sesuai pesan para emak, beli stroller enggak usah yang mahal-mahal, karena begitu si bayi bisa berjalan, dia enggak akan betah lagi di stroller. Jadi sejauh ini naksirnya sama CocoLatte yang New Life. Walaupun dibilang tembakannya Aprica Karoon yang mahal itu, saya sih yakin kualitasnya juga enggak kalah, ditambah lagi bobotnya yang enteng banget. Pengennya sih antara warna hijau atau biru supaya agak boyish. Hehehe...

2. Baby Carrier/ Baby Sling
Naksir banget sama baby carrier merk Ergo Baby tipe 360, tapi kok harganya melebihi harga stroller ya? Hahaha syedih! Carrier kayaknya penting sih kalau lagi males bawa stroller atau si bayi ngamuk di stroller. Ada juga yang disebut sebagai baby sling, bedanya dengan carrier adalah cara memakainya. Kalau baby carrier dibawa seperti membawa tas ransel (2 bahu), baby sling dibawa dengan cara menyelempang (1 bahu). Yang mana saja sama bermanfaatnya, kok!

3. Diaper Bag
Syok banget pertama kali lihat harga diaper bag yang saya taksir yaitu merk Storksak, harganya di atas sejuta dong! Maafin Mama ya Nak, kalau segitu mending Mama beli tas cantik buat jalan-jalan. Hahaha... Akhirnya hati beralih ke Babymel. Dari penampakkan sih sesuai dengan yang saya mau, motifnya enggak kekanak-kanakkan dan kapasitasnya besar. Harganya juga lumayan jauh di bawah pilihan pertama saya.

4. Breast Pump
Semua working mama pasti punya breast pump. Ya dong, sesibuk apapun berkarir, anak harus tetap dapat nutrisi terbaik. Solusinya cuma satu: ASI Perah (ASIP). Nah, memerah ASI bisa manual (dengan tangan) atau menggunakan pompa. Ehm, kalau pakai tangan selain pegal tentu perlu waktu yang lebih lama, makanya pompa jadi pilihan utama. Berdasarkan hasil survey, banyak yang pakai pompa Medela electric Swing, tapi kok ya harganya kurang manusiawi, hiks! Akhirnya pilihan kedua jatuh ke Unimom Allegro yang juga mendapat review bagus dengan harga lebih bersahabat.

5. Sterilizer
Memang zaman sudah canggih yah, kalau dulu Mama saya mensterilkan botol dengan cara direbus, sekarang sudah ada alat khusus mensterilkan botol dan peralatan bayi. Saya enggak punya preference tertentu soal si sterilizer, karena memang botol bayi enggak perlu 100% steril kok. Sejauh ini ada beberapa merk sterilizer yang saya lihat; Philips, Tommee Tippee, dr. Brown's, Babysafe, Babymoov, dan sebagainya.

6. Bottle Warmer
Sama seperti sterilizer, bottle warmer adalah versi ringkas dari menghangatkan susu menggunakan air panas. Untuk yang satu ini sih saya enggak kepingin banget, tapi kalau ada yang berkenan memberi juga enggak akan ditolak. Hohoho... Merk bottle warmer kurang lebih sama dengan sterilizer.

7. Baby Bouncer
Baby bouncer itu tempat duduk untuk bayi, yang biasanya dilengkapi fitur getar, ayun, dan sebagainya. Fungsinya sih supaya bayi enggak harus digendong terus atau tiduran terus. Selain itu juga bisa membantu menenangkan bayi saat akan diberi makan atau berjemur di pagi hari. Nah, survey saya masih minim nih untuk alat satu ini, jadi merk apa saja boleh deh :)

8. Car Seat
Kata Bapak saya, di luar negeri, car seat itu wajib dimiliki oleh keluarga yang punya bayi atau balita. Car seat jelas menjaga keamanan bayi yang ikut berkendara, karena menghindari benturan dan cedera saat mobil berhenti mendadak atau tertabrak. Selain itu juga bayi tidak akan berjalan-jalan dan mengganggu pengemudi mobil. Saya naksir banget car seat merk Elle yang dijual di Bilna.com karena motif hewannya yang lucu-lucu. Hihihi...

9. Popok Sekali Pakai
Walau idealnya bayi itu menggunakan popok kain, tapi sepertinya sulit untuk menjadi ideal di saat kita harus bekerja dan mengasuh anak. Disposible pampers/ popok sekali pakai memang solusi praktis untuk mengurangi waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencuci popok kain. Secara bayi baru lahir akan sering pipis, maka saya membutuhkan (sangat) banyak popok sekali pakai. Jangan ragu untuk memghadiahi saya popok ya! That will help me a lot! Untuk merk, sepenelitian saya merk Pampers masih yang paling bagus, tapi dikasih merk apapun pasti saya terima kok, asal size-nya yang new born yaa...

10. Prayers
Sebanyak-banyaknya saya berencana dan membuat wishlist, akan sia-sia kalau si bayi tidak baik-baik saja. Makanya, bagi saya yang terpenting adalah doa dari teman dan keluarga, agar janin dalam perut saya tumbuh sehat dan normal. Saya ingin sekali melahirkan secara normal, sama seperti ibu dan mertua saya. Doakan yaa teman-teman! Untuk para calon ibu yang juga sedang menanti kelahiran buah hati, saya doakan supaya sehat selalu, begitu pulan calon anaknya. Stay positive! :)

Oh, iya, untuk yang membutuhkan checklist silakan kasih email di comment ya :)

Good day good people!

Sunday, February 7, 2016

First Time Meeting dr. Bambang Karsono, SpOG(K)

Sejak satu hari setelah pernikahan saya, Mama saya sangat yakin saya bakal cepet hamil. Alasannya, satu hari setelah hari pernikahan saya, Mama saya mimpi mendapat kalung berlian. Dia yakin saya akan segera punya anak perempuan, karena mimpinya sama seperti ketika dia mengandung saya.
Akhirnya ketika saya benar-benar hamil, which is puji Tuhan beneran cepet, saya dan suami pun berharap diberi anak perempuan. Alasan pertama, feeling Mama saya itu kuat dan mimpinya seringkali jitu. Alasan kedua, karena suami tidak punya adik perempuan dan keponakan saya pun laki-laki semua. Jadilah kami berangan-angan bahwa si dedek akan berjenis kelamin perempuan dan bahkan menyiapkan nama untuknya.

Sejak awal mendapat testpack positif, saya kontrol kehamilan tiap bulan ke dokter spesialis obgyn yang praktek di tempat saya bekerja, yaitu dr. Novan S. Pamungkas, SpOG. Lumayanlah konsultasi dan USG 3D gratis. Hihihi... Tapi sayangnya saya tidak bisa melahirkan di tempat kerja karena ketiadaan ruang rawat inap. Mau enggak mau saya harus mencari rumah sakit untuk tempat melahirkan nanti. Begitu tahu dr. Novan praktek juga di Brawijaya Women and Children Hospital serta di RSAB Harapan Kita, pupuslah harapan saya karena kedua tempat itu jauh sekali dari rumah Mama saya.

Saya pun baru mulai serius hunting dokter ketika kehamilan saya mencapai usia 20 minggu. Sesuai saran sahabat saya yang bekerja di rumah sakit ibu dan anak, saya harus USG fetomaternal sama the legendary dr. Bambang Karsono, SpOG(K). Katanya dialah ahli USG 4D paling kondang se-Jakarta. Saking niatnya saya booking untuk USG sejak si dedek baru 12 minggu. Hohoho... Nah, kebetulannya lagi dr. Bambang prakteknya di YPK Mandiri, which is tempat saya dilahirkan dulu. Saya pikir-pikir, yoweslah, sekalian saya juga survey siapa tau potensial jadi tempat melahirkan.

Singkat cerita, akhirnya Jumat 5 Februari 2016 saya datang ke YPK Mandiri, Menteng, bersama suami dan Mama. Kesan pertama, parkiran susah. Yup, ternyata rumah sakit terkenal ini enggak sebesar yang saya kira, apalagi parkirannya. Banyak sekali mobil pasien dan pengunjung yang harus parkir di pinggir jalan sepanjang Jl. Theresia, Menteng. Saya cuma mikir kalau teman-teman mau jenguk nanti males juga ya, nyari parkirnya. Lanjut ketika masuk lobby, meja registrasi langsung berada di drpan pintu masuk. Saya langsung saja memberi tahu bahwa saya sudah bikin perjanjian dengan dr. Bambang, mbak registrasi pun langsung memberi kertas berisi nomor antrian. Saya dapat nomor 7.

Kami bertiga pun menunggu di depan ruang praktek dr. Bambang. Di sisi depan poliklinik terdapat nurse station, dan saya melihat beberapa bumil mengantri untul ditimbang dan diperiksa tekanan darahnya. Saya pun menghampiri perawat di nurse station untuk mengantri, namun perawat di nurse station memberi tahu saya: "Kalau pasien dr. Bambang enggak perlu dicek di sini, Bu" Hmh? Oh, OK. Mungkin nanti dicek sama perawat asisten dr. Bambang, pikir saya. Akhirnya saya bertemu dengan dr. Bambang jam 7 malam (janjinya jam 5.30). It's not a big deal, menurut saya. Sebagai sesama penyedia pelayanan medis, saya sangat mengerti kalau dokter obgyn sering terlambat hadir di poliklinik. Yaiyalah, mana ada proses persalinan yang bisa diatur harus selesai dalam sekian jam. Ya enggak?

Physically, sesuai hasil googling saya *grin*, dr. Bambang terlihat seperti ompung-ompung baik hati. Ga terlalu tinggi, ga terlalu gemuk, berambut putih, dan ketawanya khas seperti terkekeh gitu. Saya langsung diminta untuk berbaring di bed pasien dan beliau segera memeriksa kandungan saya. Ternyata enggak ada tuh ditimbang dan diukur tekanan darah oleh peraway pribadi dr. Bambang. Hmm, agak mengecewakan sih, tapi mungkin karena banyak bumil yang datang ke dr. Bambang memang hanya untuk USG fetomaternal saja dan bukan kontrol rutin, jadilah penilaian BB dan tekanan darah kurang bermakna.

Awalnya dr. Bambang menunjukkan janin saya secara keseluruhan, si dedek lagi menendang-nendang kakinya, wajahnya menempel ke plasenta. Okelah, sepertinya memang templatenya beliau untuk memulai USG dengan menonton si dedek show. Barulah kemudian dr. Bambang meneliti satu persatu bagian tubuh dedek. Dimulai dr bagain tubuh atas, tengah, dan bawah. Dari tubuh bagian atas, beliau memperlihatkan otak, lensa mata, hidung, mulut, telinga, dan bibir. Awalnya dedek masih mau memperlihatkan mukanya yang supermini, tapi ketika saya bilang: "wah, hidungnya besar!" entah kenapa dia langsung menyilangkan kedua tangan di depan wajah. Kata dr. Bambang bayinya ngambek. Hahaha... Maaf ya dek!

Lanjut ke tubuh bagian tengah, dr. Bambang menunjukkan jantung, paru, lambung, dan yang pasti ditunggu-tunggu: jenis kelamin.

"Udah tau belum jenis kelaminnya?" beliau bertanya. Kami bertiga pun menggeleng.

"Mau tau apa enggak usah?"

Mama dengan cepat menyahut, "Ya, mau dong,Dok!"

Dokter pun langsung mengarahkan kursor ke selangkangan dedek, "Tuh, ada monasnya, itu skrotumnya."

Ho, laki-laki? Pertanyaan saya berikutnya, "Itu udah fixed laki-laki, Dok?"

Beliau hanya menggerakan probe USG, mencoba menunjukkan dengan lebih jelas si monas kepada saya, "Iya, nih. Laki-laki bayinya."

Ohh..oke deh. Halo, Bang!!! Hihihi...Saya, Mama, dan suami agak tercengang karena selama ini semua orang yang melihat saya yakin kalau anak saya perempuan. Tapi enggak masalah, laki-laki dan perempuan sama saja, yang penting sehat dan baik ya, Bang :)

Dr. Bambang juga menjelaskan bahwa plasenta letaknya baik, tidak menutupi jalan lahir, jadi kemungkinan melahirkan normal terbuka lebar. OKEH! Ketuban pun jernih dan jumlahnya cukup. Setelah puas melihat semua organ si dedek, saya pun berharap akan ada sesi tanya panjang lebar dengan dr. Bambang. Tapi ternyata saya hanya sempat bertanya sedikit. Saya agak khawatir tentang Hb saya yang mulai turun, yaitu 11 g/ dL. Dokter hanya berpesan untuk memeriksakan Hb lagi saat usia kehamilan masuk 7 bulan. 

Saya pun bertanya tentang metode persalinan dengan ILA. Dr. Bambang dengan tegas menjawab, "Udah, enggak usah macem-macem, yang normal aja. Lagipula ILA kan ada efek sampingnya, bisa sakit kepala kronik kamu." *langsung down* Okelah, emang niat hati mau melahirkan normal walaupun horor.

Selesai tanya jawab, saya diminta untuk membereskan administrasi sembari menunggu hasil USG. Saya agak kaget saat membayar biaya USG, karena harganya hanya separuh dari harga yang sebelumnya disebutkan oleh bagian registrasi saat saya pertama kali booking. Ketika perawat dr. Bambang memberikan hasil USG berupa foto dan CD, saya iseng bertanya kenapa harga USG-nya berubah. Si perawat tersenyum sembari menepuk lengan saya, "Kalau sama sejawat enggak kena biaya konsul. Dok." Otomatis saya langsung senyum lebar dari kuping ke kuping. Seorang dokter spesialis yang sudah tersohor dan senior ternyata masih ingat untuk tidak mengambil keuntungan dari sejawatnya...Huhuhu *terharu*. Akhirnya saya pulang ke rumah dengan Mama dan suami dengan pesan dari dr. Bambang untuk USG ulang 12 minggu lagi. Oke, Dok!

Sekian pengalaman saya bertemu dr. Bambang Karsono, SpOG(K), memang enggak lebay kalau dibilang dia ahli USG, karena memang dia memeriksa dengan sangat detail. Tapi untuk tempat melahirkan, tampaknya saya masih pikir-pikir dan harus hunting lagi. Ada rekomendasi? :D

Oiya, saya sempat memfoto estimasi biaya persalinan di YPK Mandiri per Desember 2015:

Sectio Caesarea
VVIP               : Rp 35.250.000,00
VIP                  : Rp 30.150.000,00
Kelas I Utama : Rp 27.550.000,00
Kelas I             : Rp 23.300.000,00
Kelas II            : Rp 19.700.000,00
Kelas III          : Rp 17.750.000,00

Partus Normal
VVIP               : Rp 22.200.000,00
VIP                  : Rp 18.600.000,00
Kelas I Utama : Rp 16.350.000,00
Kelas I             : Rp 13.950.000,00
Kelas II            : Rp 12.250.000,00
Kelas III          : Rp 10.650.000,00

NB: itu masih estimasi loh, jadi masih biasa bertambah kalau ada biaya obat-obatan lain dan sebagainya. Hope it helps!

Thursday, December 31, 2015

Christmas 2015

Setelah drama tanggal 24 Desember berakhir dan saya sudah mengisi ulang tenaga di malam harinya, tibalah Hari Natal yang ditunggu-tunggu! Hohoho... Natal pertama saya sebagai istri, menantu, dan kakak ipar! *yeay*

Saya bersama keluarga Hutajulu mengikuti ibadah Natal di HKBP Cimahi jam 11 pagi. Nanggung banget yah pas sebentar lagi jam makan siang. Huhuhu... Untuk antisipasi kelaparan di tengah ibadah, saya sudah membawa beberapa kue kering dan susu kotak.

Kostum Natal tahun ini tidak ada yang istimewa. Semenjak menikah memang suami memberi mandat bahwa kostum kami harus senada setiap ke gereja, sama seperti kedua mertua saya. Oh, okay kayaknya batik gampang disesuaikan, angan saya.
Pinkish in-Laws + Reddish Us + Yellow Bro in Law
Sempet-sempetnya foto sama Pendeta!

Ternyata seminggu sebelum Natal, suami mendapat hadiah Natal kemeja merah dari mama saya (jangan tanya saya dapat atau nggak. Hiks!). Akhirnya saya pun membawa gaun merah lama saya untuk menyesuaikan warna kemeja suami.

Sepulang dari ibadah, kami makan siang bersama di rumah mertua, mengobrol, lalu tidur siang. Sorenya suami mengajak saya berkunjung ke rumah komandannya di Gumil. Kebetulan komandan suami juga seorang Nasrani, maka berangkatlah kami ke rumah beliau untuk ber-Natal bersama.

Saya agak heboh sebelum berangkat ke rumah komandan suami, khawatir kesan pertama saya jelek di mata komandan (apalagi bu komandan. Glek!). Rok saya kependekkan nggak? Serius enggak apa-apa digerai rambutnya? Dan seterusnya saya meracau di jalan menuju rumah komandan suami. Ehh... Puji Tuhan ternyata komandan suami beserta istri sangat santai. Mereka sangat menyenangkan dan suka bercanda. Sebelum kami, sudah ada beberapa senior abang yang juga datang untuk mengucapkan selamat Natal. Akhirnya kami makan-minum dan mengobrol sampai jam 9 malam. Kami pun pamit pulang karena besok pagi harus berangkat pagi-pagi sekali ke Jakarta. My best friend is getting married! Wohoo...
Ber-Natal bersama rekan kerja suami :)

To make it short, it's not bad at all to celebrate Christmas with the in-laws. Justru Natal kali ini terasa berbeda karena saya bisa mengenal keluarga dan rekan-rekan kerja suami lebih jauh. Hehehe. After all, Christmas is not about the festivities, right? It is about caring and sharing with the closest persons in your life.

Merry Christmas all! God bless you!