![]() |
| Pinkish in-Laws + Reddish Us + Yellow Bro in Law |
![]() |
| Sempet-sempetnya foto sama Pendeta! |
![]() |
| Ber-Natal bersama rekan kerja suami :) |
Merry Christmas all! God bless you!
![]() |
| Pinkish in-Laws + Reddish Us + Yellow Bro in Law |
![]() |
| Sempet-sempetnya foto sama Pendeta! |
![]() |
| Ber-Natal bersama rekan kerja suami :) |
![]() |
| Me with the make up artist...cucok kan? |
Ola! Mrs. Hutajulu's here! 😂
Yayaya.. akhirnya saya menikah!
How does it feel? Orang tua pasti akan bilang, bulan pertama pasti terasa indah kan? Hehehe.. Ya, bener sih. Tapi rasanya "baru" lebih tepat menggambarkannya. Saya merasa "baru".
Well, let's keep it as secret now, karena bukan itu topik postingan saya kali ini. Saya mau berbagi tentang pengalaman saya menjalani proses "Partumpolon/ Ikat Janji Pernikahan" dan Martonggo Raja. Nia, kenapa baru sekarang posting soal Martumpol? Basi kali! Hehehe.. Mungkin ada yang berpikir seperti itu ya? Yah, saya baru punya kesempatan sekarang dan saya ingin mengabadikan momentum ini untuk orang-orang yang akan membacanya kelak; para calon pengantin, peminat budaya Batak, dan calon-calon anak saya... 😊
Sebenarnya, tidak semua orang menjalani proses ini. Awalnya, tradisi ini dilaksanakan oleh jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) sebagai upaya untuk meneliti kesiapan hati calon pengantin dan menyelidiki adanya hal-hal yang mungkin menghalangi proses pernikahan. Memang telah terjadi pergeseran dari makna Partumpolon itu sendiri. Dahulu, Partumpolon diadakan secara sederhana, hanya dihadiri oleh calon pengantin, orang tua calon pengantin, penatua, dan pendeta. Namun, saat ini Partumpolon diadakan sebagai acara akbar dan melibatkan banyak orang.
Hal yang sama terjadi pada Acara Partumpolon saya. Acara sakral itu berlangsung pada tanggal 8 Agustus 2015 di Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading. Begitu banyak orang yang hadir, hingga memenuhi lantai 1 dan lantai 2 gereja. Aku mengambil tema nuansa "mint green". Mulai dari kebaya saya, cat kuku saya, kemeja abang, hingga sampul buku acara, semua bernuansakan warna "mint green".
Jujur saja, saya merasa lebih tegang saat Acara Partumpolon. Entah kenapa, jantung saya berdegup kencang saat prosesi masuk gereja hendak dimulai. Rasanya kaki saya lemas dan perut saya terkocok saat saya melangkah masuk ke dalam gereja bersama abang. Mungkin karena pandangan para teman dan keluarga yang memandangi kami berdua, mungkin juga karena saya harus menggunakan sendal tinggi yang tidak pernah saya pakai. Hahaha...
Singkat kata, karena kebaikan Tuhan, Acara Partumpolon berjalan lancar. Sempat terjadi mati lampu di awal acara selama kurang lebih 3 menit, tapi puji Tuhan semua teratasi dengan baik. Pada inti Acara Partumpolon, saya dan abang menyatakan kesungguhan hati kami untuk membangun pernikahan Kristen, kami juga menyatakan bahwa kami tidak terlibat hubungan perkawinan dengan siapapun, dan menyatakan kasih kami satu sama lain dalam bentuk tukar cincin. Saya ingat cincin abang mendadak terlalu kecil sehingga dia membantu saya untuk memasangkan cincin bertuliskan "NIA" itu di jarinya. Hihihi...
Seusai Partumpolon, acara dilanjutkan dengan makan sore bersama kemudian Martonggo Raja. Martonggo Raja adalah istilah untuk pihak yang marhobas di Pesta Unjuk/ Ulaon Na Gok karena semenjak Marhori-Hori Dinding sudah disepakati bahwa Pesta Untuk ini menganut Alap Jual (pesta diadakan oleh keluarga pengantin perempuan). Sementara itu, pihak pengantin laki-laki (yang tidak mengadakan pesta) mengadakan acara Maria Raja. Untuk efektivitas, acara Martonggo Raja dan Maria Raja dilaksanakan di Ruang Serbaguna Gereja HKBP Immanuel Kelapa Gading.
Inti dari acara Martonggo Raja dan Maria Raja adalah koordinasi akhir dalam keluarga. Dalam acara itu Raja Parhata menjelaskan runtutan acara Pesta Unjuk agar keluarga mengetahui di mana mengambil peran. Memang pesta pernikahan Batak adalah benar-benar acara keluarga. Semua saudara pasti terlibat ambil bagian dalam Pesta Unjuk. Saya sendiri tidak banyak terlibat dalam perbincangan ini, karena lebih banyak berfoto bersama abang dengan fotografer Mas Micko dari Mitra Photo.
Pengalaman saya, rasa stress, tegang, dan sensitif lebih banyak berkurang setelah Acara Partumpolon. Saya lebih tenang menghadapi pernikahan, dan merasa yakin bahwa abang adalah pria terbaik untuk menjadi partner saya mengarungi biduk rumah tangga. Untuk para calon pengantin yang masih mempersiapkan diri menghadapi Partumpolon, jangan lupa untuk berdoa ya. Berdoalah yang sungguh-sungguh, minta Tuhan campur tangan dalam acaramu. Selain itu jaga kesehatan dengan makan seimbang, istirahat cukup, dan minum air putih yang banyak. Untuk hari H, bawa barang seperlunya saja, seperti uang persembahan, tissue, lipstik, dan emergency things seperti lem kuku (bagi yang menggunakan kuku palsu), plester, dan obat sakit kepala.
Vendors:
Dekor: Toko Bunga Cikini, Cikini
Cincin: Toko Mahkota, Cikini
Kotak cincin: Iris Seserahan, Malang (@irisseserahan)
Buku acara: Family Printing, Rawamangun
Fotografer: Mas Micko (@mitraphoto)
Ola! Long time no post, eh?
Well today I decided to update my blog in the middle of wedding prep craziness. It is 24 days to my wedding day! Just like any other bride-zillas, I'm struggling with my mood swing. I realized that I am getting more sensitive and irritable these days, crankier than ever. Oh well, so much for the intro!
In this post, I am so willing to tell you my experience on the last Sunday before my engagement service (Partumpolon/ Ikat Janji). After the Sunday School Service was dismissed, my fellow teacher asked the children to stay in the class. They were going to practice a song for my engagement service.
Nothing can explain how deeply touched my heart was when I hear the children started to sing the chorus. Not by the innocent faces of the children or by their clear and heavenly voices (although they did contribute the emotional situation). I was moved when I hear these phrases of the song:
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu, agar kami dekat pada-Mu, ya Tuhanku
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu, agar kami dekat pada-Mu
(Teach us Thy language of love, so that we may become to You, our Lord
Teach us Thy language of love, so that we become close to You)
I know it is an old song. Some of us might have known this song since we were just Sunday School students. But today, I just realized the meaning of the song.
Just in a split second, a book crossed my mind. It was a book lent by my colleague few weeks ago. "Sacred Marriage" by Gary Thomas. I was still going through half of the book at that time. This book was really interesting. On the cover of the book, there is a question sentence: "What if God designed marriage to make us holy more than to make us happy?" When I read the question, I thought: "Well, nobody has ever asked me this!"
As I went through the book, I learned the value of a marriage. It is not by superficial reasoning that God called the Israelites His "bride". We all know how self-willed the Israelites were. They turned to gods so many times, most of the times because the didn't get what they asked for from God. Those times were not a happy time for "the Groom". But amazingly, as many times as His bride "betrayed" Him, there are more times that God showed mercy upon the Israelites. Everytime the tribe turned their back on God, God punished them, but then He sent them a helper through prophets and judges to facilitate their repentance. The Old Testaments teached us a lot about God's endless love to His "bride", literally through thick and thin!
God's love is so limitless that He finally sent His only Child, Jesus Christ, to bring salvation to the falling world. Jesus had to die and rise in order to release us from the slavery of sin. God is willing to unite with us. The book of Revelation depicted this union as a wedding, describing the faithful Christian as the "bride". Through the New Testaments, we learn about Christ's perseverance.
You see? Such a deep relationship, deepest even, a marriage means, that God used it to reflect His relationship with us. So, is there any better way to improve our relationship with God than to improve our marriage life? Is there any better way to be a good bride for God than to be a good bride for your spouse? It is very clear that God designed marriage to teach us the way we should love God.
Regarding the title I've put on this post, I am not saying that Christian marriage must be far from happiness. It is just an invitation for us to take a look at marriage from a different perspective. I believe that happiness will come along, but the focus is still on achieving holiness.
I suppose now you understand why I am so touched by the lyrics of the song. Marriage can be a doorway for a closer walk to God, and I really hope that my marriage will be such. For all of my friends who are married, dating, or still waiting for a partner to share God's love, I really recommend you to read the book. May the Lord teach us the language of His love, so we may grow closer to Him.
Hi!
Melanjutkan postingan 2 bulan yang lalu tentang tata cara pernikahan adat Batak, kali ini aku mau membagikan pengalamanku tentang acara Patua Hata dohot Marhusip. Acara ini adalah kelanjutan dari acara Marhori-Hori Dinding. Marhusip artinya adalah berbisik-bisik. Mengapa dinamakan demikian? Karena pada dasarnya acara ini bukan acara adat dengan formasi lengkap, maksudnya Hula-Hula atau keluarga dari mama tidak ikut menghadiri acara.
Pada sejarahnya, Marhusip dilakukan malam hari di rumah calon pengantin perempuan. Namun, saat ini banyak terjadi perubahan dalam pelaksanaannya karena penyesuaian dengan kegiatan lainnya (orang Batak terkenal selalu sibuk berpesta di akhir pekan, bukan?) Acara marhusip dihadiri oleh keluarga pihak paranak, keluarga pihak parboru, dan juga beberapa saksi (biasanya dongan sahuta).
Puji Tuhan aku dan abang sudah menjalani acara Patua Hata dohot Marhusip pada tanggal 4 April 2015. Acara ini dihadiri oleh keluarga Sihombing (keluargaku), keluarga Hutajulu (keluarga abang), dan dongan sahuta. Acara dimulai pada jam 11 pagi dan selesai jam 3 sore. Acara diawali dengan kedua raja parhata (ahli bicara) dari kedua belah pihak yang saling bersahut-sahutan. Setelah itu keluarga pihak pengantin perempuan menyambut kedatangan pihak pengantin laki-laki yang datang membawa makanan. Karena acara Marhusip dibuat pada siang hari, maka rangkaian acaranya dilaksanakan setelah makan siang bersama.
Dalam acara Marhusip ini, setiap hal terkait acara pesta adat/ pesta unjuk dibahas dengan teliti. Setelah pembicaraan selesai, barulah kedua calon mempelai dipersilakan untuk masuk ke ruang pertemuan. Aku diberi nasihat singkat oleh raja parhata keluarga Sihombing dan abang pun demikian. Setelah itu kami menyalami keluarga besar pasangan. Pada saat itu aku menyalami dan memperkenalkan diri kepada keluarga besar Hutajulu dan abang juga melakukan hal yang sama kepada keluarga Sihombing.
Seusai perkenalan, setiap orang yang hadir dalam acara Marhusip mendapat uang ingot-ingot, yaitu sejumlah kecil uang sebagai "pengingat" untuk para keluarga agar terus berpartisipasi dalam proses pernikahan adat dan juga bagi kedua calon mempelai untuk menjaga komitmen masing-masing sampai hari pernikahan tiba. Akhirnya acara pun ditutup dengan doa bersama agar persiapan acara pernikahan berjalan lancar. Amin :)
Hai, apa kabar?
Hari ini aku mau bercerita tentang kejadian menarik yang kualami baru-baru ini. Dua buah episode yang terangkai dalam satu cerita yang memberi suatu pembelajaran bagiku. Ya, manusia memang tidak akan pernah berhenti belajar, bukan?
Cerita ini tidak akan terjadi bila Tuhan tidak menempatkanku di tempat kerja yang baru. Ya, karena tempat kerjaku yang baru terbilang sangat jauh dari rumah dan mengharuskanku melewati jalan tol untuk pulang ke rumah. Di Jakarta, setiap pintu tol mempunyai 2 macam gerbang, yaitu gerbang biasa dan gerbang tol otomatis (GTO). Setelah beberapa hari melewati gerbang tol biasa, aku memperhatikan bahwa antrian mobil di GTO tidak sepanjang antrian di gerbang tol biasa. "Kalau aku punya kartu E-Toll tentu aku dapat memotong waktu perjalananku ke rumah," pikirku. Akhirnya dimulailah sayembara pencarian kartu tersebut. Aku mencari-cari di swalayan dan toko, namun kartu tersebut selalu telah habis terjual, sementara aku tidak punya waktu untuk pergi ke bank karena pekerjaan.
Akhirnya kuurungkan niatku untuk membeli kartu E-Toll. Aku pun pulang ke rumah dengan melewati gerbang biasa seperti sebelumnya. Suatu hari, ada kemacetan parah di pintu tol Cililitan. Ternyata hari itu ada kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Alhasil pergerakan mobil sangat lambat, bahkan aku sempat berhenti selama 10 menit di pintu tol. Saat berhenti itulah, aku menanyakan kepada bapak petugas di gerbang tol, di mana aku dapat membeli kartu E-Toll. "Biasanya ada, Mbak, yang suka jualan di depan pintu tol. Tapi hari ini lagi enggak ada," jawabnya. Mendengar jawaban itu, aku agak sedih. Ternyata sulit sekali untuk mendapatkan kartu itu. Tak lama mobil pun bergerak maju. Kemacetan parah membuat mobilku hanya maju sedikit-sedikit.
Tak lama seseorang mengetuk kaca jendela mobilku. Sebelum menengok sebenarnya aku sempat merasa waswas karena maraknya berita tentang pembegalan akhir-akhir ini. Tapi untungnya, ternyata bapak petugas pintu tol yang menghampiriku. Setelah kubuka jendela mobilku, dia menyodorkan kartu
E-Toll kepadaku. "Ini, Mbak, ambil saja. Saya punya dua kartu," ujarnya. Refleks saya merasa senang sekali mendapat kartu yang sudah kuincar beberapa hari terakhir. Bapak petugas pintu tol bahkan menawarkan untuk mengisikan kartu tersebut agar bisa segera kupakai (di saat-saat seperti itu aku bersyukur untuk kemacetan di Jakarta ini...hahaha).
Singkat cerita, akhirnya aku mempunyai kartu E-Toll itu, dan memang benar, aku bisa menghemat beberapa menit waktu perjalanan pulang ke rumah. Tapi cerita tidak berhenti di situ. Seminggu kemudian, aku melewati pintu tol yang sama, yaitu pintu tol Cililitan. Aku masuk ke gerbang GTO. Saat mengantri, entah kenapa mobil di depanku berhenti sangat lama. Akhirnya seorang bapak keluar dari mobil dan memintaku untuk memundurkan mobil karena dia telah salah memasuki gerbang. Dia tidak memiliki kartu E-Toll.
Namun aku tidak bisa memundurkan mobilku karena antrian mobil di belakangku juga mulai memanjang. Dengan panik, bapak pemilik mobil di depanku minta maaf pada pengendara mobil-mobil di belakangku dan meminta mereka untuk mundur juga. Pengemudi-pengemudi di belakangku tampak kesal dan akhirnya hampir terjadi keributan. Aku pun teringat akan kartu E-Toll pemberian bapak petugas pintu tol.
Satu minggu yang lalu, di pintu tol Cililitan, seorang bapak petugas pintu tol telah memberikanku, orang yang tidak dikenalnya, kartu E-Toll-nya dengan cuma-cuma. Sekarang aku diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan kepada seorang yang tidak kukenal. Di pintu tol yang sama, dengan sebuah kartu yang sama.
Aku pun keluar dari mobil dan memutuskan untuk meminjamkan kartu itu pada bapak pemilik mobil di depanku. Bapak itu tampak sangat lega dan berterima kasih.
Mungkin ini cerita yang sederhana saja, tapi aku belajar sesuatu dari cerita ini. Kita selalu diberi kesempatan untuk melanjutkan perbuatan baik. Aku memutuskan untuk percaya bahwa bapak yang kutolong itu akan melanjutkan perbuatan baik yang diterimanya, sama seperti yang kuterima dari bapak petugas pintu tol.
Nah, perbuatan baik apa yang akan kamu lakukan hari ini?